Minggu, 12 Agustus 2007

gerobak sampah


Darun memang terkenal di desanya. Ia sebetulnya bukan tokoh dan tidak ditokohkan. Dan ia juga bukan orang yang selalu membuat onar sehingga namanya terkenal. Ia Cuma sosok pemuda biasa dan sangat sederhana dalam segala hal, tapi pekerjaannya selaku penarik gerobak sampah membuat ia sosok yang penting. Bahkan boleh dikata tiga puluh persen stabilitas keamanan di desanya ia yang pegang. Apalagi kebersihan dan kesehatan, tidak berlebihan kiranya kalau ada orang bilang ia yang memegang kuncinya.
Dalam pikiran Darun yang sederhana pekerjaannya adalah mulia, oleh karenanya kendati setiap pagi ia harus berputar ke sekeliling kampung dengan gerobak sampahnya ia tidak merasa gengsinya turun. Tapi sudah empat hari ini ia tidak muncul bersama gerobaknya, sampah yang biasanya diambil tiap pagi itu kini kian menumpuk dan baunya mulai menyapa setiap lubang hidung yang normal. Masyarakat sudah saling tanya, ke mana Darun. Tapi semua tidak ada yang tahu, juga ketua RT dan RW-nya. Darun menghilang begitu saja tanpa pamit pada siapa pun, termasuk pada ibunya yang paling ia cintai.
Beberapa orang mencoba menerka-nerka. Dan sebagian lagi mulai menyadari kalau gaji yang diterima oleh Darun sebesar dua belas ribu lima ratus rupiah tiap bulan itu terlalu sedikit.
Pada hari yang kelima penyakit lama mulai kambuh lagi. Ibu-ibu yang tak tahan dengan bau sampah membuang sampahnya di gang buntu dan kontan saja menimbulkan protes dari ibu-ibu yang mendiami gang buntu. Sialnya protes itu disampaikan langsung pada si pembuang, hingga menyebabkan terjadi perang mulut.
Menyadari stabilitas kerukunan mulai terganggu, Sholeh sebagai ketua RW-nya dari kemarin bingung melulu mencoba mencari pengganti Darun. Tapi hasilnya nihil. Tak satupun ada yang bersedia, bahkan beberapa pemuda yang berstatus sebagai penganggur menolak dengan sinis.
Pada hari yang keenam diputuskan oleh ketua RW untuk mengadakan rapat dengan warga dan khusus membicarakan masalah sampah. Kalau perlu masyarakat akan digilir menarik gerobak sampah sebagai pengganti Darun, begitu salah satu alternative ketua RW.
Tapi satu jam sebelum rapat dimulai mendadak Darun muncul di rumah ketua RW.
“Darun, kami sudah pusing memikirkanmu. Ke mana kau selama ini?” tegur ketua RW setelah cukup basa-basi dan mengeluarkan dua cangkir teh terlebih dahulu.
“Cuma istirahat, pak…” jawab Darun santai.
“Kok tidak pamit?” lajut ketua RW.
“Memang saya sengaja, pak, biar tidak ada yang tahu. Dan lagi kalau saya ijin, kan bapak pasti keberatan...”
“Yah, saya maklum. Tapi kuharap kau juga maklum apa akibatnya...”
Darun meminum tehnya.
“Darun, bau sampah sudah mulai mencocok hidung dan berhasil mengundang lalat...”
“Tapi, pak, saya ke sini sekaligus untuk pamit tidak menjadi penarik gerobak sampah lagi...” setelah berkata begitu Darun menunduk.
“Darun, saya maklum. Kau sudah cukup lama mengabdi lewat menarik gerobak sampah, tapi perlu tenggang waktu untuk mencari penggantimu. Dan sebentar lagi ada rapat khusus membicarakan masalah sampah. Kalau kau masih bersedia HR-mu kuusahakan untuk bisa naik...”
“Baiklah, pak. Kalau begitu saya minta untuk diberi kesempatan bicara dalam rapat nanti...” jawab Darun tegas. Dan pak Sholeh sedikit terkejut mendengar usulan ini, karena Darun selama ini tak pernah berbicara dalam rapat. Maklum ia hanya mengenyam bangku sekolah sampai kelas empat SD.
“Baiklah Darun, kau akan kuberi kesempatan yang istimewa dan berbicaralah sepuas-puasmu...”
*
Rapat ini rupanya sangat menarik. Kurang seperempat jam rapat dimulai balai RW sudah tampak penuh, hanya beberapa kursi saja yang masih kosong, sedang biasanya pakai jam karet, pasti molor.
Kebanyakan fokus pembicaraan mereka dalam menunggu rapat dimulai hanya tertuju pada sampah. Dan ketika Darun memasuki balai RW semua mata tertuju kepadanya. Yah, tiba-tiba saja Darun lebih penting dari semuanya. Darun menjadi pusat perhatian, Darun menjadi tokoh. Rapat dimulai dan berjalan seperti biasa. Tapi ketika pak Sholeh, ketua RW menyilakan untuk berbicara semua hadirin menjadi tertegun dan diam. Dan tiba-tiba saja ada ketegangan yang merambati ke masing-masing pribadi mereka, manakala Darun sudah siap di podium.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” suara Darun sangat mantap dan tak kelihatan bergetar. Setelah mendapat jawaban yang kompak dari hadirin ia melanjutkan, “Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mohon maaf yang sebesar-besarnya pada bapak-bapak dan saudara-saudara semua, terutama pengurus RW yang kami hormati. Selebihnya dari itu kalau hadirin masih mengharapkan saya mau menarik gerobak kembali saya hanya mohon jadikan dan anggap saya sebagai penarik gerobak sampah, dan jangan anggap saya sekaligus sebagai penarik gerobak tinja. Sebab beberapa masyarakat telah terlanjur menganggap saya demikian yang telah saya protes keras dalam wujud mogok kemarin...” Darun mengambil tempo dan menyapu rata wajah hadirin yang tercengang mendengar apa yang disampaikan Darun, lalu lanjutnya, “Saya tidak minta gaji saya dinaikkan, tapi hendaknya semua warga jangan menilai saya sederajat dengan sampah yang saya angkut. Demikian sekali lagi saya mohon maaf. Wassalamu’alaikum...”
Begitu Darun duduk kembali ruangan rapat menjadi berdengung, sebagian hadirin pada ramai-ramai mengutuk pembuang tinja yang membuat Darun protes keras dan sebagian lagi mengagumi kelancaran bicaranya Darun. Mereka tak mengira sama sekali kalau Darun si tukang penarik gerobak sampah bisa bicara dengan lancar dan memilih kalimat yang tepat.
Darun sendiri merasa lega. Tidak sia-sia belajar bicara selama enam hari pada Warso, temannya yang menjadi ketua karang taruna di desa lain.
Akhirnya rapat memutuskan untuk menaikkan gaji Darun menjadi dua puluh ribu rupiah, dan mengutuk si pembuang tinja gelap yang membuat Darun uring-uringan. Esoknya Darun sudah mulai menarik kembali. Dan dua jam kemudian situasi kampung menjadi normal.
Sampai dua bulan setelah pemogokan Darun tidak ada orang yang melanggar membuang tinja ke ranjang sampahnya, masyarakat sendiri sudah hampir lupa dengan peristiwa itu. Namun menginjak bulan ketiga tiba-tiba Darun tidak nongol dengan gerobaknya. Pada hari ketiga ketidaknongolan Darun masyarakat sudah mulai mereka-reka. Pasti ada orang yang membuang tinja lagi dan Darun mogok lagi. Tapi anehnya tak ada satu pun orang yang berusaha mencari atau menjenguk Darun. Barangkali karena rumah Darun ada di pojok kampung yang membuat orang enggan menjenguknya atau barangkali karena Darun cuma sesosok penarik gerobak sampah.
Masyarakat tidak ada yang tahu kalau Darun lagi sakit keras, tidak ada yang tahu kalau ia membutuhkan pertolongan. Tapi ketika rumah Darun terdengar jeritan seorang wanita, tetangga kanan kirinya buru-buru berkumpul dan mereka pada kaget ketika menjumpai Darun baru saja menghembuskan nafas terakhir. Kabar kematian Darun dengan segera menyebar luas ke seantero kampung dan membuat kaget masyarakat. Mereka baru sadar kalau Darun adalah pemuda yang banyak jasanya dan pemuda yang mempunyai arti tersendiri di desanya.
Lebih dari itu semua warga merasa kehilangan, membuat hampir seluruh warga ikut melayat ke rumah duka dan sampai fase pemakaman. Bagi yang tidak tahu tentu tidak akan menyangka kalau yang mati hanya seorang penarik gerobak sampah. Memang sepanjang sejarah di kampung itu baru dua orang yang mendapat penghormatan terakhir sedemikian rupa, yaitu KH. Ridwan yang meninggal sebelas tahun yang lalu dan Darun pada saat ini.
Begitu pemakaman selesai ketua RW memberikan sambutan, suaranya begitu parau dan tampak terseret-seret bergetar, “……………………. Kita semua tahu bahwa Darun adalah pemuda yang baik, yang banyak jasanya di kampung kita. Bahkan menjelang akhir hayatnya ia menanyakan pada ibunya, siapa yang akan menggantinya sebagai penarik gerobak. Pelayat yang sama-sama berduka, marilah kita ambil contoh pengabdian yang sederhana dari almarhum yang penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Selanjutnya segala kesalahan almarhum marilah kita maafkan dan mudah-mudahan amal almarhum diterima di sisi Allah SWT. Amin!!! Wassalamu’alaikum…”
Setelah ketua RW menyudahi sambutannya para pelayat sama-sama melangkah pulang. Sesaat kemudian kuburan itu kembali lengang. Namun di atas gundukan tanah yang baru itu masih ada lima orang yang belum mau meninggalkannya. Mereka pada membisu, menatap gundukan tanah itu. Di masing-masing wajah mereka terlihat jelas goresan sedih. Lalu mereka saling bertatap muka, lalu kembali menunduk, “Darun, maafkan aku. Akulah pembuang tinja gelap yang membuat kau uring-uringan tempo dulu…” kata salah seorang di antara mereka.
“Aku juga, Darun…” sahut yang lain hampir bersamaan.
Esoknya takbir dan tahmid menggema dari segala penjuru. Semua muslim mengakui dosanya dan saling memafkan satu sama lain. Dan darun telah menghadap penciptanya lebih dulu.

Sidoarjo, 4 Juni 1985

derita widi


Sudah setengah jam Widi duduk di Kursi tua itu. Ia memandang ibunya yang tertawa-tawa sendirian. Tampak jelas ibunya semakin kurus, kusut dan kumal. Sudah empat hari ia tak berhasil membujuk ibunya agar mau mandi. Kemarin ia mencoba dengan paksa, tapi malah dirinya yang diguyur air oleh ibunya. Anehnya ia menurut saja. Ia membayangkan ibunya tidak sakit dan penuh kasih sayang saat mengguyur air itu. Ia memang sudah teramat rindu kasih sayang ibunya.
Widi tampak memelas. Sebagai gadis yang baru dua tahun meninggalkan bangku SMA memang beban yang harus ia pikul cukup berat. Ia seorang diri harus merawat ibunya yang sakit. Bermacam-macam usaha telah ia lakukan demi kesembuhan ibunya namun belum juga berhasil. Tinggal satu saran yang belum ia laksanakan, yaitu mengirim ke rumah sakit jiwa. Sebetulnya ia setuju dengan saran itu, tapi dari mana ia harus mendapatkan uang untuk biayanya.
Kini Cuma pada takdir Tuhan ia menggantungkan nasibnya. Yah, takdir. Bukankah takdir dalam sekejab telah mampu merenggut kebahagiaannya dua tahun yang lalu. Ketika itu Widi baru lulus dari SMA dan sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, tiba-tiba suatu musibah menimpa keluarganya. Ayahnya yang bekerja di bank tertembak mati oleh perampok yang sedang beraksi di bank itu. Dan yang lebih tragis lagi jiwa ibunya tergoncang hebat oleh peristiwa itu sampai akhirnya sakit jiwa hingga sekarang.
Barangkali Tuhan sudah menata penderitaan yang akan dihadapi Widi, karena seminggu sebelum ayahnya tertembak mati sanak familinya sama-sama berangkat transmigrasi ke Sulawesi. Jadinya Widi sendirian menanggung beban seberat itu.
Widi mendekati ibunya, “Makan, bu…” sapanya. Ibunya Cuma mengangguk. Ia bergegas meninggalkan ibunya dan kemudian kembali dengan sepiring nasi, lalu diberikan pada ibunya.
Ia kembali duduk di kursi tua itu sambil melihat ibunya yang sedang makan. Dan ia tak melarang ketika ibunya berdiri kemudian menyuapi mulut foto ayahnya yang menempel di dinding.
Oh, ibu, kapan berakhir keadaan semacam ini. Kita kembali hidup normal. Aku belum sempat mewarisi keahlian memasakmu. Aku sangat rindu belaian kasih sayangmu. Ibu, sembuhlah! Jangan biarkan aku sendirian menanggung semua ini. Begitu jerit hati Widi yang tanpa diiringi air mata. Mungkin sudah terlalu kering air matanya.
Widi pindah ke sofa, menelentangkan tubuhnya sampai kemudian deritanya sirna untuk sementara dalam kenyenyakan tidurnya orang yang payah.
*
Sore ini derita Widi seperti hilang tak berbekas. Ia kelihatan cantik dan anggun mengenakan pakaian yang dulunya dipersiapkan untuk menghadiri malam perpisahan. Rok batik warna cokelat yang sangat serai dengan warna kulitnya yang kuning dan tatanan rambutnya yang mengombak setengah bahu, yang sebetulnya tanpa ditata memang sudah baik.
Pagi tadi ia telah membersihkan rumahnya, dan yang membuat ia puas ibunya menurut saja ketika dimandikan dan diganti pakaiannya. Seolah ibunya mengerti semua yang dikehendaki Widi.
Hendro, kekasih Widi yang nyaris terlupakan karena derita dan kesibukannya, pagi tadi telah datang dari tugasnya di Irian Jaya dan sore ini akan berkunjung ke rumahnya.
Serasa beraduk perasaan Widi antara rindu dan cemas. Ia telah berulang kali pindah tempat duduk, gelisah dan tak tenang. Kemudian bercermin di depan kaca sambil memutar-mutar tubuhnya. Mendadak ingatannya mengendap ke masa-masa yang penuh ceria dan gelak tawa. Lalu ke saat perpisahan dengan Hendro dua setengah tahun yang lalu.
“Widi, percayalah setelah tugasku selesai nanti, aku akan segera meminangmu dan begitu kau selesai kuliah kita segera kawin...” begitu di antara kata-kata Hendro yang terhambur dari mulutnya sebelum naik ke pesawat.
Tiba-tiba perasaan cemas kembali mencekam. Ia khawatir Hendro akan berbalik pantat setelah mengetahui keadaan keluarganya. Selama ini ia tak sempat menceritakan keadaannya. Dan sangat mungkin keluarga Hendro tidak mengetahui, karena jarak antara rumah Widi dan Hendro memang cukup jauh.
Andai saja Hendro menjauhiku setelah mengetahui keadaanku, aku mesti merelakan. Hendro tidak bersalah bila bersikap demikian. Siapa orangnya yang tidak khawatir menanggung beban seberat ini. Demikian kata hati Widi mengiringi kecemasannya.
Widi tergagap dan lamunannya buyar ketika mendengar ketukan pintu. Dengan hati yang nit-nit ia berjalan menuju pintu. Ternyata memang Hendro yang datang.
”Mas Hendro!” sapanya bernada rindu.
”Widi!”
Ia menjabat tangan Hendro lama sekali, lantas mempersilakan Hendro duduk. Hendro Cuma menurut dan seperti dulunya tetap bersikap sopan.
”Widi, aku ikut sedih atas kematian ayahmu...” Hendro mulai bicara sambil melepas jaketnya, ”Sebetulnya aku telah memaca di koran, tapi aku tak percaya korban itu ayahmu kalau saja suratmu tidak menyusul kemudian...”
”Sudah nasibku, mas Hendro...” balas Widi memelas.
”Yah, kau harus tabah...”
“Aku telah berusaha untuk tabah.”
Ekspresi Hendro ikut memelas. Ia amati hidung Widi, tambah mancung dan matanya sedikit cekung serta bibir mungil yang dikaguminya pecah-pecah tanpa dipoles lipstik. Hendro baru sadar kalau Widi teramat menderita oleh kematian ayahnya dan ia baru ingat ibu Widi.
”Widi, ibumu mana?”
”Oh, ibu di dalam.” Widi berdiri lalu mengajak Hendro masuk ke ruang tengah. Ibu Widi sedang menjahit dan kelihatan tak acuh pada kehadiran mereka. Ketika Hendro mendekat dan menjabat tangannya dengan sikap hormat orang tua itu mengawasi tajam dan lantas tersenyum sinis. Kalau saja ibu Widi tak mengomel terus-menerus Hendro pasti dibaut pusing oleh keganjilan itu.
”Mas Hendro, sepeninggal ayah, ibu telah menjadi aneh. Kata orang, gila.” Kata Widi menerangkan setelah mereka kembali ke ruang tamu. ”Dan, maafkan aku tidak sempat memberitahukan pada mas Hendro.”
”Aku ikut prihatin,” jawab Hendro sambil menarik napas dalam-dalam.
“Pendritaanmu terlalu berat...”
Widi diam, hatinya galau tak karuan.
”Sudah dibawa ke rumah sakit jiwa?”
”Belum...”
”Kenapa?”
”Biayanya, mas. Dari mana aku mendapat uang. Aku sama sekali tak dapat keluar untuk bekerja, sedang pensiun yang kami peroleh hanya cukup untuk makan.” Tenggorokan Widi terasa kering setiap menjawab pertanyaan semacam ini. Semua cuma bisa tanya dan mencemooh, tapi tak bisa memberikan jalan keluar. Kini pertanyaan itu datang dari mas Hendro, kekasihnya. Calon menantu ibunya. Orang yang bisa diharapkan jadi pahlawan penderitaannya. Widi menunggu atas reaksi dari Hendro atas jawabannya. Hendro tercenung. Sepi. Dan tak menjawab.
”Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat,” tambah Widi memecah kesunyian.
Hendro menangkap goresan sedih di wajah Widi semakin dalam dan pikirannya sendiri terasa keuh, segera saja ia mengalihkan pembicaraannya pada pengalamannya di pedalaman Irian Jaya. Sebentar saja Widi sudah terlarut dalam keasyikan cerita Hendro yang sesekali diselingi dengan humor, hingga gelak tawa yang segar terdengar lagi di rumah itu.
Sepulang Hendro rumah Widi kembali dicekam sepi. Lebih-lebih perasaan Widi kacau tak menentu. Masih jelas bayangan Hendro yang membisu ketika ditunggu reaksinya setelah dia menerangkan kesulitan biaya. Ah, Widi, serasa tak dapat berpikir apa-apa. Sumpek. Yang ia rasakan kehidupan ini semakin keras dan tak acuh pada penderitaannya. Membosankan. Ingin rasanya ia ikut sinting bersama ibunya biar tak merasakan penderitaan lagi.
Dua bulan setelah itu Hendro belum juga berkunjung ke rumah Widi lagi, padahal ia sudah tak bertugas di Irian lagi. Tapi Widi juga tak berharap. Hatinya sudah beku dan dilapisi tebal oleh penderitaan.
Sementara itu ibunya telah menunjukkan perkembangan yang serius. Akhir-akhir ini sering melempar rumah-rumah para tetangga dan orang-orang yang lewat di depannya. Juga mandi sudah tidak mau sama sekali. Yang masih mending cuma makan dia masih mau, barangkali yang tak bisa dilupakan orang gila hanya lapar.
Widi memang anak yang penuh bakti. Ia masih saja merawat dan menjaga ibunya dengan sabar. Dan hampir setiap hari ia datang ke tetangga-tetangganya untuk meminta maaf atas gangguan ibunya. Tak jarang ia menggigit bibir menahan omelan dari tetangganya yang kurang menyadari.
*
Hati Widi terenyuh dan terpukul hebat menghadapi kenyataan ibunya harus dipasung atas kehendak orang kampung. Kemarin ibunya telah memukul orang sampai luka parah.
“Demi keselamatan dan ketenteraman kampung...” kata pak lurah. Ini memang betul dan Widi tak bisa membantah. Namun yang ia tak habis heran, kenapa di antara mereka tak ada yang punya ide membantu biaya secara gotong royong dan mengirimkannya ke rumah sakit jiwa.
Ia histeris melihat ibunya yang meronta-ronta saat dipasung.
”Gila! Kalian yang gila! Kesinisan kalian yang membuat ibu demikian. Sekarang, sesudah kami menderita cukup lama ibuku kalian siksa.”
Napas Widi tersengal-sengal, kemudian ia tak ingat apa-apa lagi. Dirinya sudah terlalu capek dan lemah. Ia pingsan beberapa saat.
Waktu ia sadar kembali rumahnya sudah sepi, orang-orang yang tadi memegangi lengannya juga sudah tidak ada. Yang ia jumpai hanya bu Inah, tetangganya yang baik sedang menggosok-gosokkan minyak angin di pelipisnya.
”Sabarlah, nak Widi...” bisik bu Inah sambil mencucurkan air mata.
Badan Widi masih lemah untuk digerakkan, Cuma matanya mulai menyapu sekitarnya, lalu kembali lagi menatap bu Inah yang kini mengusap-usap rambutnya.
”Sabarlah, nak Widi...” bu Inah kembali berbisik. Widi mulai bisa menangkap wajah keriput yang penuh iba itu dan marasakan ada air hangat menetes di wajahnya.
Ah, nak Widi, kasihan kau. Kalau saja ayahmu tidak mati, kalau saja ibumu tidak sakit, kalau saja orang-orang mau menyadari penderitaanmu, tentunya kau tidak menderita semacam ini. Kau memang anak yang baik. Penuh bakti. Kata orang tua itu dalam hatinya.
Widi sendiri kesadarannya telah sempurna. Ia bisa menangkap rasa iba yang tulus dari bu Inah. Tangan bu Inah yang beralih memijit-mijit keningnya sungguh telah menyejukkan hatinya. Selanjutnya seperti ada magnet yang menggerakkan Widi, ia mendekap bu Inah erat-erat sambil menghamburkan tangisnya. Rasa iba bu Inah tambah terungkit oleh dekapan Widi, hingga ia menangis juga.
*
Widi belum bisa menerima perlakuan orang kampung yang memasung ibunya. Apalagi setelah ia melihat kedua pergelangan kakinya luka kena kayu pasung itu. Ia memutuskan untuk menjual rumahnya dan mengirim ibunya ke rumah sakit jiwa. Masa depan baginya adalah kesembuhan ibunya. Cuma itu. Ia akan membicarakan dengan bu Inah masalah menjual rumah ini. Ya, hanya bu Inah yang bisa dimintai pertimbangan. Bukankah dari orang yang tulus ikhlas akan keluar pertimbangan yang tulus ikhlas pula. Begitu pendapat Widi.
Widi nyelonong saja masuk ke rumah bu Inah. Hal demikian sudah biasa ia lakukan sejak ibunya belum sakit. Rumah bu Inah memang sepi karena hanya bu Inah sendirian yang menjadi penghuninya.
”Lagi masak, bu?” sapa Widi yang menjumpai bu Inah ada di dapur.
”Ya, nak Widi, habis siapa lagi yang masak...”
Bu Inah mengajak Widi ke ruang depan, dan sebentar saja mereka terbat dalam keasyikan berbicara.
“Bu Inah, saya bermaksud menjual rumah dan mengirim ibu ke rumah sakit jiwa,” kata Widi setelah cukup berbasa-basi. Dan bu Inah jadi terdiam mendengar maksud Widi ini, kerutan di wajahnya semakin tampak menandakan bu Inah ikut berpikir.
”Nak Widi, ibu senang melihat kau dan memahami maksudmu. Tapi tak usah kau jual rumah.”
Saya ingin ibu segera sembuh...”
”Yah, ibu juga begitu,” bu Inah menarik napas.
”Lantas Widi harus bagaimana?” widi ingin tahu pemecahan dari bu Inah. Tapi bu Inah tidak menjawab pertanyaannya melainkan masuk ke dalam, setelah agak lama baru keluar lagi sambil membawa dompet.
”Pakai saja uang ibu ini...” bu Inah menyerahkan dompet itu pada Widi. Widi tidak mengerti dan tercengang setelah melihat isi dompet itu, yang ternyata lembaran uang puluhan ribu dalam jumlah yang cukup banyak.
“Oh, ... tidak, bu Inah!” Widi menaruh dompet itu di meja.
”Kau harus menerima, demi ibumu dan aku ikhlas...” bu Inah mengembalikan dompet pada Widi, ”Untuk ibu masih ada cukup banyak.”
”Tidak, bu Inah, biarlah aku jual rumahku...”
”Sudahlah, terimalah bila kau senang dengan bu Inah dan ingin ibumu segera sembuh...” tanpa menunggu reaksi Widi, bu Inah berdiri dan menuntun Widi pulang ke rumahnya.
Widi memang tidak tahu sama sekali perkembangan di kampungnya ejak ibunya sakit. Begitu juga tentang bu Inah yang dua tahun terakhir ini selalu mendapat kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Kuwait dan rencana bu Inah untuk pergi haji tahun depan.
”Besok pagi kita antar ibumu ke Sumber Porong....” Widi yang dalam keheranan tak mampu berucap apapun. Perasaan senang, haru, dan tak percaya beraduk jadi satu. Ia hanya memandang bu Inah yang meninggalkannya. Sesaat kemudian ia lari ke ibunya. Merangkulnya erat-erat dan mengumbar tangis. Entah apa yang dirasakan ibunya, yang jelas orang tua yang sakit itu ikut menangis.
“Ibu, kau akan segera sembuh...”

Sidoarjo, akhir Mei 1983