<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373</id><updated>2011-04-21T17:23:20.172-07:00</updated><title type='text'>pyungshera</title><subtitle type='html'>copyright@2007 fabelkaca.inc                       all right reserved</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pyungshera.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-2232266526440485067</id><published>2007-08-20T09:21:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T12:41:53.713-07:00</updated><title type='text'>wina</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/wina.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/wina.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wina mencoba pakaian barunya. Lucu. Bagaimana tidak? Ia sudah terbiasa bercelana jeans dan pakai T Shirt atau pakaian lainnya yang lagi in di kota-kota besar, kini ia harus berpakaian ala gadis desa. Ia berputar-putar di depan cermin, tapi yang tampak hanya sebatas dada ke atas. Cermin yang dipakai Wina memang kecil. Itupun satu-satunya cermin yang ada di rumah bibi Aminah.&lt;br /&gt;Ia sudah bertekad untuk menghilangkan segala ciri kehidupan remaja Jakarta. Ia ingin tampak sederhana dan bisa menyatu dengan alam barunya. Dalam usianya yang muda, Jakarta telah mencampakkan dirinya. Jakarta telah mengenalkan dirinya dengan minuman keras, morpin, dan yang paling menghancurkan dirinya adalah pergaulan bebas muda mudinya. Meski ini sebagian kecil kehidupan remaja Jakarta, tapi nyatanya ia masuk ke bagian kecil tersebut. Pada puncak frustasinya ia hampir saja bunuh diri. Tapi di saat yang kritis itu hidayah Tuhan datang. Ia ingat bibinya yang ada di pelosok desa di wilayah Jawa Timur. Suatu desa yang menawarkan kehidupan yang jauh dari bising dan kebrengsekan kota. Ia ingin memperbarui kehidupan di desa yang tentram ini.&lt;br /&gt;Bulan depan Wina akan sekolah di sekolah barunya yang kondisinya jauh memenuhi syarat. Sebuah SMA swasta yang menempati gedung SD Inpres. Jarak rumah bibi Wina dengan sekolah ini sekitar 10 km.&lt;br /&gt;Wina sekali lagi berputar di depan cermin, kemudian merasa mempunyai kemampuan untuk dengan cepat bisa adaptasi sebagai gadis desa yang lugu. Selama setengah bulan di rumah bibi Aminah ini ia sudah meninggalkan sama sekali make up yang biasa ia pakai ketika di Jakarta. Cuma satu yang belum bisa adaptasi, yaitu potongan rambutnya yang punk rock. Yang satu ini perlu menunggu proses dan ia akan membiarkan tumbuh panjang.&lt;br /&gt;Saat masuk sekolah tiba ia betul-betul sudah siap. Mulai dari baju, sepatu, tas dan buku-buku tampak sederhana. Tapi wajahnya yang memang cantik alami tidak bisa ia sembunyikan. Dan satu hal lagi yang ia tidak bisa menyembunyikannya, logat Jakartanya yang medok.&lt;br /&gt;Pengalaman pertama yang ia peroleh ketika berangkat sekolah naik kendaraan pedesaan. Ia hampir saja terlambat masuk, karena menunggu mobil pedesaan hampir satu jam. Dan ketika masuk di kelas IIA yang muridnya cuma 35 orang ia menangkap bahwa semua mata tertuju kepadanya, dan ada desah nafas yang ditekan. Ia sendiri berusaha menyapa mereka dengan senyum manis.&lt;br /&gt;“Mulai saat ini di kelas kalian ada teman baru. Untuk lebih jelasnya biarlah yang bersangkutan memperkenalkan diri langsung...” begitu pak Sugito yang mengantar Wina dengan bijaksana mempersilakan Wina untuk memperkenalkan diri lebih lanjut. Wina tampak ragu, namun akhirnya ia melangkah ke depan. Ia menunduk beberapa saat.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” ia membuka dengan salam.&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam...” jawab siswa yang berjumlah 35 itu dengan kompak.&lt;br /&gt;“Bapak guru yang terhormat dan teman-teman yang baik, nama saya Wina umur 18 tahun dan baru sebulan tinggal di kota tercinta ini. Tepatnya di kecamatan Tarik yang jaraknya mungkin kalian lebih tahu daripada saya. Oh, ya... saya pindahan dari sekolah yang jaraknya juga cukup jauh dari sini...” Wina jedah memikir-mikir kalimat berikutnya, tapi ia mendengar dari belakang ada suara menyela, “ Dari Jakarta, ya... ?” dari pertanyaan ini Wina sadar, kendati ia sudah berusaha menutupi ciri-ciri Jakartanya dalam perkenalannya, tapi toh ia belum mampu mengubah logat bicaranya.&lt;br /&gt;“Ya, betul, saya dari Jakarta, tapi bukan kotanya melainkan pinggiran yang suasananya tak jauh beda dengan kota kecamatan ini...” ia terpaksa berbohong biar tak jadi perhatian. “Saya berharap agar saya di sini bisa cepat menyesuaikan diri, untuk ini bantuan dari teman-teman sangat saya harapkan. Saya rasa cukup dan terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh...”&lt;br /&gt;Wina kembali duduk. Satu kesan yang sebelumnya ia duga telah ia peroleh, yaitu teman baru yang lugu dan menyenangkan. Mereka tampak sederhana dan tak banyak tingkah. Kesan ini menjadi kenyataan waktu istirahat tiba, mereka pada rame-rame menjabat tangan Wina dan memperkenalkan diri. Fatimah yang sebangku dengannya bahkan kelewat baik memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;Proses akrab Wina dengan teman-teman barunya berjalan lebih cepat dari yang ia perkirakan. Dalam tempo dua minggu tidak hanya siswa di kelasnya saja yang ia kenal, bahkan hampir seluruh penghuni SMA itu. Wina sebetulnya tak menghendaki demikian, sebab hal ini bisa jadi bumerang kalau sampai menimbulkan iri bagi siswa putri lainnya.&lt;br /&gt;Di rumah Wina telah menjadi kembang desa. Tapi ia masih mengurung diri. Ia belum berani bergaul dengan sesama teman remaja desa sebelum logat Jakartanya hilang, namun hal ini berjalan tidak begitu lama, karena ternyata hanya dalam waktu dua bulan ia telah mampu membuang logat Jakartanya. Ia ikut nimbrung di karang taruna dengan penampilan yang klop, tak beda dengan remaja putri lainnya.&lt;br /&gt;Genap setengah tahun sosok Wina telah utuh menjadi remaja teladan, baik di sekolah maupun di desa. Berkat ketekunannya belajar, Wina telah mampu berprestasi di sekolah, dan di karang taruna pun ia tidak sedikit menyumbangkan idenya yang ia lewatkan Atik, tetangganya.&lt;br /&gt;Sementara ibu dan bapaknya terus bersyukur mengikuti perkembangan Wina yang pesat dan positif, meski hanya lewat surat yang dikirimi rutin oleh bibi Aminah. Sebetulnya ayah dan ibu Wina ingin sekali menjenguk Wina, namun Wina tak memperbolehkan. Entah apa alasannya. Akibatnya sebagai curahan rindu dan rasa tanggung jawab kiriman uang untuk pembelian fasilitas belajar dan keperluan lainnya terus mengalir dalam jumlah berlebihan untuk kehidupan yang sangat sederhana. Tapi Wina tak menggunakan uangnya untuk keperluan tersebut. Ia cukup puas dengan apa yang ada di rumah bibi Aminah yang serba sederhana. Uang yang berlebih itu ia simpan di SIMPEDES.&lt;br /&gt;Problem Wina baru timbul saat ia baru naik ke kelas tiga. Saat itu menjelang hari jadi kotanya. Semua temannya, bahkan guru-gurunya mendesak agar Wina mau mengikuti pemilihan GUK dan YUK (semacam Abang dan None Jakarta), Wina keberatan, karena bagainmanapun sederhanya pelaksanaan pemilihan itu masih tetap tampak glamour dan Wina sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjauhi segala yang berbau glamour. Sebetulnya mereka tidak berlebihan, karena Wina memang ayu, feminin, supel dan cerdas. Wina sendiri kendati belum punya nama di Jakarta dulu pernah mencoba untuk jadi peragawati dan pernah mengikuti pemilihan abang dan none. Dari sini paling tidak ia sudah mengantongi pengalaman berlenggak-lenggok di atas catwalk.&lt;br /&gt;“Wina, bapak harap Wina mau jadi duta sekolah untuk pemilihan Guk dan Yuk tersebut, Wina cukup punya modal, mengenai cara tampil yang baik bu Titik nanti bisa membimbingmu...” begitu desak kepala sekolah. Wina jadi sulit untuk menjawab. Akhirnya ia tidak memberi keputusan yang pasti, ia bilang perlu minta ijin bibinya dulu.&lt;br /&gt;Satu hal lagi keberatan Wina, ia khawatir luka lamanya akan terungkit, sebab ketika ia mencoba mengikuti pemilihan abang dan none Jakarta, saat itulah awal bencana yang menimpa dirinya. Waktu ia baru memenangkan seleksi tingkat daerah, begitu pengumuman pemenang selesai dan ia sibuk-sibuknya menerima ucapan selamat dari teman-temannya seorang pemuda yang tak ia kenal juga mengucapkan selamat kepadanya dan menggenggam lama tangannya. Pemuda itulah yang seterusnya memperkenalkannya dengan dunia yang sebelumnya tidak ia kenal dan kemudian saat Wina berada di puncak cintanya ditinggal begitu saja. Kini Wina tak ingin peristiwa itu terungkit lagi.&lt;br /&gt;“Wina, kau mutiara, kau bidadari, kau ratu yang tak bermahkota di sekolah kita. Sekolah kita yang tak masuk hitungan dan tak pernah diperhitungkan ini sekali-kali biar diacuhkan orang lain. Dan kami yakin kau mampu berbuat untuk itu...” Ana yang waktu kelas dua kemarin menjadi Wakil Ketua OSIS ikut memberi dorongan ketika mereka pulang sekolah bersama.&lt;br /&gt;“Ana, aku tak senang dengan keglamouran dan penonjolan diri...”&lt;br /&gt;“Aku mengerti Wina, tapi sekali ini bantulah kami...”&lt;br /&gt;“Okelah aku berjanji, kalau ada cerdas cermat atau adu otak lainnya aku siap mencoba. Tapi untuk yang ini tolong dimaafkan dulu...”&lt;br /&gt;Ana sedikit kecewa tak bisa membujuk Wina, tapi ia diam-diam tambah kagum dengan pribadi Wina. Wina betul-betul mutiara di matanya.&lt;br /&gt;Akhirnya sampai pada batas waktu pendaftaran Wina tak mampu menolak desakan teman-temannya dan guru-gurunya.&lt;br /&gt;“Baiklah, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan. Tapi dari mana saya dapat memperoleh pakaiannya?” semua teman-temannya melonjak girang mendengar kesediaan Wina, dan sekaligus berebut menyatakan kesdiaannya untuk mencarikan pakaian.&lt;br /&gt;Menyadari harapan teman-temannya begitu besar Wina jadi serius. Bu Titik yang melatihnya berlenggak-lenggok dibuatnya kagum. “Wina, kau tenyata punya bakat dan kemampuan yang kuat untuk jadi peragawati...” mendengar kekaguman bu Titik ini Wina hanya tersenyum.&lt;br /&gt;Begitu hari H pemilihan Guk dan Yuk tiba, Wina telah siap betul. Sebelumnya tes kecerdasan dan lain sebagainya telah ia lampaui dengan mulus. Hampir seluruh siswa sekolahnya ikut menyaksikan pemilihan itu. Wina ternyata dapat giliran tampil pada urutan yang ke-24. dan, saat Wina tampil seluruh penonton yang memadati Gedung Wanita itu tercekam diam. Mereka pada berdecak kagum. Kharisma kecantikan Wina mampu meredam semua suara. Keadaan sepi dan mencekam itu kemudian meledak menjadi gemuruh oleh suara tepuk tangan begitu Wina mengakhiri penampilannya.&lt;br /&gt;Seperti yang telah diduga oleh penonton, akhirnya Wina oleh dewan juri dinobatkan sebagai pemenang pertama dan sekaligus menyandang juara favorit. Bagi yang memperhatikan akan tahu keganjilan pada diri Wina, ia tidak seperti pemenang-pemenang berikutnya. Mereka menangis haru dan tak kuasa menahan suka cita. Sedang Wina tenang-tenang saja, sepertinya kemenangan itu tak layak disambut dengan kegembiraan. Malah yang menagis Ana dan bu Titik. Kalau saja teman-temannya tidak berebut menyampaikan selamat jelas ia tak ada reaksi apa-apa.&lt;br /&gt;“Wina, kau tak bahagia dengan kemenanganmu?” tanya bu Titik setelah menyadari sikap Wina.&lt;br /&gt;“Saya sangat bahagia, karena bisa memenuhi harapan teman-teman dan ibu...”&lt;br /&gt;“Wina, tapi kau tampak hambar...”&lt;br /&gt;“Saya takut populer, Bu...”&lt;br /&gt;“Kau ini aneh, sementara orang lain ingin populer dan kadang untuk mengejarnya tak segan-segan menempuh jalan yang tercela, kau sendiri malah tidak mau...”&lt;br /&gt;Ah, Wina memang sejak malam itu jadi populer dan temannya bertambah banyak. Pemuda yang ingin mendekatinya juga tidak sedikit. Ia terima semua teman barunya dengan batasan pagar yang dibuatnya sendiri. Dan, secepatnya memberi tanda apabila ada yang menginginkan lebih dari persahabatan.&lt;br /&gt;Salah satu di antara mereka adalah Gatot, cowok sekelasnya yang paling nekat. Ia sering mentang-mentang dan pamer kekayaannya. Pada yang satu ini Wina sudah menolak mentah-mentah, tapi ia bandel. Mulai dari motor Honda sampai mobil Hijet yang dimiliki ayahnya pernah dimanfaatkan untuk merayu Wina. Tapi meski demikian Wina hanya sekali mau dibonceng, itupun dengan pertimbangan tidak mau menyakiti hati teman.&lt;br /&gt;“Wina, ayolah sekali-kali biar tidak terus-terusan naik taxi!” begitu tawaran Gatot saat membawa mobil yang sebetulnya bagi orang lain cukup menyakitkan.&lt;br /&gt;“He, naik taxi banyak seninya, lho...” jawab Wina asal-asalan.&lt;br /&gt;“Seni apa, bau kencing...?”&lt;br /&gt;“He, Tot, kau jangan menghina orang yang nggak punya mobil...”&lt;br /&gt;“Makanya kau sama aku biar tidak tersinggung...”&lt;br /&gt;Sungguh kendati Wina tersinggung dengan omongan Gatot ini dan sangat muak. Tapi semua itu hanya ia endapkan saja. Ia tak ingin menyakiti hati orang lain atau menanam bibit permusuhan pada siapapun. Semua yang pernah terjadi di Jakarta tak perlu ia ulang di sini. Sikap inilah yang membuat Wina sampai pada selesainya ujian dekat bisa tampil menyenangkan di tengah teman-temannya.&lt;br /&gt;Wina telah berhasil dengan baik. Ia sukses dalam bergaul. Ia sukses dalam melebur dosa. Ia sukses dalam studi dan ia sukses dalam melahirkan dirinya sebagai remaja desa yang lugu, polos dan tekun.&lt;br /&gt;Para guru dan temannya semakin akrab dengannya dan semakin kagum kepadanya. Sampai pada saat teman-temannya merencanakan mengadakan rekreasi dalam rangka perpisahan, mereka dibuat terkejut dengan pendapat Wina.&lt;br /&gt;“Kalau teman-teman dan para guru tidak keberatan, rekreasi ini sebaiknya ke Jakarta. Jakarta selain ibukota, tempat-tempat bersejarahnya cukup banyak selain itu fasilitas rekreasinya sangat beragam. Saya tahu, ini biayanya cukup banyak dan hampir mustahil bagi kita. Tapi, maaf, mudah-mudahan teman-teman tidak tersinggung, saya punya simpanan uang di bank yang insya Allah cukup untuk biaya transportasi dan akomodasinya. Uang ini sebetulnya sebagian adalah uang teman-teman sendiri. Kalian tentunya masih ingat dengan pemilihan Guk dan Yuk? Saya saat itu tak akan keluar sebagai pemenang seandainya kalian tidak mendorongku untuk ikut dan membantu menyediakan fasilitasnya. Hadiah tabanas dari sponsor adalah hak teman-teman, karena saya tampil mewakili teman-teman...” Wina mengakhiri pendapatnya dan suasana rapat menjadi berdengung. Tapi pada akhirnya mereka tak mampu menolak tawaran Wina.&lt;br /&gt;Wina ingin mereka tahu Jakarta, tahu ibukota negaranya. Di samping itu biar mereka tahu kehidupan mewah, tahu cara hidup remaja Jakarta kendati sepintas. Sepulangnya nanti ia akan cerita detail tentang Jakarta dan juga dirinya yang pernah dihempaskan sampai menggelepar-gelepar. Pada pokoknya ia ingin menyampaikan bahwa kehidupan desa yang ramah dan penuh kegotong-royongan jauh lebih baik dari kehidupan kota yang egois, keras dan brutal.&lt;br /&gt;Subuh pagi sebuah bis meluncur memasuki Jakarta. Wina memandu sopir bus itu ke arah Kebayoran Baru. Lalu di depan sebuah rumah yang mirip istana di situ ia suruh bis berhenti.&lt;br /&gt;“Nah, kita turun dulu. Mandi-mandi, sholat, sarapan lalu berangkat menuju obyek pertama...” ajak Wina.&lt;br /&gt;“Wina, ini losmennya...?” Bu Titik mengira rumah yang mirip istana itu losmen, sebab Wina yang ditunjuk sebagai ketua panitia seminggu sebelumnya memberi informasi ia telah memboking sebuah losmen.&lt;br /&gt;“Iya, Bu, di sini enak kita bisa gratis...”&lt;br /&gt;“Kok nggak ada tulisannya ?”&lt;br /&gt;“Maaf, Bu, ini rumah Wina...”&lt;br /&gt;Bu Titik kaget, begitu juga Ana yang kebetulan berada di samping Wina.&lt;br /&gt;Sementara itu, dua orang laki perempuan setengah baya dan dua anak laki-laki belasan tahun menyambut mereka. Wina menghambur pada laki dan perempuan yang ternyata ayah dan ibu Wina. Mereka bertiga bertangisan. Sudah hampir dua tahun berpisah dengan anak kesayangannya itu, karena Wina melarang menjenguknya. Pada saat yang sama guru dan teman-teman Wina bingung bercampur haru dan sebagian lagi heran tak percaya kalau Wina yang begitu sederhana itu anaknya orang kaya yang menurut mereka bukan alang-kepalang.&lt;br /&gt;“Ayo, Ana, ajak semuanya masuk dan tak usah sungkan-sungkan...” seru Wina setelah cukup melepas rindunya pada kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;Semakin masuk dan semakin mengenal sudut-sudut rumah Wina mereka semakin heran. Apalagi saat mereka ke belakang sebuah taman indah yang cukup luas dan di tengahnya kolam renang yang artistik mereka saksikan. Di sudut tenggara mereka juga menyaksikan beragam anggrek koleksi ibu Wina.&lt;br /&gt;Wina mendekati teman-temannya dengan membawa setumpuk pakaian renang. “Ayo, yang mau berenang pakai ini dan ganti di sana...” kata Wina sambil menaruh pakaian renang itu di bangku fiberglass.&lt;br /&gt;“Wina, kau telah menyusahkan orang tuamu dengan membeli pakaian renang sebanyak ini...” kata Wati sambil memilih-milih pakaian renang itu.&lt;br /&gt;“Ah, tidah, itu milikku sendiri yang dulu kutinggal...”&lt;br /&gt;Seluruh teman-temannya menggeleng-gelengkan kepala. Masak satu orang saja pakaian renangnya sampai setumpuk. Begitu pikir mereka.&lt;br /&gt;Wina meninggalkan mereka dan mendekati Gatot yang saat itu menyendiri dekat dengan sangkar burung beo. Gatot tampak menyembunyikan rasa malu.&lt;br /&gt;“Gatot, kau nggak mandi...?” tanya Wina mengagetkan Gatot.&lt;br /&gt;“Wina, aku malu denganmu dan teman-teman...”&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa...?”&lt;br /&gt;“Aku pernah menyakitimu dan ternyata salah alamat...”&lt;br /&gt;“Ah, kau, lupakan saja...”&lt;br /&gt;“Wina, kau sungguh permata yang langka...”&lt;br /&gt;di ruang tamu, ibu Wina matanya terus berkaca-kaca. Haru dan bahagia mendengar kesederhanaan dan kesuksesan Wina di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syawal, 1414-Maret 1994&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-2232266526440485067?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2232266526440485067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2232266526440485067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/wina.html' title='wina'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_wina.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-2309633978133366704</id><published>2007-08-20T09:15:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T12:43:24.621-07:00</updated><title type='text'>sepucuk surat</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/sepucuksurat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/sepucuksurat.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malik adikku,&lt;br /&gt;Malam ini begitu sepi kala hasratku menulis surat padamu kusalurkan. Ayah dan ibu telah tidur dalam kenyenyakan orang yang payah. Benakku terpengaruh oleh peristiwa tadi pagi yang menyangkut masalah belajarmu.&lt;br /&gt;Tadi pagi sehabis sarapan, ayah meminta pertimbanganku. Ayah merencanakan menjual tanah sepetak yang ada di sebelah kiri rumah. Katanya untuk biaya sekolahmu. Beberapa saat aku membisu, kupandangi ayah dan ibu bergantian. Di wajah mereka yang keriput tampak rasa sesal dan ketulusan yang dalam. Sejenak aku ingat pemberitahuan Pak Lurah tiga bulan yang lalu, bahwa dua tahun lagi jalan di depan rumah kita akan dibangun, dan kalau hal itu terjadi berarti harga tanah di sekitarnya akan naik berlipat kali. Ah, aku jadi bingung dan tetap membisu, sampai ayah berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu?” sekali lagi kupandangi mereka bergantian, tiba-tiba tenggorokanku terasa kering, air mataku menetes, “Aku setuju, ayah...” begitu jawabku lirih yang mungkin mereka tak mendengarnya.&lt;br /&gt;Adikku, aku ingat mendiang kakek kita. Kakek pernah berpesan, “Jangan dijual tanah ini apabila tidak terpaksa dan untuk keperluan yang penting.” Tiba-tiba tangisku meledak sampai ibu ikut-ikutan menangis dan ayah cuma terbengong. Aku menyesali diriku, sejauh ini aku belum bisa membantu mereka. Sebagaimana kau ketahui aku cuma guru TK, yang statusnya tujuh puluh lima persen pengabdian.&lt;br /&gt;Setelah tangisku mereda ayah memberikan suratmu kepadaku. Lalu kubaca suratmu dengan tenggorokan yang kering itu, tiba-tiba bibirku bergetar dan hatiku juga. Tidak adikku! Fisikmu terlalu lemah untuk menarik becak. Memang di mata kami tidak ada pekerjaan yang hina asal halal dan kami sangat menghargai tekadmu, tapi sekali lagi fisikmu terlalu lemah. Kami sudah berterima kasih atas usahamu memberi privat yang HR-nya kau buat bayar kost itu.&lt;br /&gt;Adikku, biarlah kita ikhlaskan saja tanah itu. Apa nilai harta bila dibanding dengan ilmu, dan lagi kurasa hal itu tidak menyalahi wasiat kakek. Kau harus sukses, adikku. Kau harapan satu-satunya ayah dan ibu setelah aku gagal.&lt;br /&gt;Untuk sementara kau harus bersabar. Memang dipanggil ke kantor setiap hari dengan masalah yang itu-itu juga, yakni penagihan uang sekolah yang membosankan dan kadang menjengkelkan. Apalagi kalau sampai tidak boleh mengikuti pelajaran. Kau harus maklum, rupanya pada saat ini itulah cara-cara yang baik untuk menekan murid dan wali murid agar hati-hati terhadap uang sekolah. Dan lagi kadar kebijaksanaan para guru itu berlainan, apalagi sekarang banyak anak-anak yang menyelewengkan kepercayaan orang tua, uang sekolah dihabiskan untuk keperluan lain. Mengkin juga kau dikategorikan anak-anak yang semacam itu. Memang begitulah hukum alam, kerusakan moral selamanya tidak hanya berakibat pada pelakunya.&lt;br /&gt;Aku percaya kau tidak akan mengecewakan harapan orang tua kita. Kau mesti tidak sampai hati menyeleweng apabila melihat ayah yang setua itu dengan tulang-tulang yang rapuh masih saja mencangkul di sawah dan malamnya tak pernah tidur, bermunajat pada Allah, demi kau dan aku. Demi menginginkan anaknya pandai, manfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Tapi perlu juga kuingatkan dalam kesempatan ini, agar kau lebih hati-hati hidup di kota. Di kota manusia gampang tergelincir. Tidak jarang pemuda yang mulanya bertujuan mencari ilmu akhirnya jadi copet, yang semula baik-baik akhirnya jadi berandal. Mudah-mudahan Tuhan selalu meridhoi dan membimbingmu.&lt;br /&gt;Adikku, sesekali jangan kau sesalkan kemiskinan ini. Kemiskinan yang selalu menimpa kita untuk jadi orang yang kuat. Kemiskinan yang selalu memaksa kita untuk berkreasi ganda dalam menyambung kehidupan ini dan kemungkinan kemiskinan yang mempunyai beribu hikmah di baliknya. Kendati kita sering dipaksa untuk menahan lapar, haus dan malu olehnya. Anggap saja ini adalah konsekuensi logis orang yang ingin menggapai cita-citanya.&lt;br /&gt;Adikku, ada baiknya kau perbanyak dialog dengan Tuhan di waktu malam. Adukan halmu kepada-Nya. Dia Maha Tahu dan Maha Penolong. Semoga kau diberi ketenangan jiwa, kebersihan hati dan kejernihan otak.&lt;br /&gt;Terakhir maafkan kakakmu. Selamat belajar dan berprestasi. Percayalah pada kemampuanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakakmu&lt;br /&gt;Widi Astuti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Titik melipat surat itu setelah menghapus air matanya. Hari ini rupanya hanya ada satu surat yang kena sensor, yaitu surat cinta untuk anak kelas I A IPA.&lt;br /&gt;Bu Titik meminum tehnya, memasukkan surat itu, lalu berdiri, mendekat kepada para guru yang sedang istirahat.&lt;br /&gt;“Pak Amri, keputusan rapat tadi perlu kita tinjau kembali,” kata bu Titik membuat para guru mengalihkan perhatian kepadanya.&lt;br /&gt;“Ada apa, bu?” jawab pak Amri bernada tanya.&lt;br /&gt;“Kalau bapak-bapak dan ibu-ibu tak keberatan, setelah bel pulang nanti kita berkumpul lagi di sini. Ada masalah yang perlu kita bahas. Bagaimana?”&lt;br /&gt;“Baik bu...” jawab pak Amri setelah dapat anggukan dari guru-guru lainnya.&lt;br /&gt;“Terima kasih…” bu Titik tersenyum dan kembali ke kantornya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Bel pulang berbunyi. Sekolah menengah atas ini bonafit kendati swasta, hampir seperempat jam murid-murid yang pulang itu masih mengalir saja.&lt;br /&gt;Bu Titik memasuki ruang istirahat guru. Rupanya guru-guru lainnya sudah menunggu. Kemudian bu Titik menempati kursi yang kosong dengan tenang. Tampak Bu Titik memang wibawa sebagai kepala sekolah, guru-guru lainnya pada diam menunggu apa yang mau disampaikan oleh kepala sekolah itu.&lt;br /&gt;“Begini bapak-bapak dan ibu-ibu, saya mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu kembali meninjau keputusan rapat tadi pagi. Di mana setelah melalui berbagai pertimbangan pada rapat kemarin dan pagi tadi kita telah memutuskan bersama, bahwa bintang pelajar untuk tahun ini kita berikan kepada anak didik kita, Eddy, dikarenakan Malik yang semestinya berhak menerima tidak disiplin dalam pembayaran uang sekolah. Ternyata baru saja ada perkembangan. Tadi sewaktu saya menyensor surat ada sebuah surat yang perlu kita jadikan pertimbangan,” bu Titik berhenti dan mengambil surat yang dimakud dari dalam tasnya, lalu diberikan pada pak Gatot, “Tolong, bapak baca dengan keras.”&lt;br /&gt;Pak Gatot membuka surat itu dan kemudian membacanya dengan suaranya yang mantap. Guru-guru lainnya memperhatikan dengan seksama. Bu Sudarwati kelihatan berkaca-kaca matanya lalu satu dua air bening menetes di pipinya. Ia begitu haru mendengar surat itu, ingat tindakannya hari Senin yang lalu, yaitu tidak memperkenankan Malik mengikuti pelajaran karena uang sekolah yang nunggak tiga bulan itu.&lt;br /&gt;Pak Gatot selesai membaca surat itu, suasana hening beberapa saat.&lt;br /&gt;“Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu, keputusan tadi pagi yang belum kita umumkan itu menurut pandangan bapak-bapak dan ibu-ibu apakah bisa diubah, karena perubahan dengan pertimbangan surat tersebut tidak melanggar kriteria pemilihan bintang pelajar yang sekaligus menerima beasiswa dari sekolah, atau kita tetap pada putusan tadi pagi?” begitu bu Titik menawarkan pada sidang guru.&lt;br /&gt;“Saya rasa bisa diubah, dan kalau perlu sekaligus Malik kita angkat sebagai pelajar teladan...” kata pak Heru memberikan pendapatnya.&lt;br /&gt;“Begitulah, bu, saya rasa semua sependapat...” tambah bu Hermin.&lt;br /&gt;“Bagaimana, apakah begitu?” bu Titik kembali bertanya. Akhirnya semua meng-iya-kan. Dan bubarlah pertemuan kilat itu.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Hari ini tanggal 17, sebagaimana biasa sekolah mengadakan upacara bendera. Semua murid telah berbaris rapi dalam kelompok kelasnya masing-masing. Malik yang ada di kelompok kelas II IPA 3 berada di belakang. Ia kelihatan tak bersemangat mengikuti upacara pagi ini. Konsentrasinya tidak pada upacara, tapi pada uang sekolahnya yang dobel tiga bulan. Ia membayangkan setelah selesai upacara nanti dirinya dipanggil kepala sekolah, karena ia berjanji akan melunasi uang sekolahnya pada hari ini dan dirinya sudah kehabisan alasan. Wiwik, teman akrabnya memperhatikan dirinya dari tadi. Ia betul-betul kasihan. Ah, Malik, andai saja yang kau pikirkan cuma pelajaran niscaya kau akan menjadi komputer hidup. Begitu desis Wiwik dalam hati.&lt;br /&gt;“He Lik, sikapmu!” tegur Wiwik melihat Malik salah sikap, mestinya sikap istirahat, tapi Malik tetap tegap.&lt;br /&gt;“Ah, aku pusing, Wik,” jawab Malik sambil membetulkan sikapnya.&lt;br /&gt;“Uang sekolah yang kau pikir?”&lt;br /&gt;“Janjiku hari ini...”&lt;br /&gt;“Tidak usah pusing, pakai saja uangku...”&lt;br /&gt;“Heh, kalian jangan bicara melulu, dengarkan itu amanat kepala sekolah!” tegur Yanto yang merasa terganggu konsentrasinya.&lt;br /&gt;Malik dan Wiwik diam mendengarkan amanat kepala sekolah. Mereka ikut mereka-reka, karena ada pemberitahuan sebelumnya, bahwa dalam upacara ini akan diumumkan bintang pelajar untuk tahun ini. Suasana jadi hening ketika tiba waktunya kepala sekolah mengumumkannya.&lt;br /&gt;“...................... selanjutnya setelah melalui pengamatan dalam setahun ini dan pertimbangan-pertimbangan para guru dalam tiga kali rapatnya, dewan guru memutuskan siswa yang memenuhi kiteria sebagai bintang pelajar untuk tahun ini adalah siswa yang bernama Malik dari kelas II IPA 3. kepadanya sekaligus dinobatkan sebagai pelajar teladan, dan berhak menerima beasiswa dari sekolah...” sampai di sini yang didengar Malik, ia hampir-hampir tak bisa menguasai kegirangannya.&lt;br /&gt;“Lik, selamat!” ucap Wiwik sambil menjabat tangan Malik dan lalu diikuti oleh teman-teman lainnya yang sekelas, hingga barisan kelas II IPA 3 jadi semrawut. Tapi segera baik kembali setelah bu Titik memberi peringatan.&lt;br /&gt;Begitu upacara selesai Malik dipanggil kepala sekolah ke kantor. Ia penuhi panggilan itu dengan langkah lain dari biasanya.&lt;br /&gt;Di otaknya tidak ada rancangan alasan untuk menunda pembayaran uang sekolah sebagaimana biasanya. Ia mengangguk sopan pada bu Titik yang dibalas oleh bu Titik dengan senyum dan anggukan kepala serta isyarat tangannya mempersilakan Malik duduk. Malik menurut.&lt;br /&gt;“Begini Lik, ibu mohon maaf kepadamu. Selama ini ibu telah salah sangka. Dari cara berpakaianmu ibu tak menyangka kau anak orang miskin. Aku kira uang sekolahmu telah kau habiskan sebagaimana yang sering terjadi pada teman-temanmu yang lain,” bu Titik berhenti sejenak, lalu lanjutnya, “Surat dari kakakmu telah ibu baca dan ibu telah memaklumi keadaanmu...” bu Titik membuka laci meja lalu memberikan sepucuk surat pada Malik. Malik menerimanya dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;“Ibu, apakah lantaran surat ini saya jadi bintang pelajar?” tanya Malik dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;“Pertimbangan terakhir memang dari surat itu...” jawab bu Titik.&lt;br /&gt;“Ibu, terus terang surat ini saya sendiri yang membuat.”&lt;br /&gt;“Hah?”&lt;br /&gt;“Iya bu, saya yang membuat dan saya pula yang memasukkan ke kotak pos...” pertegas Malik seraya menunjuk stempel pos yang sama kotanya dengan sekolahnya.&lt;br /&gt;“Lantas apa maksudmu?” tanya bu Titik yang mulai berubah ekspresi.&lt;br /&gt;“Yang jelas saya tidak mempunyai maksud menipu. Dan pertimbangan ibu sama sekali tidak salah. Keadaan saya jauh lebih melarat dari gambaran di surat ini. Saya tidak mempunyai ayah dan ibu sedari kecil, bahkan tidak juga saudara, apalagi rumah dan tanah,” Malik berhenti, suaranya mulai parau dan titik-titik being terlihat menetes dari kedua matanya, lalu lanjutnya, “Selama hidup saya tidak pernah menerima sepucuk surat dari satupun orang tua dan saudara. Saya jadi iri kalau ada teman terima surat dari keluarganya. Saya jadi merindukan datangnya surat.” Ia menghapus air matanya. “Ingin saya mendengarkan atau menerima surat yang isinya memberi nasihat kepada saya, memberi dorongan agar saya lebih semangat belajar dan tidak putus asa menghadapi kehidupan yang sebatang kara ini. Suatu malam kerinduan saya pada datangnya surat sudah tak tertahankan, lalu saya putuskan untuk membuat sendiri. Ah, ibu, apakah perlu cerita ini saya teruskan?”&lt;br /&gt;“Perlu dan saya akan mendengarnya dengan baik,” jawab bu Titik yang juga menitikkan air mata.&lt;br /&gt;“Saya tak tahu, bu, kenapa saya menulis surat tentang kemiskinan. Tapi saat itu saya memang sedih, karena paginya saya tidak diperkenankan mengikuti pelajaran. Saya tulis surat itu dengan hati mendidih berontak dan saya iringi dengan air mata...”&lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak menceritakan keadaanmu yang sebenarnya?”&lt;br /&gt;“Saya pikir tidak akan ada yang percaya.”&lt;br /&gt;“Maaf Malik, sebenarnya bapak ibumu di mana?”&lt;br /&gt;“Menurut cerita orang mereka menjadi korban gunung meletus, cuma saya yang selamat.”&lt;br /&gt;Keduanya membayangkan letusa gunung yang hebat dengan imajinasi masing-masing. Malik membayangkan kedua orang tuanyan berlari-lari sambil melolong-lolong memanggil dirinya di tengah hujan batu, tiba-tiba ada batu besar yang menggelinding ke arah mereka dan tanpa sadar Malik berteriak keras, “Ibuu!!!” bu Titik tersentak oleh teriakan Malik. Di hadapannya Malik tengkurap di meja tak sadarkan diri. Ketika guru-guru lain datang mereka hanya menyaksikan bu Titik yang menangis sambil menggoncang-goncangkan tubuh Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 5 Mei 1983&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-2309633978133366704?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2309633978133366704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2309633978133366704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/sepucuk-surat.html' title='sepucuk surat'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_sepucuksurat.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-4673324259868255231</id><published>2007-08-20T09:10:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T12:44:34.926-07:00</updated><title type='text'>peristiwa jembatan wigon</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/jembatanwigon.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/jembatanwigon.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;17 September 1948, aku resmi jadi tentara kendati tanpa daftar dan tes segala macam. Apalagi latihan. Tidak cuma itu, sekaligus aku juga diangkat jadi komandan pleton. Bayangkan apakah tidak surprise, umurku baru 16 tahun.&lt;br /&gt;Tapi potret tubuhku lebih menyerupai gelandangaan, tidak seperti AKABRI yang perlente, gemerlapan dengan terembelan pangkat.&lt;br /&gt;Aku memang memegang pistol, tapi memakai celana pendek dan baju compang-camping. Dan terus terang aku tak pernah merasa jadi komandan sungguhan. Perang yang kuhadapi dalam mengusir penjajah kadang juga kuanggap main perang-perangan.&lt;br /&gt;Mulanya, aku dan teman-temanku memang anak-anak yang nakal dan bandel. Suka main perang-perangan dengan senjata yang terbuat dari kayu atau pohon pisang. Tidak jarang kami membuat pusing orang-orang tua kami.&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu kami asyik main perang-perangan dan kebetulan pada waktu yang sama ada patroli Belanda lewat.&lt;br /&gt;“Nah, itu dia musuh datang!” teriak Wahab sambil acungan tangannya ditujukan pada jeep Willys yang merangkak, dan kemudian dia tiarap. Kami mengikuti dia, tiarap dan berlindung di balik pohon besar.&lt;br /&gt;“Kalau sudah dekat kita serbu dengan ini...” komandonya dengan menunjukkan batu yang digenggam. Lalu teman-teman yang lain juga meraba-raba batu di sekelilingnya, cuma aku yang menyiapkan ketepil. Dan begitu jeep patroli yang hanya ditumpangi oleh tiga orang itu jaraknya sudah terjangkau dengan lemparan batu, Wahab segera memberi aba-aba.&lt;br /&gt;Dan hasilnya Belanda itu secara membabi buta menembakkan senapan otomatisnya ke segala arah, lalu memacu jeepnya. Kemudian kami keluar dari persembunyian dan berteriak: “Merdeka! Menang! Menang! Merdeka!“ sambil mengacungkan kepalan tangan.&lt;br /&gt;Hari berikutnya kami membuat meriam mainan dari pohon pisang. Kami pasang di tengah-tengah padang rumput di sebelah pekuburan desa kami. Tapi baru saja kami peragakan, ayahku datang merusaknya.&lt;br /&gt;“Hee, kalian bermain jangan ngawur. Bisa celaka desa ini!” bicara ayah bernada marah. Dan pulangnya aku didamprat habis-habisan, serta sempat pula terompahnya singgah di punggungku, karena aku coba membantah.&lt;br /&gt;Wahab memang bandel, pagi berikutnya mengajakku membuat meriam lagi bersama-sama teman-teman yang kemarin juga. Kami buat lebih baik dari yang kemarin, kami olesi dengan anges, hingga dari kejauhan persis meriam sungguhan. Dan kami pasang di tempat yang jauh dari kampung. Lalu kami main perang-perangan lagi, dan tentu saja Wahab yang pegang meriam.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari arah tenggelamnya matahari ada sebuah pesawat udara moncong merah. Kami semua tiarap. Namun tidak begitu dengan Wahab, dia malah beraksi, membidik pesawat itu dengan meriamnya sembari muntah dari mulutnya, “Dwar! Dwar! Dwar!“&lt;br /&gt;Sebentar kemudian pesawat itu kembali mendengung-dengung, dan Wahab lebih serius lagi membidiknya. Sejenak kami dibuat tertegun. Pesawat itu dengan gencar menembaki kami. Dan dua peluru telah mengubah suara dwar dwar Wahab menjadi jeritan panjang. Satu peluru mengenai kepalanya dan satu lagi mengenai paha kanannya.&lt;br /&gt;Beberapa saat kami berpandangan satu sama lain sambil mengelilingi tubuh Wahab yang tergolek. Lantas kami berebutan merangkul dan menggoncang-goncang tubuh yang berlumuran darah itu. “Hab, Hab, Wahab! Wahab! Wahab!“ Suara kami bersahutan memanggilnya. Namun Wahab tetap tergolek. Diam. Dan darah yang mengucur mulai beku. Begitu teman-teman menyadari kalau Wahab sudah mati, mereka menangis semua. Aku, barangkali yang paling sedih di antara mereka, hingga tangisku tak bisa meledak, tersesat di tenggorokan. Cuma air mataku yang menderas. Dan pandanganku semakin kabur. Lalu seputarku gelap dan aku tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;Ketika aku sadar kembali, cuma ibuku yang menjaga. Dan barulah tangisku bisa meledak.&lt;br /&gt;“Fajar, tenanglah!” begitu kata ibu berulang-ulang sambil memijit-mijit keningku, hingga tangisku mereda.&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya aku tak punya lagi teman bermain yang bandel dan seberani Wahab. Aku jadi sepi dan merenung melulu, dan tiap sore kujenguk kuburan Wahab. Aku bacakan ayat-ayat Al-Quran yang aku hapal, sesuai dengan nasihat ustadz Imron, guru ngajiku. “Temanmu, Wahab, sudah dipanggil Allah, kalau kau ingat, bacakan ayat-ayat Al-Quran yang kamu hapal...”&lt;br /&gt;Tiap aku pulang dari pekuburan, gemeretak hatiku. Aku marah dan dendam pada Belanda yang keparat itu, yang merenggut keasyikan kami bermain dan memisahkan aku dengan Wahab. Aku kepalkan tinjuku dan mengumpat-umpat pada Belanda. Tidak jarang kupukulkan juga tinjuku pada apa saja yang ada di sebelahku.&lt;br /&gt;Bila kebetulan aku jumpai jeep patroli atau konvoi truk-truk Belanda, dendamku meluap sebatas ujung rambutku. Dan setiap kali aku jumpai tentara Indonesia, apakah itu Hisbullah, TKR atau pun Sabilillah, ingin aku bergabung dengan mereka. Namun aku selalu kecewa, setiap kali maksudku kuutarakan, mereka mengatakan aku masih kecil.&lt;br /&gt;Suatu hari dendamku tak bisa kubendung dan aku menjumpai ide melampiaskan tanpa menggunakan senjata. Kuajak teman-teman dan mereka setuju. Lalu kami mencari tempat yang strategis, kami bentangkan kawat melintang jalan setinggi leher Belanda yang naik jeep. Sekitar satu jam kami menunggu dan betul juga ada jeep open kap lewat. Kami bersembunyi dan dadaku bergetar hebat penuh dendam. Beberapa detik kemudian dua serdadu Belanda yang naik jeep itu terpental dan jeepnya menabrak pohon asam. Kami berlompatan keluar menghajar Belanda yang sekarat itu.&lt;br /&gt;Satu pistol senapan otomatis 12,7 yang ada pada serdadu itu serta 6 buah granat yang ada di jeep kami ambil. Jeepnya kami bakar dan dua Belanda itu kami seret ke sungai. Lalu kami pulang setelah lebih dulu menyembunyikan rampasan itu.&lt;br /&gt;Esoknya tiga pemuda di kampungku diambil oleh Belanda dibawa ke Tangsi. Salah satu di antara mereka adalah ustadz Imron, guru ngajiku. Setelah satu bulan mereka belum pulang, aku datang ke pak kyai Sodiq, orang yang paling disegani di kampungku. Aku minta pertimbangan serta doa restunya. Beliau cuma menanyakan umurku dan kujawab, 13 tahun, lalu beliau merestui dan memberi nasihat, “Berjuanglah karena Allah untuk membebaskan negaramu, sekali-kali jangan kau dasari dendam. Ikhlaslah!”&lt;br /&gt;Langkahku pertama sepulang dari pak kyai itu, ingin mencegat konvoi untuk memperbanyak rampasan senjata. Aku berunding dengan teman-teman dan mereka sepakat. Lokasi ditentukan di perbatasan kota, tepatnya di Jembatan Wigon yang membatasi kota. Jembatan ini memang cukup memadai untuk dihancurkan dengan sebuah granat.&lt;br /&gt;Tiga hari kami menjaga jembatan itu, namun tidak ada satu pun mobil Belanda yang lewat. Hari yang keempat kami menemukan teknis peledakan. Granat kami pasang di bawah jembatan dan pennya kami ikat dengan kawat yang kami sambung dengan tali. Herman kutugaskan menarik tali dan lima teman lainnya kutugaskan melempar granat. Sedang aku dengan pistol selalu siaga, siap memberi komando. Di sampingku Mail mengawasi ujung jalan dan Udin siap dengan senapan 12,7 nya untuk menghamburkan peluru secara membabi buta.&lt;br /&gt;Tepat jam 12 siang, dari arah barat terdengar derum mobil. Dan setelah dekat ternyata hanya tiga buah truk. Kami siap-siap dan sialan aku grogi, aku baca doa sekenanya. Begitu jarak mobil dengan jembatan kira-kira kurang 30 meter, Herman kusuh narik talinya. Keadaan betul-betul mencekam, dan aku ada pada klimaks ketegangan. Tepat truk yang paling depan menyentuh pinggir jembatan meledaklah jembatan itu. Truk yang depan langsung terjungkal ke sungai yang cukup dalam itu, dan dua lainnya yang berhenti mendadak langsung kami sambut dengan empat lemparan granat. Kemudian Udin segera beraksi dengan 12,7 nya, menghabisi sisa yang lolos dari ledakan granat. Lalu kami beralih perhatian pada mobil yang masuk sungai. Beberapa serdadu langsung tewas dan lainnya yang luka-luka tanpa ampun dihabisi oleh Udin.&lt;br /&gt;Penghadangan itu betul-betul sukses dengan memperoleh rampasan lebih dari yang kami butuhkan. Tapi juga lucu, Mamat setelah melempar granat sempat terkencing-kencing dan doa yang kubaca ternyata doa mau masuk ke WC. Dan sejak itu kami harus meninggalkan kampung halaman, karena Belanda telah membumihanguskan daerah sekitar tempat penghadangan itu. Kami bergerilya terus-menerus dan tambah hari anggota kami semakin banyak. Sampai aku resmi jadi tentara dengan jabatan komandan pleton, temanku sekampung yang 9 itu cuma tinggal 3. Aku, Udin dan Wawan. Enam lainnya telah syahid, berpeluk mesra dengan janji Allah.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Genap 38 tahun Indonesia merdeka, seseorang telah mengusik ketenanganku. Peristiwa yang kemudian terkenal dengan nama peristiwa Jembatan Wigon itu yang pelakunya tetap misterius bagi orang lain, tiba-tiba ada orang yang mengakui sebagai pelaku utamanya. Dan dipublisir lewat beberapa koran. Terlalu. Bukankah aku satu-satunya pelaku yang masih hidup, sebab Udin dan Wawan telah mendahuluiku kemudian.&lt;br /&gt;Oh, untuk apa orang memalsukan sejarah. Bagiku biarlah kemisteriusan itu tetap misterius, agar generasi sesudahku maklum bahwa dalam merebut kemerdekaan banyak pahlawan tak dikenal. Pahlawan yang ikhlasnya melebihi kita yang masih hidup.&lt;br /&gt;Aku baca lagi koran yang mempublisir itu. Lalu aku pandang kaki kananku yang buntung, “Oh, Tuhan, jagalah ikhlasku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 26 Oktober 1983&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-4673324259868255231?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4673324259868255231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4673324259868255231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/peristiwa-jembatan-wigon.html' title='peristiwa jembatan wigon'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_jembatanwigon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-3053009372937140454</id><published>2007-08-20T09:05:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T12:45:47.733-07:00</updated><title type='text'>mutasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/mutasia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/mutasia.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seminggu ini memang hati Cipto keruh. Seperti saat ini ia Cuma diam setelah mendengar suara saran dari Bari, teman sekantornya. Hanya ekspresi wajahnya yang tampak berubah. Semakin keruh dan bimbang.&lt;br /&gt;“Cipto, aku Cuma memberi saran…” tambah Bari memecah kesunyian yang sejenak.&lt;br /&gt;“Bari, masak ada pegawai merangkap dukun…?” Cipto mulai buka mulut kendari sikapnya masih tak bersemangat.&lt;br /&gt;”Kau terlalu lugu, Cip, yang pegang peran sekarang adalah dukun. Jangan dikira pada abad yang dikatakan modern ini orang hanya mengandalkan teknologi dan logika, serta jauh dari dukun,” Bari menghisap rokoknya, “Kalau hanya pegawai merangkap dukun kau anggap aneh, lantas bagaimana dengan terkun ?”&lt;br /&gt;“Kau jangan menambah kebingunganku. Apa pula terkun itu?”&lt;br /&gt;”Terkun adalah dokter dukun. Artinya dokter yang merangkap dukun. Jadi orang yang mengkombinasikan ilmu kedokteran dan kedukunan untuk meditasi...”&lt;br /&gt;“Apa ada?” Cipto mulai menatap Bari.&lt;br /&gt;“Banyak, dan apa salahnya kalau memang hasilnya menakjubkan?”&lt;br /&gt;”Apa salahnya? Aku kira banyak. Barangkali ini salah satu faktor yang menghambat kemajuan kita...”&lt;br /&gt;“Kau terbalik, Cip, malah inilah yang menunjang kemajuan. Kau tidak tahu banyak orang yang mengejar karir lari ke dukun atau orang tua, dan nyatanya berhasil...” begitu pertebal Bari, kemudian ia menyebut beberapa contoh orang yang sukses karena pertolongan dukun.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Bari, terima kasih atas saranmu...” putus Cipto sambil melihat jam tangannya.&lt;br /&gt;”Yah... waktumu tinggal setengah bulan. Aku Cuma memberi saran...”&lt;br /&gt;Kemudian mereka bersama-sama keluar dari ruangan kantor yang sempit itu. Dan ketika dalam perjalanan pulang hati Cipto berbaku hantam antara percaya atau tidak. Maklum selama hidup ia tak mengenal dunia perdukunan. Tahayul. Begitu anggapnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Keraguan betul-betul telah menguasai hati Cipto. Apalagi ketika ia mau menekan bel rumah pak dukun. Masak ada rumah dukun semacam ini komentarnya dalam hati setelah melihat tata perabotnya yang sama sekali tak ada ciri-ciri rumah dukun menurut imajinasinya. Tak ada keris atau tembak yang menempel di dinding dan tidak ada kembang yang tercecer. Tetapi ia paksakan juga untuk menekan bel itu.&lt;br /&gt;“Betul, bu, ini rumah pak Wirya ?” tanyanya ketika seorang perempuan setengah baya membuka pintu.&lt;br /&gt;“Ya, betul, silakan masuk !”  mengikuti perempuan itu, masuk dan duduk. Tak seberapa lama kemudian keluar seorang laki-laki sebaya dengan dia, tetapi lebih kurus sedikit.  Segera menjabat tangannya dan memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;”Pak Wirya, betulkah saya tidak salah alamat ?” sambung Cipto untuk menghilangkan keraguannya.&lt;br /&gt;“Maksudnya bagaimana... ?”&lt;br /&gt;“Saya diberitahu teman saya, bahwa bapak katanya adalah spesialis...”&lt;br /&gt;”Oh, saya mengerti,” sela Wirya, membuat Cipto tak meneruskan kata-katanya.&lt;br /&gt;Hening sejenak, mereka sama-sama menyulut rokok. Setelah Cipto menghisapnya dalam-dalam ia melanjutkan maksudnya.&lt;br /&gt;“Saya ada problem, pak Wirya...”&lt;br /&gt;“Ya, terangkan !”&lt;br /&gt;”Saya adalah pegawai negeri di daerah sini, tempat saya kerja boleh dikata cukup tenang kendati tak begitu basah, dan saya cukup kerasan. Tapi minggu kemarin saya mendengar isu, bahwa saya mau dimutasikan ke daerah lain…” Cipto menghisap rokoknya lagi yang diikuti juga oleh Wirya.&lt;br /&gt;“Saya minta tolong pada bapak…”&lt;br /&gt;“Lho, itu kan konsekuensinya jadi pegawai negeri…”&lt;br /&gt;”Yah, … dan saya maklum. Tapi ada yang belum saya terangkan pada bapak yang membuat saya keberatan. Di samping saya jadi pegawai saya juga punya sawah peninggalan orang tua, saya khawatir sawah itu terlantar…”&lt;br /&gt;“Oh… begitu, kenapa saudara tidak putuskan jadi petani saja. Ada ribuan yang mau mengganti saudara…”&lt;br /&gt;“Ah, bapak, saya senang keduanya,” agak malu Cipto mengatakn hal ini. Wirya hanya manggut-manggut mendengarjawaban itu. Sama dengan yang lain. Desah hatinya.&lt;br /&gt;”Baiklah, tunggu sebentar…” Wirya masuk, dan hati Cipto lega. Mudah-mudahan berhasil. Begitu doanya. Tak seberapa lama Wirya keluar lagi sambil membawa bungkusan kecil.&lt;br /&gt;“Isi bungkusan ini tebarkan di depan kantor saudara…” pak Wirya menerangkan sembari menyerahkan bungkusan kecil itu.&lt;br /&gt;“Terima kasih, pak.”&lt;br /&gt;”Saudara tak usah gelisah, kalau ada perkembangan di luar yang kita harapkan datang saja ke sini...” Cipto mengangguk dan mengeluarkan amplop yang sudah disediakan dari rumah, lalu diletakkan di atas meja dan dia mohon diri.&lt;br /&gt;Dengan perasaan cemas penuh harap Cipto kini tinggal menunggu keputusan atasan. Segala nasihat dukun itu telah dilaksanakan dengan baik. Kadang dalam dirinya timbul kepercayaan kuat, bahwa usahanya pasti berhasil, tapi kadang juga timbul kebimbangan yang sangat. Apalagi kalau sehabis ngomong dengan istrinya, yang sama sekali tidak percaya pada kekuatan dukun, boleh dikata dia hampir putus asa. Ada satu kalimat dari deretan kata-kata istrinya yang terus bergaung di telinganya: “Mas, percaya pada dukun termasuk musyrik, dosa besar…” yah, istrinya sampai hari ini menertawakan usahanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Blong. Hati Cipto sangat lega. Perasaannya bagai seorang atlet yang baru saja menang dalam lomba. Dia tak jadi mutasi. Namanya tak tercantum dalam daftar pegawai yang dimutasikan.&lt;br /&gt;Oh, istriku, kau tak jadi pindah, kita tetap menggarap sawah dan anak-anak tak usah pindah sekolah.&lt;br /&gt;Oh, pak Wirya, kau memang dukun jempolan, dukunnya orang-orang intelek dan spesialis pegawai yang menemui kesulitan.&lt;br /&gt;Oh, Bari, tanpa saranmu tak mungkin aku mengetahui Pak Wirya.&lt;br /&gt;Begitu kata batinnya melonjak-lonjak girang. Kegirangan yang membuat dia lupa diri. Lupa bersyukur pada Allah. Cipto yang semula bimbang kini mempercayai seratus persen kemampuan Pak Wirya.&lt;br /&gt;Dan sesampainya di rumah ia langsung menceritakan pada istrinya, tak seperti biasanya mencari kedua anaknya lebih dulu.&lt;br /&gt;“Minah, aku berhasil. Aku tak jadi pindah…”&lt;br /&gt;”Oh, syukurlah…” Minah menoleh pada suami lalu lanjutnya, “Tapi kau tak boleh mempercayai itu lantaran usaha dukun…”&lt;br /&gt;“Tapi ini kan kenyataan…”&lt;br /&gt;”Tidak! Semuanya Tuhan yang mengatur dan itu hanya kebetulan,” bantah istrinya. Cipto mendekat sambil tetap menjinjing tas kantornya.&lt;br /&gt;“Tidak Minah, pak Wirya memang jempolan. Dia malah menjamin aku kalau ada apa-apa...”&lt;br /&gt;”Ah, sudahlah... istirahatlah dulu!” putus istrinya tak mau berbantah.&lt;br /&gt;Cipto menurut. Ganti pakaian lalu makan siang bersama istrinya setelah memanggil kedua anaknya lebih dulu.&lt;br /&gt;Sebulan kemudian Cipto mengajak istrinya ke rumah Pak Wirya, mau mengucapkan terima kasih dan sekedar memberi hadiah atas jasanya. Istrinya menurut saja, namun dalam hatinya masih tetap tidak percaya dan berusaha membelokkan kepercayaan suaminya.&lt;br /&gt;“Minah, setelah kau bertemu dengan pak Wirya nanti kau pasti sepertiku, menganggap pak Wirya jempolan. Oh, ya, aku belum pernah cerita padamu bahwa pak Wirya juga pegawai sepertiku...”&lt;br /&gt;Minah cuma diam, ia masih berusaha mencari kalimat yang tepat dan bisa menyadarkan suaminya. Ah, dia jadi menyesal, kenapa kalimat itu belum ketemu juga sampai mereka harus turun dari becak karena sudah sampai di depan rumah pak Wirya. Tapi tak apalah, biar habis makan malam saja suasananya tenang. Begitu pikir Minah setelah turun dari becak.&lt;br /&gt;Kala mereka mulai masuk halaman rumah yang berpagar pendek itu langkah Minah agak canggung, ada rasa malu menyelinap dalam dirinya. Maklum selama hidup baru ini kali ke rumah dukun.&lt;br /&gt;“Minah, kau bisa minta bantuannya, agar arisamu keluar duluan,” kata Cipto ketika mau menekan bel. Dan Minah lagi-lagi hanya diam.&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian Cipto mulai ragu setelah berulang kali menekan bel. Dia jadi berprasangkan belnya mati lalu ganti mengetok pintu, tapi masih saja belum ada jawaban. Untung ketika mereka mau balik ada seseorang tetangga yang mau mendekat.&lt;br /&gt;”Cari siapa, pak?” sapa orang itu.&lt;br /&gt;“Pak Wirya!” jawab Cipto.&lt;br /&gt;“Ah, dia sudah pindah bulan yang lalu. Bapak dari mana?”&lt;br /&gt;”Dari sini saja, Cuma mau sambang...” sahut istrinya.&lt;br /&gt;“Sayang, pak Wirya tidak memberi alamat barunya, yang saya ketahui dia dimutasikan kerjanya ke daerah lain. Dan rupanya hal ini dirahasiakan...”&lt;br /&gt;Cipto tercengang mendengar keterangan itu. Dan sewaktu di atas becak istrinya hanya bilang, “Mas, ini kenyataan...”&lt;br /&gt;Dan Cipto hanya bungkam. Tiba-tiba rasa malu menjalar di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 26 September 1983&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-3053009372937140454?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/3053009372937140454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/3053009372937140454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/mutasi.html' title='mutasi'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_mutasia.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-250255223589705240</id><published>2007-08-20T09:04:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T13:07:08.163-07:00</updated><title type='text'>kredit</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/kredit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/kredit.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik barang kredit barangkali tak kalah hebatnya dengan wanita cantik. Menggiurkan. Bisa memacu lebih hebat sifat konsumerisme masyarakat. Dan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat kelas bawah, tapi mewabah juga pada masyarakat kelas menengah ke atas. Kalau saja ada survei tentang kredit, barangkali hanya orang-orang suku Asmat dan Badui yang belum kena wabah kredit ini.&lt;br /&gt;Bayangkan, mulai mobil mewah sampai kue yang harganya dua ratusan dikreditkan orang. Kalau sekarang banyak buku humor diterbitkan dengan berbagai obyek humor, aku rasa humor tentang kredit tak kalah lucunya.&lt;br /&gt;Tapi yang memprihatinkan dari mewabahnya kredit ini jauh lebih banyak dari yang lucu. Dan ada juga kredit yang menimbulkan kelucuan sekaligus keprihatinan. Konon ada bayar nikah dan talak dikreditkan, juga tanah pekuburan untuk orang yang akan dikebumikan.&lt;br /&gt;Dan, ceritaku ini entah masuk yang mana.&lt;br /&gt;Sudah tiga bulan ini aku bekerja sebagai penagih kredit. Perusahaan di mana aku bekerja memang mengkreditkan barang-barang elektronik. Dan bos memilih aku sebagai penagih karena aku dinilai punya bakat sebagai penagih. Kuakui kendati aku laki-laki aku memang agak ceriwis dan tampangku rada mirip bromocorah. Bagi orang yang mengenalku wajahku memang bisa menimbulkan interpretasi macam-macam, tapi kalau sudah kenal betulan aku sebenarnya biasa-biasa saja. Sama sekali tidak cocok sebagai penagih, apalagi disuruh menagih mereka yang pada menunggak.&lt;br /&gt;Bulan pertama, dari 39 orang yang aku tagih hanya 6 orang yang mau bayar. Yang 13 orang tidak ketemu dan yang 20 orang berdalih macam-macam. Dan hampir seluruhnya tv dan video yang mereka kredit sudah dipindahtangankan alias dijual.&lt;br /&gt;Karena aku sebagai karyawan baru, maka yang tidak ketemu dan yang berdalih macam-macam itu aku tagih lagi. Salah satu di antara mereka adalah Ny. Darmo. Pertama aku datang ke rumahnya aku ditemui seorang wanita setengah baya, kukira orang inilah Ny. Darmo, tapi ia dengan sopan menyampaikan kepadaku bahwa Ny. Darmo sedang pergi.&lt;br /&gt;Kali yang kedua wanita itu juga yang kutemui, dan ia menjawab, “Barusan aja, Pak, ibu keluar…”&lt;br /&gt;“Kemana, Bu…?”&lt;br /&gt;“Nggak tahu, tapi katanya sebentar kok…”&lt;br /&gt;“Bisa saya tunggu, Bu…”&lt;br /&gt;“Bisa, silakan masuk…”&lt;br /&gt;Aku masuk ke ruang tamu dan nonton tv 20 inch yang sedang aku tagih pembayarannya.&lt;br /&gt;“Ya, saya adiknya…”&lt;br /&gt;Satu jam aku menunggu, akhirnya aku harus pamit dengan perasaan kecewa. Ny. Darmo tidak juga kunjung datang.&lt;br /&gt;Pada kali yang ketiga kejadiannya juga sama. Aku tidak ketemu Ny. Darmo dan wanita yang mengaku adiknya yang menemuiku.&lt;br /&gt;Bulan kedua prestasi perolehan tagihanku sama. Sang bos hanya senyum-senyum saat kulapori hasil tagihanku. Dan aku diberi lampu hijau pada kali yang ketiga untuk berbuat lebih keras. Apabila perlu menyita barang, sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama.&lt;br /&gt;Aku ingin tertawa. Apanya yang disita? Hampir semua yang kutagih tidak mempunyai barang yang patut disita, kecuali Ny. Darmo dan dua lainnya. Sedang barang kreditannya hampir seluruhnya sudah dijual. Pikiranku tentu saja melayang ke Ny. Darmo dan dua orang lainnya itu. Tapi aku belum pernah jumpa dengan Ny. Darmo, aku belum memahami apa yang menjadi kesulitannya, hingga sampai nunggak lima kali pembayaran.&lt;br /&gt;Kali ini aku tidak naik sepeda motor untuk operasi penagihan, aku membawa Kijang pick up dan mengajak dua orang karena langsung akan mengadakan penyitaan.&lt;br /&gt;Yang pertama kutuju adalah rumah Ny. Darmo yang telah membuat aku penasaran. Aku berangkat sore hari dengan perhitungan Ny. Darmo mesti di rumah, sebab pada saat nggak ketemu aku datang pada pagi hari dan selepas maghrib.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah Ny. Darmo aku tidak langsung menuju rumahnya, melainkan ke rumah RT-nya dulu, sekedar memberitahu biar kalau terjadi kekisruhan Pak RT tidak kaget. Aku diterima dengan baik oleh Pak RT dan dia dapat memaklumi tindakan yang akan kami ambil.&lt;br /&gt;“…dan begini Pak RT, pada saat saya tidak ketemu dengan Ny. Darmo ada seorang wanita yang mengaku adiknya…”&lt;br /&gt;Pak RT  tampak sedikit bingung mendengar keterangan tambahan ini.&lt;br /&gt;“Siapa, ya…?” Setahu saya di rumah Ny. Darmo tidak ada wanita lain. Kalau memang ada tamu dan sampai menginap lebih dari satu bulan kenapa Pak Darmo tidak lapor kemari…”&lt;br /&gt;Aku langsung menangkap hal yang tidak beres pada Ny. Darmo mendengar keterangan Pak RT ini. Jangan-jangan wanita yang mengaku adiknya itu adalah Ny. Darmo sendiri. Kalau memang benar dugaan ini, betul-betul wanita itu kurang ajar. Dia telah mengecohku mentah-mentah. Barang tampangku yang sangar ini dianggap sangarnya ludruk. Kwalat betul wanita itu.&lt;br /&gt;Aku pamit pada Pak RT tanpa ingin tanya lebih lanjut siapa wanita itu sebenarnya. Aku sudah mengantongi kesimpulan. Dia wanita jenis belut putih yang saat ini jumlahnya sudah banyak, yang menaruh suami di bawah telapak kakinya.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah Ny. Darmo aku turun sendirian. Kudapati dua mobil sudah nongkrong lebih dulu di pelataran rumah dan di ruang tamu ada dua orang laki-laki. Aku tak sabar menunggu mereka keluar lebih dulu. Aku yang sebetulnya tidak pernah kasar menjadi tersinggung dianggap sebagai pemain ludruk oleh Ny. Darmo.&lt;br /&gt;“Bu Darmo, saya sebenarnya sudah sabar dan memberi batas waktu yang cukup, tapi ibu rupanya orang yang tak bisa diajak baik…” kata orang yang menghadap Ny. Darmo saat aku di ambang pintu. Dan aku menjadi yakin bahwa benar dugaanku.&lt;br /&gt;“Permisi…” suaraku cukup jelas. Mereka bertiga pada menoleh kepadaku.&lt;br /&gt;“Silakan masuk, Pak…”&lt;br /&gt;Aku masuk dan langsung menempati kursi yang kosong. Pembicaraan mereka menjadi terhenti.&lt;br /&gt;“Bu Darmo, mana adik ibu…?” tanyaku meng-KO.&lt;br /&gt;“Ooo… saudara kembar saya, berusan pulang…”&lt;br /&gt;Nah, benar dugaanku dia belut putih.&lt;br /&gt;“Tapi saya tidak punya kepentingan dengan saudara kembar ibu. Saya mau mengambil tv yang ibu sewa beli…”&lt;br /&gt;“Sama dengan saya, saya mau mengambil kulkas…”&lt;br /&gt;“Saya juga, meja kursi yang kita duduki ini…”&lt;br /&gt;Kami bertiga bersamaan menggeleng.&lt;br /&gt;Ny. Darmo tampak bingung.&lt;br /&gt;“Ibu, tidak sekedar menunggak, tapi telah mempermainkan saya…” tambahku memecah kebisuan.&lt;br /&gt;“Ibu memang keterlaluan…”&lt;br /&gt;“Ya… ibu keterlaluan…”&lt;br /&gt;Kami bertiga menggeleng lagi bersamaan.&lt;br /&gt;Ny. Darmo tampak semakin bingung.&lt;br /&gt;“Bawa saja semuanya,” Ny. Darmo berdiri. “Maafkan saya telah menyusahkan kalian. Nafsu saya telah dilecut setan…”&lt;br /&gt;Kami bertiga mengawasi Ny. Darmo yang ngomong dengan wajah duka sambil berdiri.  &lt;br /&gt;“Bu Darmo, kenapa ibu tidak mengukur kemampuan ibu…?” tanyaku dengan nada iba.&lt;br /&gt;“Nafsuku telah dilecut setan. Aku panas-panasan dengan tetangga sebelah. Kalau dia beli sesuatu aku merasa rendah kalau tidak bisa menyamainya…” Bu Darmo jedah, lalu duduk kembali, “Kemarin lusa barang-barang dia sudah disita dan kini giliran barang-barangku. Angkutlah!”&lt;br /&gt;Selanjutnya ruang tamu itu menjadi sepi. Tanpa ngomong sepatah pun aku mengangkat tv color 20 inch yang bertengger di pojok ruang tamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-250255223589705240?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/250255223589705240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/250255223589705240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/kredit.html' title='kredit'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_kredit.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-2992963505463590575</id><published>2007-08-20T08:55:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T12:52:08.798-07:00</updated><title type='text'>kembali</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/kembali.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/kembali.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;H. Sofwan membaca alhamdulillah berulang-ulang ketika sampai di asrama haji Sukolilo Surabaya bersama rombongan kloter terakhir.&lt;br /&gt;Ia betul-betul bersyuklur dalam usianya yang sudah udzur diberi oleh Allah kekuatan hingga bisa menjalankan ibadah haji dengan sempurna dan selamat sampai di tanah air kembali. Ada kepuasan yang sulit ia gambarkan dengan kata-kata. Bagaimana tidak, ia telah memandang ka’bah dengan sepuas-puasnya, ia telah mencium hajar aswad yang juga pernah dicium oleh nabi Muhammad SAW, ia telah beri’tikaf dan sholat ratusan raka’at di masjidil haram, masjid yang mempunyai nilai tertinggi dari seluruh masjid yang ada di seantero dunia.&lt;br /&gt;Ia telah mencucurkan air mata tuanya di tempat-tempat penting yang penuh dengan kenangan sejarah, sebagai rasa haru, rindu, sesal dan puas.&lt;br /&gt;Ketika mau pulang rasa rindu pada semua keluarganya memang telah menggoda, tapi bersamaan itu pula ada perasaan berat untuk meninggalkan tanah suci Mekkah. Yang aneh bobot rindu terberat malah pada Hilmi, anak sulungnya yang paling nakal, bukan pada adiknya, Muhammad atau Fatimah yang penurut dan baik.&lt;br /&gt;Bayangan Hilmi ini sering hadir pula pada saat ia mau melaksanakan ibadah. Padahal Hilmi yang sudah mendapat status korak di masyarakat dan telah melanggar hampir seluruh larangan agama serta meninggalkan perintahnya hampir saja menggagalkan H. Sofwan untuk pergi haji. Ketika ia mau melunasi ONH-nya uangnya yang satu juta itu telah diambil oleh Hilmi.&lt;br /&gt;Bayangan Hilmi yang selalu hadir itulah membuat ia mengkhususkan do’anya untuk Hilmi ketika berdoa di tempat-tempat mustajabah.&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya Kau Maha Mendengar doa-doa hamba-Mu, Maha Pemberi, Maha Pengabul, Maha di atas segala maha dan tak pernah ingkar pada janji-Mu, aku mohon berilah keluargaku hidayah dan khususnya kepada anakku, Hilmi. Kembalikan dia sebagai anakku, sebagai amanat dari-Mu yang sejak mula kuharapkan tumbuh sebagai orang sholeh. Ya Allah, sesungguhnya Kau telah tetapkan tempat ini sebagai tempat mustajabah untuk berdoa…” begitu potongan doa yang selalu ia panjatkan dengan penuh kekhusu'an di tempat-tempat mustajabah.&lt;br /&gt;Kini H. Sfwan telah dijemput keluarganya dari Sukolilo. Mereka yang selalu was-was atas kesehatan H. Sofwan selama menunaikan ibadah haji tampak senang dan penuh rasa syukur. Bagaimana tidak, sebab H. Sofwan di samping usianya sudah udzur ia juga mengidap jantung lemah. Inipun terakibat seringnya digoda Hilmi.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan mereka pada diam, karena H. Sofwan ketika mau berangkat sudah pesan, “Aku mau nadzar, apabila aku bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik dalam perjalanan pulang aku akan selalu membaca wirid, untuk ini jangan diajak bicara sebelum aku sampai di rumah…”&lt;br /&gt;Sebetulnya H. Sofwan sendiri ingin berbicara banyak. Ia ingin menanyakan mengapa ketiga anaknya tidak ikut menjemput dan ingin menanyakan perkembangan Hilmi. Apakah ia tetap nakal atau sudah sadar. Tapi semua keinginan itu ia simpan saja, karena ia ingin melunasi nadzarnya dulu.&lt;br /&gt;Sementara itu di rumah telah diadakan persiapan seperlunya. Beberapa tetangga kanan kiri sudah pada menunggu di ruang tamu yang kursinya sudah diganti dengan tikar.&lt;br /&gt;Mereka disamping ingin menghormat tetangganya yang baru pulang dari haji, juga ingin mendengar cerita tentang pelaksanaan ibadah haji dan tentang kota Mekkah yang tiap tahun selalu ada perkembangan bangunan fisiknya. Dan, yang lebih dinantikan adalah cerita tentang demonstrasi jama’ah haji Iran yang sampai membawa banyak korban. Bisa dipastikan H. Sofwan seminggu suntuk bakal terus mengulang-ulang ceritanya, karena kebetulan tahun ini di kampungnya cuma dia sendiri yang pergi haji.&lt;br /&gt;Hari masih pagi ketika mobil yang ditumpangi H. Sofwan beserta penjemputnya mulai masuk kampung. Tampak tak ada penyambutan yang berlebihan. Disamping mobilnya cuma satu, juga di kaca depan tidak ada tulisan apa-apa, hingga tak mengundang perhatian anak-anak kecil. Padahal tahun kemarin ketika H. Irfan dan istrinya berangkat dan pulang haji sambutannya luar biasa. Iring-iringan mobilnya mengalahkan iring-iringan mobil pengantin, dan begitu masuk kampung anak-anak kecil pada menyambutnya dengan teriakan, “Wak haji datang! Wak haji datang!...”&lt;br /&gt;Tapi kesederhanaan ini yang dikehendaki oleh H. Sofwan. Ia juga ingin meloporinya, biar kalau ada yang pergi haji lagi tidak usah mencarter banyak mobil sampai membuat orang yang bepergian jadi kesulitan cari mobil taksi.&lt;br /&gt;Turun dari mobil H. Sofwan langsung disambut oleh keluarga dan para tetangga yang dari tadi sudah siap. H. Sofwan membalas sambutan itu dengan membalas salaman ala Arab pada penyambut laki-laki dan mengangguk-anggukkan kepala kepada penyambut perempuan, kecuali yang memang muhrimnya. Keletihan yang sangat tampak ketika di Sukolilo tadi seolah-olah sirna oleh wajahnya yang selalu berbinar-binar dalam menumpahkan rindu itu, dan ia kini telah menghentikan sama sekali wiridnya.&lt;br /&gt;Ketika ia dirangkul Fatimah dengan hujan tangis, timbul tanda tanya di benaknya. Kenapa kedua anaknya yang lain, Hilmi dan Muhammad tidak ikut menyambutnya sampai ia telah masuk ke dalam kamar.&lt;br /&gt;“Bah, mandi dan ganti pakaian dulu, baru temui tamu-tamu abah…” saran istrinya yang sudah meng-abah, padahal biasanya istrinya memanggil pak.&lt;br /&gt;“Ya… sebentar. Itu air zam-zam keluarkan dulu dengan gelas-gelas kecil yang kubawakan dari Mekkah. Tapi aku hanya membawa sepuluh liter…” kata H. Sofwan sambil melepas pakaiannya.&lt;br /&gt;“Biar sedikit asal rata, bah…”&lt;br /&gt;“Ya… biar sama-sama pernah merasakan air satu sumber dengan air yang pernah diminum oleh nabi Ibrahim bersama keluarganya…”&lt;br /&gt;H. Sofwan lalu membantu istrinya mengambil gelas-gelas kecil dari dalam tas besar dan sebelum istrinya keluar ia ingat Hilmi lagi, “Bu, mana Hilmi dan adiknya?” tanya H. Sofwan yang rindunya sudah tak bisa dibendung. Kendati ada rasa was-was dan prasangka yang tidak-tidak pada ketidaknongolan kedua anaknya, utamanya Hilmi, si berandal yang memang jarang ada di rumah.&lt;br /&gt;“Oh, ya… aku sampai lupa. Mereka ada di masjid. Dan, tadi pesan kalau abah sudah datang supaya cepat-cepat aku menghubungi mereka…”&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa mereka?”&lt;br /&gt;“Bah, lima hari setelah kepergian abah, Hilmi banyak memikirkan keselamatan abah dan dia sekarang sudah sadar. Dia jadi penurut dan tekun beribadah. Yang lebih istimewa tiap hari adiknya diajak untuk mendoakan keselamatan abah…”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah…” gumam H. Sofwan lirih. Serasa ia tak mampu menyampaikan kata itu. Hatinya dingin sepeti disiram air es mendengar keterangan istrinya. “Doaku rupanya diterima oleh Allah…” H. Sofwan mengingat-ingat doa-doa yang pernah ia sampaikan di tempat-tempat mustajabah.&lt;br /&gt;Istri H. Sofwan setelah mengeluartkan air zam-zam buru-buru menyuruh Fatimah memanggil kedua kakaknya.&lt;br /&gt;Sebentar kemudian Hilmi dan adiknya datang. Wajah mereka yang tampak bersih karena selalu tersapu air wudhu berbinar-binar. H. Sofwan yang melihat kedua anaknya berpakaian ala santri hatinya berbunga. Ada suatu kesenangan yang selama hidupnya belum pernah ia alami. Kesenangan yang menimbulkan aliran aneh ini membuat jantung H. Sofwan berdegup agak keras.&lt;br /&gt;Sedang Hilmi yang sepeninggal ayahnya merasa banyak bersalah begitu melihat ayahnya langsung menubruk dan merangkul ayahnya erat-erat, “Ayah, ” panggilnya sangat pelan.&lt;br /&gt;Kebahagiaan ayah Hilmi sulit digambarkan. Ia telah menemukan sosok anaknya yang sejati. Anaknya kembali sholeh. Kelakuan bejatnya luruh oleh doa-doanya di tempat-tempat mustajabah. Kebahagiaan yang telah berada di puncak itu telah menghentikan detak jantung H. Sofwan. Ia kembali kepada Allah dengan kepuasan penuh dan dalam rangkulan anaknya yang telah kembali dari kembaraan bejatnya.&lt;br /&gt;Sampai beberapa saat keluarganya dan tamu-tamu di depan belum menyadari, bahwa H. Sofwan yang disambutnya juga telah disambut oleh malaikat Izroil dengan senyum ramah.&lt;br /&gt;Inna Lillahi wainna ilaihi rojiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 7 September 1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-2992963505463590575?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2992963505463590575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2992963505463590575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/kembali.html' title='kembali'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_kembali.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-8789521182761031095</id><published>2007-08-18T09:11:00.000-07:00</published><updated>2007-08-18T09:13:33.424-07:00</updated><title type='text'>korban-korban</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/korban-korban.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/korban-korban.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rumah Lisa yang baru saja ada kesibukan kecil kembali tenang. Beberapa orang yang masih tinggal mencoba membuat ceria suasana. Namun tak berhasil. Suasana tetap saja murung. Beberapa wajah bahkan bagai dirundung duka.&lt;br /&gt;Lisa sendiri menangis di pojok kamar.&lt;br /&gt;Barangkali orang tak akan percaya kalau di rumah Lisa baru saja dilangsungkan pernikahan. Dan yang dinikahkan adalah Lisa sendiri. Lisa yang saat ini menangis dan mengurung diri di kamar.&lt;br /&gt;Subandi, pemuda yang menjadi mempelai laki-laki terlibat percakapan dengan kedua orang tua Lisa. Percakapan yang kaku. Sumbang. Yang diusahakan untuk bisa menutupi suasana.&lt;br /&gt;Anehnya wajah Subandi sedikitpun tak berubah. Ia tenang-tenang saja menghadapi sikap Lisa. Memang dalam perkawinan ini Subandi menerima imbalan lima juta rupiah. Lisa bukan kekasih Subandi, tapi terpaksa dikawinkan karena sudah hamil empat bulan dengan pemuda yang tak bertanggung jawab. Dan Subandi adalah pemuda yang dibeli lima juta rupiah untuk menutupi aib keluarga Lisa. Tetapi Lisa belum bisa menerima kehadiran Bandi.&lt;br /&gt;Setiap kali Lisa bertatapan muka dengan Bandi ia merasa muak. Benci. Dipandangnya Bandi sebagai orang yang mengeruk keuntungan di atas kemalangan dirinya. Sebagai pemuda yang seharga lima juta rupiah. Tak lebih. Tak punya harga diri. Ia betul-betul muak. Muak. Dan muak.&lt;br /&gt;Sesuai dengan perjanjian, selang sebulan Bandi dan Lisa menempati rumah baru. Cuma menempati. Ini persyaratan yang diajukan oleh ayah Lisa agar rahasia kehamilan Lisa tidak diketahui oleh masyarakat sekitarnya. Tepatnya mereka diungsikan ke desa yang cukup jauh dari rumahnya.&lt;br /&gt;Konyolnya Lisa masih saja belum mau menerima Bandi sebagai pendampingnya. Bandi tak ambil peduli, bahkan berusaha menimbulkan kesan pada tetangga barunya, bahwa rumah tangganya adalah wajar. Harmonis. Bahagia sebagaimana layaknya pengantin baru.&lt;br /&gt;Malam pertama Bandi memaksakan diri untuk bicara.&lt;br /&gt;“Lisa, tidak bisakah kau bersikap pura-pura?”&lt;br /&gt;“Aku muak melihatmu…” jawab Lisa terus terang. Tetapi Bandi sudah menduga. Sudah siap menerima yang lebih keji daripada itu.&lt;br /&gt;“Aku sudah tahu, tapi tidak bisakah kau pura-pura ?”&lt;br /&gt;“Aku tak biasa...”&lt;br /&gt;“Jadi kita akan tetap begini ?”&lt;br /&gt;“Yah, akan tetap begini...”&lt;br /&gt;“Sampai tetangga tahu ?”&lt;br /&gt;“Aku tak peduli...”&lt;br /&gt;Bandi diam. Lisa diam. Sepi. Masing-masing dengan pikirannya. Tapi sesungguhnya hati Bandi sudah merasa senang, karena Lisa mau bicara. Ini adalah permulaan. Begitu pikir Bandi.&lt;br /&gt;“Lisa,” Bandi mulai lagi, “Okelah kalau kau menganggap aku seharga lima juta. Tapi di luar itu aku ingin menolongmu. Setidak-tidaknya kau bisa menganggap aku sebagai teman bicara dalam pengasingan ini...”&lt;br /&gt;Lisa tetap diam. Menangis. Lalu mengunci diri di dalam kamar.&lt;br /&gt;Bandi meneruskan mengatur letak perabotan. Jam dinding dan sebuah lukisan kapal hampir tenggelam ia gantung di ruang depan. Kemudian ia tatap jam dinding yang baru ia pasang itu. Jam 23.30. lantas ia merebahkan diri di sofa.&lt;br /&gt;Paginya Lisa hanya memasak untuk dirinya dan tetap membisu pada Bandi.&lt;br /&gt;“Lisa, aku pergi ke kota...” kata Bandi pamit sambil mengawasi Lisa yang sedang memasak. Yang dipamiti diam tak bereaksi. Ah, Lisa. Gumamnya, lalu keluar.&lt;br /&gt;Bandi membeli seperangkat tape recorder stereo dan beberapa kaset. Aneh. Sungguh aneh bagi Lisa, semua kaset yang dibeli oleh Bandi berisi lagu-lagu kesayangannya. Langkah setapak Bandi, Lisa terpaksa mendengarkan lagu-lagu itu.&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya Bandi menyibukkan diri dengan berternak ayam. Lisa mulai berani menyetel tape. Bandi menambah perabotnya dengan TV berwarna dan sepeda motor. Majalah kesayangan Lisa pun setiap terbit ia beli.&lt;br /&gt;Lisa tambah heran. Setiap barang yang dibeli Bandi selalu yang disenangi. Sampai-sampai pada bunga-bunga yang ditanam Bandi di halaman muka. Hati Lisa berangsur luluh dan mulai simpati pada Bandi.&lt;br /&gt;Suatu malam, sehabis Lisa makan, Bandi menghampirinya.&lt;br /&gt;“Lisa, sudah tiga bulan kita dalam diam. Dan dua bulan lagi anakmu mungkin lahir. Tak baik terlalu egois. Kau harus memikirkan anakmu...” Bandi memandang wajah Lisa yang menunduk, “Kau tak boleh bersedih terus-menerus, kesehatanmu harus kau jaga. Demi anakmu dan demi dirimu sendiri...” tutur Bandi semakin berani.&lt;br /&gt;Lagi-lagi Lisa Cuma menangis. Rasa simpati pada Bandi dan bencinya pada lelaki silih berganti menguasai dirinya.&lt;br /&gt;“Lisa, kuminta malam ini kau sudi mendengar ceritaku. Cerita yang mendorongku untuk menolongmu.&lt;br /&gt;Aku punya satu saudara. Perempuan. Dia adikku, namanya Mia. Mia Amelia. Aku sangat menyayanginya.&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu dia mengalami nasib sepertimu. Mengandung dan ditinggal lari oleh pacarnya. Keputusan keluargaku seperti keluargamu. Tapi aku tidak. Aku ingin membunuh pemuda bangsat itu…” Bandi berhenti. Suaranya mulai berat dan Lisa mulai memperhatikan, lalu lanjutnya, “Untung saja pemuda itu tak ketemu. Akhirnya adikku jadi kawin dengan pemuda yang dibeli oleh ayah. Dan konyolnya pemuda itu sama brengsek dengan pemuda yang telah menghamilinya. Dia penjudi dan pemabuk. Memeras keluarga dan adikku seenak kemauannya.” Bandi mengatur napasnya yang terhanyut emosi, ekspresi wajahnya berubah merah. Ia ingat penderitaan adiknya yang tak kepalang tanggung.&lt;br /&gt;“Lalu?” sela Lisa menunjukkan respon.&lt;br /&gt;“Akhirnya adikku mati minum Baygon. Tak kuat memikul derita yang menggunung...” Bandi membenamkan wajahnya ke meja makan beberapa saat, kemudia sambil menatap Lisa, “Kau tentunya tahu kesedihan hatiku. Begitu remuk. Dan itulah yang mendorongku ingin menolongmu. Aku sangat kasihan padamu, dan tak berharap peristiwa yang menimpa Mia terulang...” dengan gerakan lesu Bandi bangkit memegang pundak Lisa. “Lisa, masihkan kau menganggap aku seharga lima juta?”&lt;br /&gt;Lisa Cuma menggeleng. Ingin ia menatap wajah Bandi, meminta maaf. Namun rasa sesal dan malu menyergap dirinya, hingga ia menelungkupakan wajahnya ke meja. Kemudian isak tangisnya yang terdengar lirih.&lt;br /&gt;Paginya Lisa sudah menyediakan sarapan untuk Bandi. Mereka tampak wajar sebagai orang berumah tangga. Yah, tiga bulan lebih mereka baru kelihatan bersanding. Damai. Wajah Lisa yang manis dan ceria tampak telah pulih kembali.&lt;br /&gt;Sehabis sarapan ganti Lisa yang menceritakan masa lalunya, yang rupanya tak banyak geser dengan cerita Mia. Kesetiaan yang membabi buta yang menyebabkan ia mengorbankan mahkota kewanitaannya.&lt;br /&gt;“Dan betapa aku muak melihat mas Bandi semula, kuanggap semua lelaki sama saja. Lisa minta maaf atas tuduhan ini...” Lisa menatap Bandi yang dari tadi mendengar ceritanya.&lt;br /&gt;“Kau tak salah. Aku menyadari kebencianmu...”&lt;br /&gt;“Mas Bandi yang kuherankan kesenangan kita banyak sama. Lagu-lagu dan bunga-bunga yang mas Bandi senangi adalah juga kesayanganku...”&lt;br /&gt;“Tak usah heran, sebelum pindah aku memang telah tanya pada keluargamu...”&lt;br /&gt;“Oh, kau betul-betul orang yang baik...”&lt;br /&gt;“Jangan tergesa menilaiku...”&lt;br /&gt;“Tidak, ini memang kesimpulan sementara...”&lt;br /&gt;“Sudahlah, Lisa, aku lihat ternak dulu...” setelah berkata begitu Bandi bangkit dan segera memeriksa ternaknya.&lt;br /&gt;Lisa mengawasi sambil mencuci piring. Ia baru sadar kalu Bandi gagah. Dalam pakaian training yang kini dikenakan, potongan tubuhnya betul-betul atletis.&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya mereka tampak harmonis dan rukun. Sudah tiga kali Bandi mengantar Lisa kontrol kandungannya dengan naik becak. Siapapun yang melihat pasti merasa iri dan sama sekali tidak menyangka kalau mereka belum pernah tidur satu ranjang. Mereka memang sudah menyatu, sudah berbagi suka dan duka. Namun kata-kata cinta belum pernah tersisipkan di antara percakapan mereka.&lt;br /&gt;Bandi memang dari awal sudah mencintainya, kini cintanya tambah sempurna. Sering ketika Lisa sedang terlena tidur ia menatapnya dalam-dalam. Membelai rambutnya perlahan. Di saat begitu kadang dendamnya timbul pada lelaki pengecut yang sampai kini namanya tetap dirahasiakan oleh Lisa. Dan ia sendiri tak pernah mengejar, ingin tahu. Takut akan mengungkit kepedihan Lisa.&lt;br /&gt;Lisa juga tak jarang waktu Bandi membelai-belainya ia tersadar. Merasakan sentuhan kasih sayang Bandi yang tulus. Tapi ia tetap saja pura-pura tidur, ingin lebih lama merasakan belaian itu.&lt;br /&gt;Memasuki bulan kesembilan kandungannya, Lisa tampak tambah sibuk. Segala keperluan untuk menyongsong kelahiran bayinya telah disiapkan. Bandi sendiri telah membelikan box mungil.&lt;br /&gt;Pagi ini Bandi kelihatan panik, mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Lisa ada di kamar bersalin sedang menyambung nyawa untuk kelahiran anaknya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada lelaki dengan kursi rodanya mendekat pada Bandi. Lelaki dengan kedua kakinya yang buntung itu kelihatan gagah, kendati agak kurus dan pucat. Di sampingnya berdiri gadis cantik. Bandi mengawasi keduanya bergantian.&lt;br /&gt;“Mas, suami Lisa?” tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;Lelaki itu menyalami Bandi.&lt;br /&gt;“Saudara siapa?” tanya Bandi.&lt;br /&gt;“Ah, nanti saudara tahu...”&lt;br /&gt;Bandi duduk di kursi panjang yang bercat putih dan mempersilakan gadis pengantar lelaki buntung itu duduk.&lt;br /&gt;“Saudara dari mana?” tanya Bandi mengulang.&lt;br /&gt;“Saya dari jauh, mas...” lelaki buntung yang misterius itu mendesah. Mengeluarkan sapu tangan, lalu membersihkan peluh di kening dan lehernya. Kemudian, “Baiklah saya akan menceritakan dengan jelas semuanya siapa saya...”&lt;br /&gt;Bandi diam saja. Separuh perhatiannya masih pada Lisa.&lt;br /&gt;“Keluarga Lisa mana, mas?”&lt;br /&gt;“Mereka sengaja tidak diberitahu oleh Lisa...”&lt;br /&gt;“Oh...!”&lt;br /&gt;“Sejak Lisa diasingkan mereka tak pernah menjenguknya.”&lt;br /&gt;“Oh...!” keluh lelaki itu lagi. Dan hampir saja bersamaan dengan adiknya yang ohnya lebih keras, Cuma ditahan dengan dekapan tangan.&lt;br /&gt;Bandi jadi memperhatikan lelaki dan adiknya yang ber-oh-oh setengah heran itu.&lt;br /&gt;“Nama saya Santoso, mas, dan ini, Wati, adik saya...” lelaki yang akhirnya mengaku bernama Santoso itu menunjuk gadis pendampingnya, yang ditunjuk menganggukkan kepala, “Saya lelaki sial, delapan bulan yang lalu mendapat kecelakaan lalu lintas. Dan memaksa kedua kaki saya diamputasi...” Santosa jeda sejenak, memandang kedua kakinya yang buntung dengan tatapan mata sedih. “Dan tragisnya saat itu saya sudah kesengsem. Lengket. Serasa tak bisa hidup tanpa dia. Tapi saya tak mau pacar saya ikut menanggung beban atas musibah yang menimpa saya. Lalu saya pindah dari Surabaya, ikut om di Medan. Dan saya minta pada keluarga saya untuk betul-betul merahasiakan...” Santoso berhenti bercerita. Tampak ia berusaha menahan air matanya yang mau jatuh.&lt;br /&gt;Bandi terhanyut oleh cerita itu. Sejenak lupa pada Lisa yang mengerang.&lt;br /&gt;“Apakah saudara pacar Lisa?” tanya Bandi yang sudah menangkap ekor ceritanya.&lt;br /&gt;“Yah, tepat. Malahan sudah nikah. Nikah secara diam-diam, karena kedua orang tua kami tidak merestui. Saya berharap Lisa segera hamil. Biar kami dikawinkan secara terang-terangan, kendati mesti mendapat dampratan terlebih dulu. Tapi musibah itu mendahuluinya...”&lt;br /&gt;“Tuan Subandi!” Bandi berdiri dan buru-buru mendekat suster yang memanggilnya. Santoso bersama adiknya ikut mendekat di belakang Bandi. Lalu seorang suster lain yang menggendong bayi dari kamar bersalin juga mendekat, “Anak tuan cakep seperti tuan...” katanya.&lt;br /&gt;Bandi, Santoso dan adiknya melongok bayi itu. Suster yang membawa bayi membungkuk, memperlihatkan bayinya pada Santoso.&lt;br /&gt;“Mas, biarlah saya yang mengumandangkan adzan di telinganya...” pinta Santoso.&lt;br /&gt;Bandi mengangguk.&lt;br /&gt;Suara orang memanggil sholat itu bergema pelan. Merdu dan bergetar. Mendahului suara-suara lain yang akan didengar bayi itu.&lt;br /&gt;Bandi terpaku haru, dan gadis di sebelahnya berderai air mata. Begitu juga kedua suster yang menyaksikan ikut terpaku. Mereka semua bahagia, tetapi haru dengan perasaan masing-masing.&lt;br /&gt;Saat suster yang menggendong bayi mau kembali Santoso menahannya sejenak. Ia pegang pipi bayi yang merah itu. Kemudian mengantarnya dengan pandangan tajam.&lt;br /&gt;Mereka kembali ke tempat tunggu semula.&lt;br /&gt;“Mas Bandi, tolong rahasiakan kalau aku pernah ke sini…” suara Santoso masih berat.&lt;br /&gt;“Apakah saudara tidak ingin ketemu Lisa dulu?”&lt;br /&gt;“Maksud semula memang demikian, tapi kurasa lebih baik tidak. Aku ingin dia bahagia. Punya masa depan. Tak baik mengusiknya…”&lt;br /&gt;“Oh...!” keluh Bandi yang disergap haru.  &lt;br /&gt;“Yah, masa depan. Tolong jangan disia-siakan mereka!” selesai berkata begitu Santoso menunduk.&lt;br /&gt;Bandi juga menunduk.&lt;br /&gt;Gadis yang memegang kursi roda Santoso tak bisa membendung air matanya.&lt;br /&gt;Sebentar kemudian kursi roda itu perlahan menggelinding, menjauhi Bandi. Suara sepatu gadis yang mendorongnya kian lirih. Sementara tangis bayi terdengar melengking tinggi di sal. Santoso menoleh sejenak, lalu menghilang di tikungan.&lt;br /&gt;Bandi yang mematung tak mendengar detak sepatu dan lengking tangis bayi itu. Ah...! Cuma itu yang keluar dari mulutnya lima menit kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, Medio Agustus 1984&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-8789521182761031095?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/8789521182761031095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/8789521182761031095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/korban-korban.html' title='korban-korban'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_korban-korban.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-6100407083375370037</id><published>2007-08-18T08:43:00.000-07:00</published><updated>2007-08-18T08:52:41.189-07:00</updated><title type='text'>shopping</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/shopping.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/shopping.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Pap, ada tempat tidur model baru, cocok sekali dengan kamar kita…”&lt;br /&gt;“Iya...”&lt;br /&gt;Potongan pembicaraan itu terjadi minggu yang lalu antara pak Lukman dengan istrinya sewaktu mau tidur. Namun sampai malam ini pak Lukman masih terusik otaknya oleh pembicaraan itu. Ia tahu persis ekor pembicaraan itu, kalau istrinya ingin beli tempat tidur yang baru saja dilihatnya di furniture exposition. Padahal tempat tidur Alganya belum sampai setahun.&lt;br /&gt;Memang sejak perusahaan pak Lukman maju pesat istrinya telah menjadi konsumtif. Bulan kemarin istrinya baru dibelikan mobil pribadi. Pak Lukman yang didesak terus-menerus akhirnya terpojok juga untuk menuruti kemauan istrinya.&lt;br /&gt;Inilah yang sebenarnya membuat pak Lukman pusing. Ia khawatir istrinya semakin jauh menjadi orang yang tak pandai bersyukur, konsumtif dan pada akhirnya akan menjerumuskan dirinya.&lt;br /&gt;“Pap, bulan depan shopping yok...” kalimat ini baru diucapkan tadi malam oleh istrinya. Dan pak Lukman paham betul kalau yang dimaksud istrinya paling tidak shopping ke Singapura.&lt;br /&gt;Gila. Masak tiga bulan sekali mesti ke luar negeri. Aku tidak bisa terus-menerus menuruti kemauan istriku. Yah... harus aku stop. Tapi aku memang telah berjanji. Aku ingat betul kata-kata itu, “Aku akan menuruti apapun yang kau minta kalau kau mau jadi istriku...” yah... begitu kataku saat mengajak kawin istriku dan kini dia menuntut.&lt;br /&gt;Baik aku stop tanpa melanggar janjiku.&lt;br /&gt;Lukman masih bergulat dengan pikiran-pikirannya ketika istrinya mendekat, “Bagaimana pap, apa jadi kita shopping...?” tanya istrinya tetap tanpa ekspresi lalu duduk berseberang dengan Lukman.&lt;br /&gt;“Oke, tapi setelah dari shopping kau harus bersedia mengikuti acaraku...” jawab Lukman.&lt;br /&gt;“Tentu... dengan senang hati...” jawab istrinya.&lt;br /&gt;Ternyata istrinya mengajak ke Hongkong. Dan selang beberapa minggu pulang dari Hongkong ganti Lukman mengajak istrinya. Maka pagi itu tampak Lukman dan istrinya bersiap-siap. Dani anak merka satu-satunya yang masih berumur tiga tahun diserahkan ke bi Inah, pembantu mereka. Rupanya perjalanan yang direncanakan Lukman tidak terlalu jauh, sebab mereka tanpa membawa pakaian ganti.&lt;br /&gt;“Pap, kita ke mana?” tanya istrinya sewaktu mobil yang ditumpangi baru saja meluncur ke jalan raya.&lt;br /&gt;“Pokoknya hari ini kita betul-betul rekreasi. Kuharap kau konsekuen...”&lt;br /&gt;“Iya... tapi ke mana?”&lt;br /&gt;“Biar surprise dong...!”&lt;br /&gt;Istrinya diam. Ia rupanya paham kebiasaan suaminya yang suka membuat surprise. Sementara Soleh, supir mereka membelokkan mobil ke arah kiri dan tak lama kemudian mereka berhenti di depan wisma rehabilitasi sosial.&lt;br /&gt;Lukman turun dan langsung menuju pos penjagaan untuk melapor maksud kedatangannya. Kemudian dengan diantar oleh seorang petugas, mereka menyaksikan kegiatan yang ada dan menengok seluruh ruangan. Lukman sendiri sempat berwawancara dengan beberapa orang penghuninya yang ternyata semuanya bekas gelandangan.&lt;br /&gt;Dari wisma rehabilitasi sosial mereka berganti obyek ke panti asuhan anak yatim. Istri Lukman yang sedari tadi bingung semakin bingung. Ia belum bisa menangkap apa tujuan suaminya mengunjungi kedua tempat itu. Di sini Lukman juga berwawancara dengan beberapa petugas dan beberapa anak yatim. Kemudian sebagaimana yang diperbuat di wisma rehabilitasi sosial tadi, ia membagi-bagikan uang kepada anak-anak yatim tersebut. Hati Lukman sempat berbunga melihat istrinya meneteskan air mata menyaksikan anak-anak itu.&lt;br /&gt;Tengah hari mereka keluar dari panti asuhan dan beralih ke rumah sakit. Di sini Lukman mengajak istrinya untuk menengok seluruh kamar yang ada di rumah sakit itu, yang dihuni oleh orang-orang yang semuanya sedang sakit.&lt;br /&gt;“Pap, kasihan mereka…” kata istrinya saat menyaksikan orang-orang yang badannya habis diamputasi. &lt;br /&gt;“Ya,” Cuma itu jawab Lukman. Tapi hatinya kini betul-betul berbunga kendati pada sisi lain ia sedih seperti istrinya.&lt;br /&gt;Sekeluar dari rumah sakit Lukman memerintah sopirnya menuju ke pekuburan yang letaknya di luar kota, tapi sebelum sampai di situ Lukman menyuruh berhenti ketika melihat ada sebuah gedung yang sedang dibangun.&lt;br /&gt;“Mam, yok kita ke tengah bangunan itu…”&lt;br /&gt;Istrinya Cuma mengangguk. Dan ternyata Lukman hanya ingin menunjukkan pekerja-pekerja wanita yang sedang mengangkut batu dan bahan bangunan lainnya.&lt;br /&gt;Lukman memanggil salah seorang dari kuli perempuan setelah terlebih dahulu meminta ijin kepada mandor bangunan.&lt;br /&gt;“Berapa gaji satu hari?” taya Lukman setelah kuli perempuan yang dipanggil tadi mendekat.&lt;br /&gt;“Seribu lima ratus, Tuan…”jawab perempuan itu sambil mengusap peluh di lehernya.&lt;br /&gt;“Berat?” lanjut Lukman.&lt;br /&gt;“Ya Tuan, terpaksa…”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Ada dua anak yang menjadi beban saya…”&lt;br /&gt;Lukman terus melanjutkan pertanyaannya, sementara istri Lukman menyaksikan perempuan itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Ia melihat kulit wanita itu menjadi legam karena dibakar mentari terus-menerus dan peluh menjadikan kulit legam itu mengkilap. Diam-diam rasa iba merambati hatinya berbarengan dengan rasa syukur atas keberadaannya.&lt;br /&gt;Lukman mengakhiri pertanyaannya dengan memberikan dua lembar uang puluhan ribu. Perempuan itu membalas dengan terima kasih berulang-ulang dengan wajah yang berbinar-binar.&lt;br /&gt;Sebentar kemudian mobil Lukman meluncur ke pekuburan.&lt;br /&gt;“Linda, ini obyek terakhir refreshing kita…” kata Lukman kepada istrinya ketika memasuki pintu gerbang pekuburan. Istrinya hanya menunduk, matanya menatap macam-macam nisan yang berbaris tak rapi. Tidak seperti biasanya kalau memasuki plasa, matanya begitu lincah menatap barang-barang dan banyak komentar tentang barang-barang itu.&lt;br /&gt;Sampai di tengah pekuburan Lukman berhenti.&lt;br /&gt;“Kita juga akan seperti mereka, meninggalkan dunia yang kita cintai dengan hanya membawa sepotong kain kafan…” kata Lukman mengawali khotbahnya. Tapi ia sendiri tidak jadi meneruskan kata-katanya. Ia telah terjebak oleh keharuan dan kesadaran yang diciptakan oleh situasi dan kondisi pekuburan. Ia ingat umurnya yang sudah empat puluh tahun. Ia ingat kewajiban agama yang banyak ia lupakan.&lt;br /&gt;Lukman menoleh kepada istrinya dan mengajaknya pulang dengan isyarat anggukan kepala. Lalu mereka pulang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.&lt;br /&gt;“Pap, sudah jam 13.30 kita sholat dulu, yok!” mendengar ajakan istrinya ini hati Lukman berbongkah-bongkah senang, karena sudah hampir dua tahun tak pernah sholat.&lt;br /&gt;“Oke, biar terlambat kesadaran ini tak perlu kita tunda,” begitu jawab Lukman kemudian.&lt;br /&gt;Mobil mereka belok ke arah masjid, namun tiba-tiba ada truk dari belakang dengan kecepatan tinggi. Dan truk itu hampir saja menghantam mobil mereka. Tapi rupanya Tuhan belum menghendaki hinggi truk itu berbelok arah ke lapangan.&lt;br /&gt;Meskipun begitu istri Lukman sempat pucat dan terpaku beberapa saat lamanya.&lt;br /&gt;Seminggu setelah acara itu, ketika mereka baru saja makan malam Lukman berkata, “Mam, tahun depan saja kita shopping lagi,” istrinya yang sudah nangkap penuh tujuan rekreasi minggu kemarin cuma diam dan memandang Lukman dengan sorot mata heran.&lt;br /&gt;“Setuju?” sesak Lukman.&lt;br /&gt;“Ke mana?”&lt;br /&gt;“Ke Saudi.”&lt;br /&gt;“Haji?”&lt;br /&gt;“Insya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 27 Agustus 1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-6100407083375370037?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/6100407083375370037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/6100407083375370037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/shopping.html' title='shopping'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_shopping.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-5272003703257693561</id><published>2007-08-18T08:37:00.000-07:00</published><updated>2007-08-18T08:40:22.153-07:00</updated><title type='text'>singa dari bentangsari</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/singa-bentangsari.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/singa-bentangsari.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah untuk kali yang keberapa pemuda-pemuda itu dikecewakan oleh pak Malik. Lagi-lagi mereka pulang dengan tangan hampa. Pak Malik yang dirayu dengan bermacam cara tetap saja bungkam. Wajar kalau ia tambah wibawa. Betapa tidak, pada saat orang lain ramai-ramai menuntut haknya sebagai veteran 45, pak Malik malah bungkam tentang perjuangannya.&lt;br /&gt;Memang orang yang dijuluki singa revolusi dari desa Bentangsari itu kian tua kian alim. Ia selalu menolak pemberian hadiah dari manapun datangnya yang selalu dikaitkan dengan perjuangannya semasa revolusi dulu. Malah tidak jarang ia menolak sambil menangis. Padahal menangis dulunya adalah pantangan bagi pemuda Malik. Teman-temannya yang gugur oleh peluru Belanda tidak ada yang ditangisi, kecuali dijadikan pelecut semangatnya. Bahkan ketika ayah ibunya mati dengan perantara mortir Belanda ia hanya meratap dengan ekspresi dendam yang membara, “Aku akan balas bajingan-bajingan itu!!!” itulah kalimat yang dipekikkan ketika usai mengubur jenazah ibu bapaknya.&lt;br /&gt;Barangkali pak Malik sudah puas melihat anak cucunya hidup merdeka. Bisa mencari ilmu dengan leluasa dan fasilitas hidup yang cukup, serta dengan jabatannya sendiri selaku penjaga masjid.&lt;br /&gt;Tapi sikap pak Malik itu membuat pemuda-pemuda itu penasaran. Terutama Ardhi yang mempelopori pemuda-pemuda itu untuk membukukan cerita perjuangan pak Malik dengan teman-temannya, khususnya yang sekampung. Ayah Ardhi sendiri adalah sahabat karib pak Malik yang gugur di medan laga.&lt;br /&gt;Sebetulnya sejarah kecil yang ditulis oleh para pemuda itu sudah hampir selesai, tinggal menunggu pelengkap dari pelaku utamanya, yaitu pak Malik. Tapi kini jalan semakin sempit bagi mereka untuk mengorek cerita dari pak Malik.&lt;br /&gt;“Bagaimana, apakah kita tetap menunggu cerita dari pak Malik?” tanya Ardhi pada teman-temannya.&lt;br /&gt;“Aku pikir tak usah. Toh kebenaran cerita yang kita tulis sudah dapat dipertanggungjawabkan…” jawab Amron.&lt;br /&gt;“Yah… empat sumber sudah cukup…” Laila menopang pendapat Amron.&lt;br /&gt;“Cukup sih cukup, tapi kalau pak Malik mau memberi keterangan buku yang kita tulis akan lebih sempurna. Sebaiknya kita coba sekali lagi…” sanggah Dirman diplomatis, “aku punya ide…”&lt;br /&gt;“Coba jelaskan!” pinta Ardhi yang terpancing penasaran.&lt;br /&gt;Dirman mengangguk-anggukkan kepala.&lt;br /&gt;“Ayo, Dir, jelaskan. Penasaran nih...“ sambung Laila tak sabar.&lt;br /&gt;“Oke, tapi kita duduk dulu. Jangan di tengah jalan seperti ini…”&lt;br /&gt;Mereka setuju dengan ususl Dirman. Dan sebentar kemudian mereka sudah duduk di ruang tamu rumah Laila.&lt;br /&gt;“Ideku simple saja…” Dirman memotong suaranya dengan meminum minuman yang baru saja dikeluarkan oleh Laila, “kita tidak usah meminta cerita pada pak Malik. Kita baca saja cerita yang telah kita tulis di hadapan pak Malik, kemudian pak Malik tinggal menjawab benar atau tidak. Tapi resikonya kita bisa dianggap pemuda yang tak sopan dan tidak menghargai pahlawannya…”&lt;br /&gt;“Gawat juga…” desah Amron. Yang lain pada diam, menimbang-nimbang.&lt;br /&gt;Akhirnya mereka setuju dengan ide yang dianggap kurang sopan itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pak Malik baru saja menunaikan sholat Isya’ ketika para pemuda itu datang.&lt;br /&gt;“Apa lagi? Sudah kukatakan aku tak mau bercerita tentang masa revolusi,” kata pak Malik mendahului mereka setelah berbasa-basi sebentar.&lt;br /&gt;“Kami tidak minta cerita, pak Malik…” jawab Laila yang memang ditunjuk sebagai juru bicara.&lt;br /&gt;“Lantas apa?”&lt;br /&gt;“Kami yang ingin bercerita dan pak Malik hanya kami mohon untuk mendengarkan…” lanjut Laila.&lt;br /&gt;“Yah, habis pak Malik diam saja, ya kamilah yang bicara…” tambah Ardhi.&lt;br /&gt;“Pak Malik tidak keberatan, kan?” tanya Laila.&lt;br /&gt;Pak Malik diam. Dan pemuda-pemuda itu menunggu dengan harap-harap cemas.&lt;br /&gt;“Baiklah…”&lt;br /&gt;Horeee! Berhasil! Begitu pekik mereka mendengar jawaban dari orang tua yang mereka kagumi itu. Dan tentu saja pekik riang itu cuma dalam hati. Tak seberapa lama kemudian mereka memberi isyarat pada Laila untuk memulai.&lt;br /&gt;“Begini pak Malik, sebetulnya kami telah berupaya membukukan cerita-cerita kepahlawanan pemuda-pemuda desa sini pada masa revolusi dulu...” Laila diam sejenak, terlihat olehnya wajah pak Malik mulai berubah. Tapi ia terlanjur nekad, “Terutama yang menyangkut pak Malik...”&lt;br /&gt;Pak Malik kontan berdiri begitu mendengar namanya disebut, lalu masuk meninggalkan para pemuda itu di ruang tamu. Rasa senang para pemuda itu pada awal tadi mendadak sontak berubah menjadi pesimis. Mereka saling pandang dan tampak putus asa. Beberapa lama kemudian perasaan mereka berubah lagi menjadi tanda tanya yang besar kala melihat orang tua itu keluar membawa nampan berisi air teh.&lt;br /&gt;“Silakan minum!” kata pak Malik ramah setelah meletakkan gelas-gelas itu di atas meja.&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda itu langsung meminumnya untuk menghilangkan ketegangan.&lt;br /&gt;“Aku sebagai orang tua sangat senang dengan kegigihan dan ketekunan kalian. Tadi sebetulnya aku menolak jebakan kalian...“ pak Malik menyulut rokok yang dari tadi sudah dipegangnya, “tapi setelah aku pikir dalam-dalam aku menyadari bahwa sikap bungkamku selama ini adalah salah. Salah besar! Seharusnya sejak dulu aku menceritakan pada kalian, biar semuanya tahu dengan jelas...” orang tua itu menghisap rokoknya kuat-kuat. Wajahnya berubah menjadi tenang. Tenang sekali seolah-olah memberi kesempatan para pemuda itu untuk mengatur konsentrasinya. Dan hal ini memang diperbuat oleh pemuda-pemuda itu dengan membetulkan letak duduknya masing-masing. “Sebab penulisan sejarah yang salah akan berakibat fatal. Apalagi kalau kesalahan itu disengaja...”&lt;br /&gt;“Itulah sebabnya yang membuat kami terus mendesak pada bapak...” Ardhi sudah mulai bicara lagi.&lt;br /&gt;“Yah, aku menyadari...” pak Malik berdiri, “Sekarang mau kalian bagaimana?”&lt;br /&gt;“Sebaiknya kami yang bertanya dan bapak tinggal menjelaskan. Terus terang kami sudah mendengar banyak tentang kehebatan bapak dari pak Tejo, pak Rosyid dan pak Rohim...” jawab Laila.&lt;br /&gt;“Yah... mereka senang sekali cerita tentang kehebatan bapak...” topang Ardhi.&lt;br /&gt;Pak Malik menunduk mendengar pujian itu.&lt;br /&gt;“Bisa kami mulai, pak?” tanya Laila.&lt;br /&gt;“Bisa... silakan...”&lt;br /&gt;Segera saja terjadi tanya jawab antara pemuda-pemuda itu dan pak Malik. Dan ternyata semua yang mereka dengar dari pak Rosyid, pak Tejo dan pak Rohim dibenarkan. Pak Tejo pernah menceritakan bahwa dulu pemuda Malik kalau perang sering berdiri dan tak pernah gentar sedikitpun. Kelebihan pemuda Malik yang diketahui oleh pak Rohim adalah dia pernah menghadang konvoi Belanda sendirian dan bahkan sambil berdiri di tengah jalan, tapi cukup membuat Belanda itu lari tunggang langgang. Dan pak Rosyid sampai sekarang belum bisa melupakan keberanian temannya ini, yang menaiki tank Belanda lalu memasukkan granat tangan ke dalamnya yang akhirnya mengkoyak-moyak bule-bule keparat yang ada di dalamnya. Yah semua cerita itu dibenarkan oleh pak Malik. Tapi di wajah tuanya itu tak tampak sedikitpun kebanggaan, malah guratan-guratan sedih menampak jelas. Barangkali ia ingat teman-temannya yang telah gugur. &lt;br /&gt;“Kami betul-betul bangga sebagai pemuda di desa sini mempunyai pahlawan yang gagah berani...” puji Ardhi polos.&lt;br /&gt;Lagi-lagi pak Malik menunduk.&lt;br /&gt;“Yah... kami berjanji akan mewarisi jiwa patriotik bapak...” Laila lebih semangat.&lt;br /&gt;Pak Malik tetap menunduk.&lt;br /&gt;“Doakan saja, pak. Bukankah dalam masa pembangunan ini membutuhkan banyak jiwa-jiwa yang rela berkorban dan tanpa pamrih seperti bapak...” Retno yang dari tadi diam tak mau ketinggalan.&lt;br /&gt;Pak Malik semakin menunduk. Air matanya mulai bergulir membasahi kedua pipi tuanya. Kini betul-betul terbayang kembali suasana revolusi dulu. Terbayang ayah Ardhi yang mati di sampingya. Terbayang Tohir, komandan yang mati secara massal bersama teman-temannya, terbayang kedua orang tuanya yang mati mengerikan kena mortir Belanda. Yah semuanya terbayang kembali dengan jelas.&lt;br /&gt;Tiba-tiba pak Malik memekik, “Tidak! Tidak! Aku bukan pahlawan, tapi penghianat bangsa dan negara...” pak Malik memukulkan tinjunya ke dinding. “Yah, ...aku bukan pahlawan, catat baik-baik...”&lt;br /&gt;Ardhi bangkit mendekat pada pak Malik, “Baiklah kalau bapak tidak mau disebut pahlawan, tapi yang jelas bapak bukan penghianat, kan?” bujuk Ardhi pada pak Malik yang memang tidak senang dipuji.&lt;br /&gt;Pak Malik menghadap Ardhi lalu memandang para pemuda itu satu-persatu, “Kalian tidak tahu, dan memang tidak ada yang tahu kecuali diriku sendiri dan Tuhan. Hari ini adalah hari akhir dari kebohonganku yang besar. Aku adalah mata-mata Belanda yang menyusup menjadi tentara,” orang tua itu menjambak rambutnya dan para pemuda itu terperangah, “Kenapa kalau perang aku berani sambil berdiri, sebab aku telah mengenakan sesuatu tanda yang dengan tanda itu Belanda tak mungkin menembakku. Kenapa aku berdiri menghadang konvoi Belanda sendirian, sebab yang kulakukan sebenarnya bukan menghadang, tapi aku memberitahu kalau mereka diancam bahaya oleh tentara Indonesia yang menghadang di jembatan yang akan dilaluinya.” Pak Malik kembali berhenti beberapa saat dan melihat kedua telapak tangannya, “Kedua tanganku ini telah berlumur dosa, kendati pada akhirnya aku banyak membunuh Belanda. Yah aku memang banyak membunuh Belanda dengan kenekadan di luar akal. Aku memang yang membakar gudang mesiu di markas Belanda, aku memang sudah tiga kali menaiki tank dan menghancurkannya. Yah... aku memang banyak membunuh Belanda, tapi bukan untuk bangsa dan negara. Tidak! Melainkan karena dendamku yang membara. Yah... serangan Belanda yang membabi buta telah membunuh kedua orang tuaku, aku jadinya balik pantat. Oleh karenanya orang lain mengatakan aku pemberani, patriotik dan macam-macam sebutan lainnya. Tapi aku sendiri telah menganggap diriku gila.&lt;br /&gt;Sekarang semuanya sudah jelas. Kalau kalian tetap ingin membukukan riwayatku, silakan! Dan tulislah dengan huruf besar ’Malik penghianat bangsa’ sebagai judulnya. Aku rela menerima cacian, bahkan kutukan. Tapi aku bersyukur tidak dikaruniai anak oleh Tuhan, sebab aku khawatir jika anak-anakku tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya penghianat bangsa,” orang tua itu menyudahi pengakuannya. Lalu kembali menatap pemuda-pemuda itu satu persatu. Tampak sekali mereka kecewa mendengar penjelasannya.&lt;br /&gt;“Kalian sudah mendengar penjelasanku?”&lt;br /&gt;“Tidak, kami tetap kagum...” jawab Ardhi tegas.&lt;br /&gt;“Kagum?”&lt;br /&gt;“Yah, pak Malik telah menebusnya dengan setimpal...”&lt;br /&gt;“Setimpal?”&lt;br /&gt;“Yah...”&lt;br /&gt;Pak Malik tercengang.&lt;br /&gt;“Aku ingin tanya pada kalian, selaku pemuda dapatkah kalian memaafkan aku...?” suara pak Malik melemah dan dia mendekat pada Ardhi.&lt;br /&gt;“Kenapa tidak, pak?” masih Ardhi yang menjawab, karena yang lain masih diliputi rasa tidak percaya.&lt;br /&gt;“Biar tuntas kuberitahukan juga, bahwa ayahmu, Ardhi, tidak mati oleh siulan peluru Belanda, melainkan kutembak sendiri, lantaran aku khawatir dia akan membuka rahasiaku...” Ardhi langsung lemas mendengar pengakuan tambahan dari pak Malik. Buku yang dipegangnya jatuh dan terbuka. Terbaca oleh pak Malik sebuah kalimat yang diberi garis bawah, “AKU BANGGA AYAH GUGUR MEMBELA BANGSA”.&lt;br /&gt;“Ardhi, nilai kepahlawanan ayahmu tidak berkurang...”Laila berusaha mengurangi goncangan Ardhi.&lt;br /&gt;“Yah... pak Malik hanya perantara syahidnya ayahmu saja...” tambah Retno menopang usaha Laila.&lt;br /&gt;Kasihan kau anak muda, sebetulnya ayahmu sama seperti aku, penghianat. Hanya dia lebih licik. Yang kumaksud rahasiaku adalah dendamku pada Belanda. Sayang kata-kata pak Malik ini cuma dalam hati. Ia memang ingin mengutarakan biar tuntas. Biar sejarah ini lurus. Tapi ia melihat Ardhi yang lunglai, Ardhi yang sangat membanggakan jiwa kepahlawanan ayahnya. Pak Malik membenamkan wajahnya ke dinding.&lt;br /&gt;Oh, Tuhan ampuni hamba-Mu yang tak mampu meluruskan sejarah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-5272003703257693561?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/5272003703257693561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/5272003703257693561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/singa-dari-bentangsari.html' title='singa dari bentangsari'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_singa-bentangsari.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-3462132980727408159</id><published>2007-08-18T08:34:00.000-07:00</published><updated>2007-08-18T08:36:10.826-07:00</updated><title type='text'>kupu-kupu</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/kupu-kupu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/kupu-kupu.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ulat adalah binatang yang menjijikkan, malas dan tak bisa bergerak lincah. Binatang-binatang lain sering mengejeknya sebagai binatang jorok dan tak punya keindahan. Tentu saja ulat menjadi sedih mendengar ejekan ini. Tapi apa boleh dikata kenyataannya memang demikian.&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika pada perayaan binatang diselenggarakan bermacam-macam jenis lomba. Dan dari bermacam-macam lomba itu tak satu pun dimenangkan oleh ulat. Lomba kecepatan terbang dimenangkan oleh burung merpati, lomba keindahan dimenangkan oleh burung merak, lomba merayap dimenangkan oleh cicak, lomba petak umpet dimenangkan oleh semut. Yah, hampir seluruh binatang memenangkan paling tidak satu jenis lomba, kecuali ulat yang tak kebagian.&lt;br /&gt;Beberapa ulat memang menjadi sedih dengan kenyataan di atas, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Untung mereka cepat menyadari bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan. Tuhanlah yang menjadikan semua makhluk dengan segala kelebihan dan kekurangannya.&lt;br /&gt;Pada suatu hari pemimpin ulat bercakap-cakap dengan merak, “Hai, burung merak, alangkah senangnya bila aku mempunyai sayap dan bulu-bulu indah seperti kamu…” kata ulat.&lt;br /&gt;“Ouu… kau juga bisa seperti aku…” jawab merak.&lt;br /&gt;“Betulkah itu merak?” lanjut ulat penasaran, “Bagaimana caranya?”&lt;br /&gt;“Mohon saja pada Tuhan. Dia kan Maha Pengasih, pasti Dia mengabulkan permohonan semua makhluk-Nya…” jawab merak meyakinkan.&lt;br /&gt;“Iya… ya… baiklah akan kucoba…”&lt;br /&gt;Kemudian pemimpin ulat berpisah dengan merak. Pemimpin ulat pulang dengan wajah berseri-seri. Ia membayangkan semua ulat akan mempunyai sayap dan bulu-bulu indah. Di tengah jalan ulat berjumpa dengan burung merpati. Mereka pun bertegur sapa dan bercakap-cakap. Di hati pemimpin ulat timbul juga rasa iri melihat burung merpati yang bisa terbang cepat.&lt;br /&gt;“Burung merpati, alangkah senangnya bila aku mempunyai sayap dan bisa terbang cepat seperti kamu…” kata ulat menyampaikan isi hatinya.&lt;br /&gt;“Ah, ulat, gampang saja kalau kau mau…” balas merpati.&lt;br /&gt;“Tentu saja aku mau. Tapi bagaimana caranya?” lanjut ulat penuh harapan.&lt;br /&gt;“Hee… ulat, kita kan punya Tuhan. Ya… minta dong pada Tuhan…”&lt;br /&gt;“Oh, ya… baiklah aku akan minta pada Tuhan. Terima kasih atas nasihatmu…” kata ulat menyudahi omongannya dengan wajah berseri-seri.&lt;br /&gt;Lalu mereka berpisah. Merpati melanjutkan perjalanannya mencari makanan untuk anak-anaknya dan ulat langsung pulang. Begitu tiba di rumah ia langsung memanggil semua ulat. Ia kemudian menceritakan semua yang baru saja ia alami yaitu perjumpaannya dengan merak dan merpati, sampai nasihat mereka untuk memohon pada Tuhan.&lt;br /&gt;Maka pada esok harinya semua ulat berpuasa dengan membungkus dirinya menjadi kepompong dan terus-menerus berdoa pada Tuhan. Mereka memohon agar diberi sayap dan bulu-bulu indah, juga bisa terbang seperti burung merpati.&lt;br /&gt;Genap tiga minggu mereka berpuasa dan berdoa tiba-tiba ada perubahan pada diri mereka. Doa mereka dikabulkan oleh Tuhan. Mereka mempunyai sayap dan bulu-bulu yang indah. Tidak Cuma itu tubuh mereka yang menjijikkan berubah pula menjadi elok, serasi dengan sayapnya.&lt;br /&gt;Mereka dengan riang keluar dari kepompongnya dan mulai belajar terbang. Dan alangkah senangnya mereka betul-betul bisa terbang, meskipun tak secepat merpati. Mereka betul-betul bisa berkejar-kejaran, melambung-lambung riang dan berayun-ayun di tangkai-tangkai bunga.&lt;br /&gt;Suatu hari mereka berpapasan dengan burung merpati dan merak, lalu ulat menyapa, “Hai, merpati dan merak yang baik hati!”&lt;br /&gt;“Hai, siapa kau?” Tanya merak dan merpati hampir bersamaan.&lt;br /&gt;“Hai, kok lupa?” jawab ulat.&lt;br /&gt;“Aku kan belum kenal kamu, tapi kau kok tahu aku…” lanjut merak mendahului merpati.&lt;br /&gt;“Masak, aku kan ulat…” jawaban ulat ini sungguh mengejutkan merpati dan merak. Dan sebelum mereka kehilangan keheranan mereka ulat menceritakan semua yang dialami. “Aku betul-betul menyampaikan terima kasih atas nasihat kalian berdua dulu…” begitu kata ulat mengakhiri keterangannya.&lt;br /&gt;“Yah… tapi kau harus selalu bersyukur pada Tuhan…” kata merpati.&lt;br /&gt;“Oh… tentu… tentu…”&lt;br /&gt;kemudian mereka berpisah, tapi belum begitu jauh jarak mereka merak memanggil ulat lagi, “Hai ulat, bagaimana kalu kau sekarang kupanggil kupu-kupu biar sesuai dengan keindahanmu?”&lt;br /&gt;“How… alangkah indahnya nama itu, aku setuju…” sahut merpati mendukung usul merak.&lt;br /&gt;Ulat begitu gembira mendengar nama itu hingga ia tak mampu menjawab usul merak yang disetujui merpati itu. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.&lt;br /&gt;Dan sejak itu ulat yang telah bersayap dipanggil kupu-kupu. Mereka selalu riang dan bersyukur pada Tuhan. Begitulah siapa yang mau berusaha dan berdoa pasti Tuhan Yang Maha Pengasih mengabulkan.&lt;br /&gt;Sebetulnya adik-adik bisa bermain dengan kupu-kupu, tapi sayang mereka terus terdesak oleh bangunan-bangunan yang dibuat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 1 Juli 1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-3462132980727408159?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/3462132980727408159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/3462132980727408159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/kupu-kupu.html' title='kupu-kupu'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_kupu-kupu.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-4358557587074965312</id><published>2007-08-12T08:36:00.001-07:00</published><updated>2007-08-14T09:11:09.429-07:00</updated><title type='text'>gerobak sampah</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/gerobak-sampah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/gerobak-sampah.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Darun memang terkenal di desanya. Ia sebetulnya bukan tokoh dan tidak ditokohkan. Dan ia juga bukan orang yang selalu membuat onar sehingga namanya terkenal. Ia Cuma sosok pemuda biasa dan sangat sederhana dalam segala hal, tapi pekerjaannya selaku penarik gerobak sampah membuat ia sosok yang penting. Bahkan boleh dikata tiga puluh persen stabilitas keamanan di desanya ia yang pegang. Apalagi kebersihan dan kesehatan, tidak berlebihan kiranya kalau ada orang bilang ia yang memegang kuncinya.&lt;br /&gt;Dalam pikiran Darun yang sederhana pekerjaannya adalah mulia, oleh karenanya kendati setiap pagi ia harus berputar ke sekeliling kampung dengan gerobak sampahnya ia tidak merasa gengsinya turun. Tapi sudah empat hari ini ia tidak muncul bersama gerobaknya, sampah yang biasanya diambil tiap pagi itu kini kian menumpuk dan baunya mulai menyapa setiap lubang hidung yang normal. Masyarakat sudah saling tanya, ke mana Darun. Tapi semua tidak ada yang tahu, juga ketua RT dan RW-nya. Darun menghilang begitu saja tanpa pamit pada siapa pun, termasuk pada ibunya yang paling ia cintai.&lt;br /&gt;Beberapa orang mencoba menerka-nerka. Dan sebagian lagi mulai menyadari kalau gaji yang diterima oleh Darun sebesar dua belas ribu lima ratus rupiah tiap bulan itu terlalu sedikit.&lt;br /&gt;Pada hari yang kelima penyakit lama mulai kambuh lagi. Ibu-ibu yang tak tahan dengan bau sampah membuang sampahnya di gang buntu dan kontan saja menimbulkan protes dari ibu-ibu yang mendiami gang buntu. Sialnya protes itu disampaikan langsung pada si pembuang, hingga menyebabkan terjadi perang mulut.&lt;br /&gt;Menyadari stabilitas kerukunan mulai terganggu, Sholeh sebagai ketua RW-nya dari kemarin bingung melulu mencoba mencari pengganti Darun. Tapi hasilnya nihil. Tak satupun ada yang bersedia, bahkan beberapa pemuda yang berstatus sebagai penganggur menolak dengan sinis.&lt;br /&gt;Pada hari yang keenam diputuskan oleh ketua RW untuk mengadakan rapat dengan warga dan khusus membicarakan masalah sampah. Kalau perlu masyarakat akan digilir menarik gerobak sampah sebagai pengganti Darun, begitu salah satu alternative ketua RW.&lt;br /&gt;Tapi satu jam sebelum rapat dimulai mendadak Darun muncul di rumah ketua RW.&lt;br /&gt;“Darun, kami sudah pusing memikirkanmu. Ke mana kau selama ini?” tegur ketua RW setelah cukup basa-basi dan mengeluarkan dua cangkir teh terlebih dahulu.&lt;br /&gt;“Cuma istirahat, pak…” jawab Darun santai.&lt;br /&gt;“Kok tidak pamit?” lajut ketua RW.&lt;br /&gt;“Memang saya sengaja, pak, biar tidak ada yang tahu. Dan lagi kalau saya ijin, kan bapak pasti keberatan...”&lt;br /&gt;“Yah, saya maklum. Tapi kuharap kau juga maklum apa akibatnya...”&lt;br /&gt;Darun meminum tehnya.&lt;br /&gt;“Darun, bau sampah sudah mulai mencocok hidung dan berhasil mengundang lalat...”&lt;br /&gt;“Tapi, pak, saya ke sini sekaligus untuk pamit tidak menjadi penarik gerobak sampah lagi...” setelah berkata begitu Darun menunduk.&lt;br /&gt;“Darun, saya maklum. Kau sudah cukup lama mengabdi lewat menarik gerobak sampah, tapi perlu tenggang waktu untuk mencari penggantimu. Dan sebentar lagi ada rapat khusus membicarakan masalah sampah. Kalau kau masih bersedia HR-mu kuusahakan untuk bisa naik...”&lt;br /&gt;“Baiklah, pak. Kalau begitu saya minta untuk diberi kesempatan bicara dalam rapat nanti...” jawab Darun tegas. Dan pak Sholeh sedikit terkejut mendengar usulan ini, karena Darun selama ini tak pernah berbicara dalam rapat. Maklum ia hanya mengenyam bangku sekolah sampai kelas empat SD.&lt;br /&gt;“Baiklah Darun, kau akan kuberi kesempatan yang istimewa dan berbicaralah sepuas-puasmu...”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Rapat ini rupanya sangat menarik. Kurang seperempat jam rapat dimulai balai RW sudah tampak penuh, hanya beberapa kursi saja yang masih kosong, sedang biasanya pakai jam karet, pasti molor.&lt;br /&gt;Kebanyakan fokus pembicaraan mereka dalam menunggu rapat dimulai hanya tertuju pada sampah. Dan ketika Darun memasuki balai RW semua mata tertuju kepadanya. Yah, tiba-tiba saja Darun lebih penting dari semuanya. Darun menjadi pusat perhatian, Darun menjadi tokoh. Rapat dimulai dan berjalan seperti biasa. Tapi ketika pak Sholeh, ketua RW menyilakan untuk berbicara semua hadirin menjadi tertegun dan diam. Dan tiba-tiba saja ada ketegangan yang merambati ke masing-masing pribadi mereka, manakala Darun sudah siap di podium.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” suara Darun sangat mantap dan tak kelihatan bergetar. Setelah mendapat jawaban yang kompak dari hadirin ia melanjutkan, “Dalam kesempatan ini saya hanya ingin mohon maaf yang sebesar-besarnya pada bapak-bapak dan saudara-saudara semua, terutama pengurus RW yang kami hormati. Selebihnya dari itu kalau hadirin masih mengharapkan saya mau menarik gerobak kembali saya hanya mohon jadikan dan anggap saya sebagai penarik gerobak sampah, dan jangan anggap saya sekaligus sebagai penarik gerobak tinja. Sebab beberapa masyarakat telah terlanjur menganggap saya demikian yang telah saya protes keras dalam wujud mogok kemarin...” Darun mengambil tempo dan menyapu rata wajah hadirin yang tercengang mendengar apa yang disampaikan Darun, lalu lanjutnya, “Saya tidak minta gaji saya dinaikkan, tapi hendaknya semua warga jangan menilai saya sederajat dengan sampah yang saya angkut. Demikian sekali lagi saya mohon maaf. Wassalamu’alaikum...”&lt;br /&gt;Begitu Darun duduk kembali ruangan rapat menjadi berdengung, sebagian hadirin pada ramai-ramai mengutuk pembuang tinja yang membuat Darun protes keras dan sebagian lagi mengagumi kelancaran bicaranya Darun. Mereka tak mengira sama sekali kalau Darun si tukang penarik gerobak sampah bisa bicara dengan lancar dan memilih kalimat yang tepat.&lt;br /&gt;Darun sendiri merasa lega. Tidak sia-sia belajar bicara selama enam hari pada Warso, temannya yang menjadi ketua karang taruna di desa lain.&lt;br /&gt;Akhirnya rapat memutuskan untuk menaikkan gaji Darun menjadi dua puluh ribu rupiah, dan mengutuk si pembuang tinja gelap yang membuat Darun uring-uringan. Esoknya Darun sudah mulai menarik kembali. Dan dua jam kemudian situasi kampung menjadi normal.&lt;br /&gt;Sampai dua bulan setelah pemogokan Darun tidak ada orang yang melanggar membuang tinja ke ranjang sampahnya, masyarakat sendiri sudah hampir lupa dengan peristiwa itu. Namun menginjak bulan ketiga tiba-tiba Darun tidak nongol dengan gerobaknya. Pada hari ketiga ketidaknongolan Darun masyarakat sudah mulai mereka-reka. Pasti ada orang yang membuang tinja lagi dan Darun mogok lagi. Tapi anehnya tak ada satu pun orang yang berusaha mencari atau menjenguk Darun. Barangkali karena rumah Darun ada di pojok kampung yang membuat orang enggan menjenguknya atau barangkali karena Darun cuma sesosok penarik gerobak sampah.&lt;br /&gt;Masyarakat tidak ada yang tahu kalau Darun lagi sakit keras, tidak ada yang tahu kalau ia membutuhkan pertolongan. Tapi ketika rumah Darun terdengar jeritan seorang wanita, tetangga kanan kirinya buru-buru berkumpul dan mereka pada kaget ketika menjumpai Darun baru saja menghembuskan nafas terakhir. Kabar kematian Darun dengan segera menyebar luas ke seantero kampung dan membuat kaget masyarakat. Mereka baru sadar kalau Darun adalah pemuda yang banyak jasanya dan pemuda yang mempunyai arti tersendiri di desanya.&lt;br /&gt;Lebih dari itu semua warga merasa kehilangan, membuat hampir seluruh warga ikut melayat ke rumah duka dan sampai fase pemakaman. Bagi yang tidak tahu tentu tidak akan menyangka kalau yang mati hanya seorang penarik gerobak sampah. Memang sepanjang sejarah di kampung itu baru dua orang yang mendapat penghormatan terakhir sedemikian rupa, yaitu KH. Ridwan yang meninggal sebelas tahun yang lalu dan Darun pada saat ini.&lt;br /&gt;Begitu pemakaman selesai ketua RW memberikan sambutan, suaranya begitu parau dan tampak terseret-seret bergetar, “……………………. Kita semua tahu bahwa Darun adalah pemuda yang baik, yang banyak jasanya di kampung kita. Bahkan menjelang akhir hayatnya ia menanyakan pada ibunya, siapa yang akan menggantinya sebagai penarik gerobak. Pelayat yang sama-sama berduka, marilah kita ambil contoh pengabdian yang sederhana dari almarhum yang penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Selanjutnya segala kesalahan almarhum marilah kita maafkan dan mudah-mudahan amal almarhum diterima di sisi Allah SWT. Amin!!! Wassalamu’alaikum…”&lt;br /&gt;Setelah ketua RW menyudahi sambutannya para pelayat sama-sama melangkah pulang. Sesaat kemudian kuburan itu kembali lengang. Namun di atas gundukan tanah yang baru itu masih ada lima orang yang belum mau meninggalkannya. Mereka pada membisu, menatap gundukan tanah itu. Di masing-masing wajah mereka terlihat jelas goresan sedih. Lalu mereka saling bertatap muka, lalu kembali menunduk, “Darun, maafkan aku. Akulah pembuang tinja gelap yang membuat kau uring-uringan tempo dulu…” kata salah seorang di antara mereka.&lt;br /&gt;“Aku juga, Darun…” sahut yang lain hampir bersamaan.&lt;br /&gt;Esoknya takbir dan tahmid menggema dari segala penjuru. Semua muslim mengakui dosanya dan saling memafkan satu sama lain. Dan darun telah menghadap penciptanya lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 4 Juni 1985&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-4358557587074965312?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4358557587074965312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4358557587074965312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/gerobak-sampah.html' title='gerobak sampah'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_gerobak-sampah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-458198839496836763</id><published>2007-08-12T08:22:00.000-07:00</published><updated>2007-08-14T09:09:35.159-07:00</updated><title type='text'>derita widi</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/derita-widi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/derita-widi.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah setengah jam Widi duduk di Kursi tua itu. Ia memandang ibunya yang tertawa-tawa sendirian. Tampak jelas ibunya semakin kurus, kusut dan kumal. Sudah empat hari ia tak berhasil membujuk ibunya agar mau mandi. Kemarin ia mencoba dengan paksa, tapi malah dirinya yang diguyur air oleh ibunya. Anehnya ia menurut saja. Ia membayangkan ibunya tidak sakit dan penuh kasih sayang saat mengguyur air itu. Ia memang sudah teramat rindu kasih sayang ibunya.&lt;br /&gt;Widi tampak memelas. Sebagai gadis yang baru dua tahun meninggalkan bangku SMA memang beban yang harus ia pikul cukup berat. Ia seorang diri harus merawat ibunya yang sakit. Bermacam-macam usaha telah ia lakukan demi kesembuhan ibunya namun belum juga berhasil. Tinggal satu saran yang belum ia laksanakan, yaitu mengirim ke rumah sakit jiwa. Sebetulnya ia setuju dengan saran itu, tapi dari mana ia harus mendapatkan uang untuk biayanya.&lt;br /&gt;Kini Cuma pada takdir Tuhan ia menggantungkan nasibnya. Yah, takdir. Bukankah takdir dalam sekejab telah mampu merenggut kebahagiaannya dua tahun yang lalu. Ketika itu Widi baru lulus dari SMA dan sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, tiba-tiba suatu musibah menimpa keluarganya. Ayahnya yang bekerja di bank tertembak mati oleh perampok yang sedang beraksi di bank itu. Dan yang lebih tragis lagi jiwa ibunya tergoncang hebat oleh peristiwa itu sampai akhirnya sakit jiwa hingga sekarang.&lt;br /&gt;Barangkali Tuhan sudah menata penderitaan yang akan dihadapi Widi, karena seminggu sebelum ayahnya tertembak mati sanak familinya sama-sama berangkat transmigrasi ke Sulawesi. Jadinya Widi sendirian menanggung beban seberat itu.&lt;br /&gt;Widi mendekati ibunya, “Makan, bu…” sapanya. Ibunya Cuma mengangguk. Ia bergegas meninggalkan ibunya dan kemudian kembali dengan sepiring nasi, lalu diberikan pada ibunya.&lt;br /&gt;Ia kembali duduk di kursi tua itu sambil melihat ibunya yang sedang makan. Dan ia tak melarang ketika ibunya berdiri kemudian menyuapi mulut foto ayahnya yang menempel di dinding.&lt;br /&gt;Oh, ibu, kapan berakhir keadaan semacam ini. Kita kembali hidup normal. Aku belum sempat mewarisi keahlian memasakmu. Aku sangat rindu belaian kasih sayangmu. Ibu, sembuhlah! Jangan biarkan aku sendirian menanggung semua ini. Begitu jerit hati Widi yang tanpa diiringi air mata. Mungkin sudah terlalu kering air matanya.&lt;br /&gt;Widi pindah ke sofa, menelentangkan tubuhnya sampai kemudian deritanya sirna untuk sementara dalam kenyenyakan tidurnya orang yang payah.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sore ini derita Widi seperti hilang tak berbekas. Ia kelihatan cantik dan anggun mengenakan pakaian yang dulunya dipersiapkan untuk menghadiri malam perpisahan. Rok batik warna cokelat yang sangat serai dengan warna kulitnya yang kuning dan tatanan rambutnya yang mengombak setengah bahu, yang sebetulnya tanpa ditata memang sudah baik.&lt;br /&gt;Pagi tadi ia telah membersihkan rumahnya, dan yang membuat ia puas ibunya menurut saja ketika dimandikan dan diganti pakaiannya. Seolah ibunya mengerti semua yang dikehendaki Widi.&lt;br /&gt;Hendro, kekasih Widi yang nyaris terlupakan karena derita dan kesibukannya, pagi tadi telah datang dari tugasnya di Irian Jaya dan sore ini akan berkunjung ke rumahnya.&lt;br /&gt;Serasa beraduk perasaan Widi antara rindu dan cemas. Ia telah berulang kali pindah tempat duduk, gelisah dan tak tenang. Kemudian bercermin di depan kaca sambil memutar-mutar tubuhnya. Mendadak ingatannya mengendap ke masa-masa yang penuh ceria dan gelak tawa. Lalu ke saat perpisahan dengan Hendro dua setengah tahun yang lalu.&lt;br /&gt;“Widi, percayalah setelah tugasku selesai nanti, aku akan segera meminangmu dan begitu kau selesai kuliah kita segera kawin...” begitu di antara kata-kata Hendro yang terhambur dari mulutnya sebelum naik ke pesawat.&lt;br /&gt;Tiba-tiba perasaan cemas kembali mencekam. Ia khawatir Hendro akan berbalik pantat setelah mengetahui keadaan keluarganya. Selama ini ia tak sempat menceritakan keadaannya. Dan sangat mungkin keluarga Hendro tidak mengetahui, karena jarak antara rumah Widi dan Hendro memang cukup jauh.&lt;br /&gt;Andai saja Hendro menjauhiku setelah mengetahui keadaanku, aku mesti merelakan. Hendro tidak bersalah bila bersikap demikian. Siapa orangnya yang tidak khawatir menanggung beban seberat ini. Demikian kata hati Widi mengiringi kecemasannya.&lt;br /&gt;Widi tergagap dan lamunannya buyar ketika mendengar ketukan pintu. Dengan hati yang nit-nit ia berjalan menuju pintu. Ternyata memang Hendro yang datang.&lt;br /&gt;”Mas Hendro!” sapanya bernada rindu.&lt;br /&gt;”Widi!”&lt;br /&gt;Ia menjabat tangan Hendro lama sekali, lantas mempersilakan Hendro duduk. Hendro Cuma menurut dan seperti dulunya tetap bersikap sopan.&lt;br /&gt;”Widi, aku ikut sedih atas kematian ayahmu...” Hendro mulai bicara sambil melepas jaketnya, ”Sebetulnya aku telah memaca di koran, tapi aku tak percaya korban itu ayahmu kalau saja suratmu tidak menyusul kemudian...”&lt;br /&gt;”Sudah nasibku, mas Hendro...” balas Widi memelas.&lt;br /&gt;”Yah, kau harus tabah...”&lt;br /&gt;“Aku telah berusaha untuk tabah.”&lt;br /&gt;Ekspresi Hendro ikut memelas. Ia amati hidung Widi, tambah mancung dan matanya sedikit cekung serta bibir mungil yang dikaguminya pecah-pecah tanpa dipoles lipstik. Hendro baru sadar kalau Widi teramat menderita oleh kematian ayahnya dan ia baru ingat ibu Widi.&lt;br /&gt;”Widi, ibumu mana?”&lt;br /&gt;”Oh, ibu di dalam.” Widi berdiri lalu mengajak Hendro masuk ke ruang tengah. Ibu Widi sedang menjahit dan kelihatan tak acuh pada kehadiran mereka. Ketika Hendro mendekat dan menjabat tangannya dengan sikap hormat orang tua itu mengawasi tajam dan lantas tersenyum sinis. Kalau saja ibu Widi tak mengomel terus-menerus Hendro pasti dibaut pusing oleh keganjilan itu.&lt;br /&gt;”Mas Hendro, sepeninggal ayah, ibu telah menjadi aneh. Kata orang, gila.” Kata Widi menerangkan setelah mereka kembali ke ruang tamu. ”Dan, maafkan aku tidak sempat memberitahukan pada mas Hendro.”&lt;br /&gt;”Aku ikut prihatin,” jawab Hendro sambil menarik napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;“Pendritaanmu terlalu berat...”&lt;br /&gt;Widi diam, hatinya galau tak karuan.&lt;br /&gt;”Sudah dibawa ke rumah sakit jiwa?”&lt;br /&gt;”Belum...”&lt;br /&gt;”Kenapa?”&lt;br /&gt;”Biayanya, mas. Dari mana aku mendapat uang. Aku sama sekali tak dapat keluar untuk bekerja, sedang pensiun yang kami peroleh hanya cukup untuk makan.” Tenggorokan Widi terasa kering setiap menjawab pertanyaan semacam ini. Semua cuma bisa tanya dan mencemooh, tapi tak bisa memberikan jalan keluar. Kini pertanyaan itu datang dari mas Hendro, kekasihnya. Calon menantu ibunya. Orang yang bisa diharapkan jadi pahlawan penderitaannya. Widi menunggu atas reaksi dari Hendro atas jawabannya. Hendro tercenung. Sepi. Dan tak menjawab.&lt;br /&gt;”Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat,” tambah Widi memecah kesunyian.&lt;br /&gt;Hendro menangkap goresan sedih di wajah Widi semakin dalam dan pikirannya sendiri terasa keuh, segera saja ia mengalihkan pembicaraannya pada pengalamannya di pedalaman Irian Jaya. Sebentar saja Widi sudah terlarut dalam keasyikan cerita Hendro yang sesekali diselingi dengan humor, hingga gelak tawa yang segar terdengar lagi di rumah itu.&lt;br /&gt;Sepulang Hendro rumah Widi kembali dicekam sepi. Lebih-lebih perasaan Widi kacau tak menentu. Masih jelas bayangan Hendro yang membisu ketika ditunggu reaksinya setelah dia menerangkan kesulitan biaya. Ah, Widi, serasa tak dapat berpikir apa-apa. Sumpek. Yang ia rasakan kehidupan ini semakin keras dan tak acuh pada penderitaannya. Membosankan. Ingin rasanya ia ikut sinting bersama ibunya biar tak merasakan penderitaan lagi.&lt;br /&gt;Dua bulan setelah itu Hendro belum juga berkunjung ke rumah Widi lagi, padahal ia sudah tak bertugas di Irian lagi. Tapi Widi juga tak berharap. Hatinya sudah beku dan dilapisi tebal oleh penderitaan.&lt;br /&gt;Sementara itu ibunya telah menunjukkan perkembangan yang serius. Akhir-akhir ini sering melempar rumah-rumah para tetangga dan orang-orang yang lewat di depannya. Juga mandi sudah tidak mau sama sekali. Yang masih mending cuma makan dia masih mau, barangkali yang tak bisa dilupakan orang gila hanya lapar.&lt;br /&gt;Widi memang anak yang penuh bakti. Ia masih saja merawat dan menjaga ibunya dengan sabar. Dan hampir setiap hari ia datang ke tetangga-tetangganya untuk meminta maaf atas gangguan ibunya. Tak jarang ia menggigit bibir menahan omelan dari tetangganya yang kurang menyadari.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Hati Widi terenyuh dan terpukul hebat menghadapi kenyataan ibunya harus dipasung atas kehendak orang kampung. Kemarin ibunya telah memukul orang sampai luka parah.&lt;br /&gt;“Demi keselamatan dan ketenteraman kampung...” kata pak lurah. Ini memang betul dan Widi tak bisa membantah. Namun yang ia tak habis heran, kenapa di antara mereka tak ada yang punya ide membantu biaya secara gotong royong dan mengirimkannya ke rumah sakit jiwa.&lt;br /&gt;Ia histeris melihat ibunya yang meronta-ronta saat dipasung.&lt;br /&gt;”Gila! Kalian yang gila! Kesinisan kalian yang membuat ibu demikian. Sekarang, sesudah kami menderita cukup lama ibuku kalian siksa.”&lt;br /&gt;Napas Widi tersengal-sengal, kemudian ia tak ingat apa-apa lagi. Dirinya sudah terlalu capek dan lemah. Ia pingsan beberapa saat.&lt;br /&gt;Waktu ia sadar kembali rumahnya sudah sepi, orang-orang yang tadi memegangi lengannya juga sudah tidak ada. Yang ia jumpai hanya bu Inah, tetangganya yang baik sedang menggosok-gosokkan minyak angin di pelipisnya.&lt;br /&gt;”Sabarlah, nak Widi...” bisik bu Inah sambil mencucurkan air mata.&lt;br /&gt;Badan Widi masih lemah untuk digerakkan, Cuma matanya mulai menyapu sekitarnya, lalu kembali lagi menatap bu Inah yang kini mengusap-usap rambutnya.&lt;br /&gt;”Sabarlah, nak Widi...” bu Inah kembali berbisik. Widi mulai bisa menangkap wajah keriput yang penuh iba itu dan marasakan ada air hangat menetes di wajahnya.&lt;br /&gt;Ah, nak Widi, kasihan kau. Kalau saja ayahmu tidak mati, kalau saja ibumu tidak sakit, kalau saja orang-orang mau menyadari penderitaanmu, tentunya kau tidak menderita semacam ini. Kau memang anak yang baik. Penuh bakti. Kata orang tua itu dalam hatinya.&lt;br /&gt;Widi sendiri kesadarannya telah sempurna. Ia bisa menangkap rasa iba yang tulus dari bu Inah. Tangan bu Inah yang beralih memijit-mijit keningnya sungguh telah menyejukkan hatinya. Selanjutnya seperti ada magnet yang menggerakkan Widi, ia mendekap bu Inah erat-erat sambil menghamburkan tangisnya. Rasa iba bu Inah tambah terungkit oleh dekapan Widi, hingga ia menangis juga.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Widi belum bisa menerima perlakuan orang kampung yang memasung ibunya. Apalagi setelah ia melihat kedua pergelangan kakinya luka kena kayu pasung itu. Ia memutuskan untuk menjual rumahnya dan mengirim ibunya ke rumah sakit jiwa. Masa depan baginya adalah kesembuhan ibunya. Cuma itu. Ia akan membicarakan dengan bu Inah masalah menjual rumah ini. Ya, hanya bu Inah yang bisa dimintai pertimbangan. Bukankah dari orang yang tulus ikhlas akan keluar pertimbangan yang tulus ikhlas pula. Begitu pendapat Widi.&lt;br /&gt;Widi nyelonong saja masuk ke rumah bu Inah. Hal demikian sudah biasa ia lakukan sejak ibunya belum sakit. Rumah bu Inah memang sepi karena hanya bu Inah sendirian yang menjadi penghuninya.&lt;br /&gt;”Lagi masak, bu?” sapa Widi yang menjumpai bu Inah ada di dapur.&lt;br /&gt;”Ya, nak Widi, habis siapa lagi yang masak...”&lt;br /&gt;Bu Inah mengajak Widi ke ruang depan, dan sebentar saja mereka terbat dalam keasyikan berbicara.&lt;br /&gt;“Bu Inah, saya bermaksud menjual rumah dan mengirim ibu ke rumah sakit jiwa,” kata Widi setelah cukup berbasa-basi. Dan bu Inah jadi terdiam mendengar maksud Widi ini, kerutan di wajahnya semakin tampak menandakan bu Inah ikut berpikir.&lt;br /&gt;”Nak Widi, ibu senang melihat kau dan memahami maksudmu. Tapi tak usah kau jual rumah.”&lt;br /&gt;Saya ingin ibu segera sembuh...”&lt;br /&gt;”Yah, ibu juga begitu,” bu Inah menarik napas.&lt;br /&gt;”Lantas Widi harus bagaimana?” widi ingin tahu pemecahan dari bu Inah. Tapi bu Inah tidak menjawab pertanyaannya melainkan masuk ke dalam, setelah agak lama baru keluar lagi sambil membawa dompet.&lt;br /&gt;”Pakai saja uang ibu ini...” bu Inah menyerahkan dompet itu pada Widi. Widi tidak mengerti dan tercengang setelah melihat isi dompet itu, yang ternyata lembaran uang puluhan ribu dalam jumlah yang cukup banyak.&lt;br /&gt;“Oh, ... tidak, bu Inah!” Widi menaruh dompet itu di meja.&lt;br /&gt;”Kau harus menerima, demi ibumu dan aku ikhlas...” bu Inah mengembalikan dompet pada Widi, ”Untuk ibu masih ada cukup banyak.”&lt;br /&gt;”Tidak, bu Inah, biarlah aku jual rumahku...”&lt;br /&gt;”Sudahlah, terimalah bila kau senang dengan bu Inah dan ingin ibumu segera sembuh...” tanpa menunggu reaksi Widi, bu Inah berdiri dan menuntun Widi pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;Widi memang tidak tahu sama sekali perkembangan di kampungnya ejak ibunya sakit. Begitu juga tentang bu Inah yang dua tahun terakhir ini selalu mendapat kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Kuwait dan rencana bu Inah untuk pergi haji tahun depan.&lt;br /&gt;”Besok pagi kita antar ibumu ke Sumber Porong....” Widi yang dalam keheranan tak mampu berucap apapun. Perasaan senang, haru, dan tak percaya beraduk jadi satu. Ia hanya memandang bu Inah yang meninggalkannya. Sesaat kemudian ia lari ke ibunya. Merangkulnya erat-erat dan mengumbar tangis. Entah apa yang dirasakan ibunya, yang jelas orang tua yang sakit itu ikut menangis.&lt;br /&gt;“Ibu, kau akan segera sembuh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, akhir Mei 1983&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-458198839496836763?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/458198839496836763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/458198839496836763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/derita-widi.html' title='derita widi'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_derita-widi.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-6237575536778934839</id><published>2007-08-12T06:49:00.001-07:00</published><updated>2007-08-14T09:13:49.451-07:00</updated><title type='text'>dendam pada westerling</title><content type='html'>&lt;a href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/demdam-westerling.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/demdam-westerling.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Westerling mati. Ah! Aku ingat saat itu tahun 1962, entah tanggal berapa dan bulan apa, yang jelas ramai-ramainya TRIKORA.&lt;br /&gt;Kulihat ke bawah, hitam pekat. Angin malam yang biasanya jinak menerpaku cukup kencang. Menjadikan angan-anganku tertuju pada tempat jatuhku, yang entah dimana aku belum tahu. Yang paling kukhawatirkan kalau jatuh persis di tengah rawa. Sebab demikian medan yang kami pelajari sebelum beangkat. Medan Irian Barat sebagian besar adalah rawa-rawa dan hutan perawan yang ganas.&lt;br /&gt;Dalam gelap ini rencana daerah sasaran memang hutan, tapi angin kencang bisa saja menjatuhkanku jauh dari sasaran dan bahkan di tengah-tengah rawa. Ah, sebaiknya aku berangan-angan yang baik saja. Dan, oh, belum sempat aku berangan-angan lebih lanjut tubuhku terperosok ke atas pohon, payungku nyangkut dan aku bergelantungan.&lt;br /&gt;Aku bersyukur tidak jatuh di tengah rawa-rawa. Lalu kuputuskan untuk tidak turun sampai menjelang pagi. Siapa tahu di bawah banyak binatang buas. Andai tidak pun yang pasti nyamuknya cukup banyak.&lt;br /&gt;Begitu posisiku sudah agak mapan dengan duduk di atas cabang yang cukup besar dan bersandar di pokok pohon dan badanku sudah kuikat sekedarnya agar tidak jatuh, aku mengambil sentolop kecil. Kulihat arlojiku jam 03.00.&lt;br /&gt;Aku mulai memikir teman-temanku, di mana mereka jatuh. Mudah-mudahan berpencar tidak terlalu jauh.&lt;br /&gt;Kicau burung yang pertama aku dengar dan tak lama kemudian susul-menyusul dengan burung-burung lainnya. Kulihat arlojiku menunjukkan jam 06.10, ini berarti waktu Irian Barat masih jam 04.10, tapi matahari telah memancarkan sinarnya agak terang.&lt;br /&gt;Aku turun dengan tali regu. Ternyata pohon ini cukup tinggi, beberapa kali aku berusaha mengalahkan ranting yang menghalangiku. Sampai di bawah aku tak mengadakan gerakan apa-apa, menunggu hari terang.&lt;br /&gt;Kuelus senjataku dengan perasaan lega. Sebab hari ini aku mulai pelacakanku untuk menumpahkan dendam yang tak mudah kulupakan. Memang aku bertugas di Irian Barat ini untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi, tapi aku punya niat lain di samping yang utama itu. Aku memburu Westerling dengan anak cucunya. Pembantaian Westerling yang dilakukan terhadap 40.000 orang bangsaku akan kutuntut balas.&lt;br /&gt;Bagiku kekejaman Westerling kendati hanya kudengar atau kubaca dari buku terlalu murah untuk dilupa. Apalagi dua di antara korbannya adalah kakekku. Yah, aku akan tuntut balas, siapapun Belanda yang kuhadapi kuanggap saja anak-anak Westerling, paling tidak mereka adalah sebangsa dengan Westerling.&lt;br /&gt;Kupandangi senjataku, Cuma geren dan pelurunya yang terbatas, tapi tadi diterjunkan juga secara tersendiri senjata STB yang multi fungsi dan cukup ampuh. Dengan STB aku akan mampu membakar kubu-kubu mereka dengan peluru pembakar, aku akan mampu membuat mereka kelabakan dengan peluru asap dan kujungkalkan tank mereka dengan peluru anti tank. Yah, senjata itu harus kutemukan untuk bisa memenuhi dendamku.&lt;br /&gt;Matahari telah memancar penuh, tapi sekelilingku tetap tak bisa begitu terang karena rimbunnya rimba ini. Yaa cukup mengerikan rimba ini seperti rimba yang pernah kutonton dalam film Tarzan. Aku mulai bergerak mencari STB dan teman-teman. Peluit di mulutku sekali-kali kubunyikan sebagai kode. Sekitar seperempat jam aku masih bisa bergerak kira-kira 200 meter dari tempat jatuh. Di samping lebatnya hutan aku juga harus hati-hati. Kewaspadaan memang harus ganda. Sebab siapa tahu ada musuh atau binatang buas atau orang pribumi yang masih primitif yang menurut kabar angin masih setengah kanibal.&lt;br /&gt;Aku berhenti. Naluri tentaraku menangkap ada gerakan di sekitarku. Betul, suara ranting dan dedaunan kering yang terinjak terdengar semakin jelas. Gerenku sudah siap tembak dan peluit di mulutku kubunyikan. Tetap tidak ada balasan. Aku semakin siaga, sedikit saja kutekan picu gerenku akan menghamburkan peluru. Dalam anganku ada tiga kemungkinan, kalau tidak Belanda, mungkin binatang buas atau orang pribumi yang masih primitif itu. Andai Belanda tidak ada masalah, kumuntahkan saja peluru senjataku. Begitu juga dengan binatang, kalau memang membahayakan jiwaku apa boleh buat. Tapi kalau orang pribumi ini yang jadi masalah. Mereka saudaraku yang harus kubebaskan dari belenggu penjajahan, tapi mereka masih belum mengerti arti kehadiran kami. Untuk memberi pengertian akan terjadi kesulitan komunikasi. Tidak saja masalah bahasa yang menjadi kesulitan, tapi intelejensia mereka juga kuragukan.&lt;br /&gt;Suara kresak-kresek itu berhenti. Jantungku berdetak lebih cepat. Perubahan detak jantung ini kusadari dan aku berusaha meredamkannya. Tidak layak pemburu Westerling tak bisa menghadapi sesuatu yang tentu dengan tenang. Tapi usahaku sia-sia, degup jantungku tak bisa kembali normal.&lt;br /&gt;Peluitku kutiup lagi. Tetap tak ada balasan. Sekitar seperempat jam tak ada perkembangan. Tapi degup jantungku kurasakan normal kembali dengan sendirinya, konyolnya berbarengan dengan itu aku mulai merasakan gigitan nyamuk. Nyamuk belantara yang tak tahu etika sama sekali.&lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk bergerak lagi. Yah apa boleh buat. Aku merayap ke arah datangnya kresak-kresek tadi. Dan, blong, hatiku lega, dalam jarak sekitar 4 meter aku baru dapat melihat seekor babi yang cukup gemuk.&lt;br /&gt;Aku meneruskan mencari STB dan teman-teman. Menjelang sore kutemukan tiga temanku dan satu di antaranya memanggul STB. Esok harinya kami telah berjumlah 15 orang. Aku semakin optimis dendamku pada Westerling akan dapat kulunasi.&lt;br /&gt;Kami memutuskan untuk bergerak ke utara untuk mendekati musuh sesuai dengan peta penyerbuan. Medan yang cukup berat membuat gerak kami bagai siput dan begitu melelahkan. Hari berikutnya suasana medan tetap monoton, berat dan membosankan. Beban kami bahkan bertambah pada hari keempat, kopral Yono terserang malaria. Dia terpaksa dipanggul bergantian apabila medan memungkinkan. Teman-teman ngotot STB yang kupanggul supaya aku tinggalkan, tapi juga ngotot untuk tetap membawanya, sebab tanpa STB aku tak bisa berbicara banyak. Untung penyakit Yono bisa diajak kompromi, empat hari kemudian ia sembuh.&lt;br /&gt;Kelegaan kami ternyata tidak begitu panjang, kami terjebak rawa-rawa yang cukup luas. Aku mengeluh, ternyata untuk melunasi dendam pada Westerling amat berat. Konyol rawa-rawa ini melingkar semacam tapal kuda dan luas dan kami sudah menjorok masuk ke dalam.&lt;br /&gt;Hari kelima belas kami baru bisa mendekati sasaran.&lt;br /&gt;“Eko, kita istirahat...” koptu Yunus menghentikan gerak kami, “Sasaran sudah dekat...”&lt;br /&gt;“Yah, sesuai dengan perintah, serangan masih menunggu komando...” aku sependapat dengan Yunus.&lt;br /&gt;“Aku setuju, di sini kita cukup aman dan dalam satu jam kita sudah bisa menjangkau sasaran...” kopda Taman yang sudah standby dengan radio komunikasinya juga setuju.&lt;br /&gt;Kami istirahat.&lt;br /&gt;Malamnya aku tak bisa tidur. Kekejaman Westerling yang membantai 40.000 bangsaku membayang dengan kuat.&lt;br /&gt;STB kuelus. Esok jika datang komando, mereka anak-anak Westerling akan kusikat dengan peluru pacarota dan asrama mereka kubakar dengan peluru pembakar.&lt;br /&gt;Wahai, arwah-arwah Westerling, tenanglah! Aku dan teman-temanku sebentar lagi akan membuat perhitungan.&lt;br /&gt;Esoknya kabar berangkai telah diterima oleh Taman. Belanda menyerah dan otomatis kami dilarang meneruskan konfrontasi. Teman-teman pada gembira. Aku sendiri juga bersyukur, tapi sekaligus kecewa. Belum satu pun anak-anak Westerling tersiul peluruku.&lt;br /&gt;Untuk meledakkan dendamku yang sudah di ubun-ubun kutembakkan gerenku ke atas dengan menghabiskan peluru satu magazin. Teman-teman mengira aku melampiaskan kegembiraanku, mereka pada meniru menembakkan senjatanya. Sebentar pertempuran seolah-olah meledak, kemudian siam. Sepi.&lt;br /&gt;Seekor cendrawasih yang terusik terbang pelan menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 3 Desember 1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-6237575536778934839?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/6237575536778934839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/6237575536778934839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/dendam-pada-westerling.html' title='dendam pada westerling'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_demdam-westerling.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-4882452073719488971</id><published>2007-08-12T06:07:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T09:44:21.594-07:00</updated><title type='text'>busyet!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/busyet.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/busyet.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sinting. Si Kodor memang sinting. Sudah satu bulan ini ia tidak mengakui dirinya sebagai bangsa manusia. Ia memaklumkan dirinya dengan tegas sebagai bangsa setan. Bangsa yang dikutuk Tuhan turun-temurun. Bangsa yang sombongnya kelewat batas.&lt;br /&gt;Pada mulanya si Kodor adalah dermawan yang berlebih-lebihan melalui Porkas. Delapan puluh persen gajinya sebagai buruh kecil ia sumbangkan melalui Porkas. Hebat! Apanya yang hebat? Ya, ya hebat, ia jadi sinting muda, karena umur Kodor masih 22 tahun.&lt;br /&gt;“Aku bukan manusia yang lemah, aku bukan manusia yang suka korupsi, dan aku juga bukan manusia yang mengantek pada Tuhan. Aku adalah bangsa setan yang mempunyai hak untuk sombong. Aku adalah bangsa setan yang mempunyai hak untuk menggunturkan tawa. Sebab, bangsaku tak pernah korupsi, tak doyan pungli, tak pernah mengincar istri tetangga, tak suka suap, dan tak kenal uang riba. Tapi, kuakui bangsaku hanya mengajak dan senang melihat manusia yang berlomba-lomba mengerjakan semua itu,” begitu kalimat awal si Kodor memaklumkan dirinya sebagai bangsa setan.&lt;br /&gt;Tiap hari si Kodor menawarkan berita-berita aneh tentang aktivitas setan. Rupanya Kodor kemasukan setan yang bermacam-macam. Minggu kemarin, si Kodor seharian penuh ngomong pakai bahasa Inggris, padahal seisi kampung paham betul kalau si Kodor tak bisa bahasa Inggris.&lt;br /&gt;“There is no God. If you believe to God, i think you are crazy. But God is Porkas. Do you know? You know! You know!” Itu potongaan omongan yang sempat diingat oleh beberapa orang yang kebetulan juga paham bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Barangkali setan intelek yang merasuk ke jiwa si Kodor.&lt;br /&gt;Salah satu di antara mereka ada yang mau marah mendengar kesintingan si Kodor ini. Tapi buru-buru ia sadar. Si Kodor gila. Apalagi ada orang yang tersinggung dan meladeninya, ia juga gila.&lt;br /&gt;Empat hari yang lalu si Kodor membuat sasi gila. Ia meminum sebotol bir, lalu memakan sekali botolnya. Kali ini mungkin setan yang menempeli si Kodor adalah setan primitive yang suka main kuda lumping. Sebab, tidak Cuma makan botol bir yang ia kerjakan, ia terpaksa diamankan karena mulai membuka pakaiannya.&lt;br /&gt;Tapi esoknya masyarakat dibuat senang oleh si Kodor, sepanjang hari ia hanya bersolak dan beraksi merayu gadis ayu. Kata-kata rayuan banyak yang kocak, dan ia pun menyitir beberapa kata mutiara dan pantun. Mungkin setan yang menempeli si Kodor ganti setan playboy.&lt;br /&gt;Esoknya lagi masyarakat dibuat jengkel oleh tingkah laku si Kodor. Rupanya yang menempeli si Kodor kali ini setan jorok. Sepanjang hari ia cuma ngomel barang-barang jorok dan prono. Ia ngomong baru berkenalan dengan Bu Derek, lalu ganti dengan Maryam D’abo, ganti lagi dengan Brooke Shild, Jennifer Beals, Phoebe Cate, Madonna dan dengan beberapa turis dari manca negara di Pantai Kuta Bali. Tapi beberapa pemuda senang juga mendengar omelen yang ngelantur dari mulut si Kodor. Habis ia tidak cukup ngomel ngelantur, tapi dengan peragaan sesekali disertai gerak-gerak pantomim. Si Kodor memang pemain pantomime top di kalangan RW-nya.&lt;br /&gt;Esoknya lagi ulah si Kodor malah kocak. Mungkin yang menempeli ganti setan pelawak. Ia membuat teka-teki kocak, berbahasa kocak intelek ala Radio Suzana.&lt;br /&gt;Kemarin, warga kampung malah heboh, sebab si Kaspar dapat Porkas. Yang membuat heboh lantaran si Kaspar mengaku kalau tebakannya yang jitu berkat kejeliannya menangkap kode yang diberikan si Kodor. Orang lain memang tertawa, jengkel, dan nafsu mendengar omelan si Kodor, tapi tidak demikian dengan si Kaspar. Ia perhatikan omelan demi omelan si Kodor, kemudian ia otak-atik, lalu ia tebakkan Porkas.&lt;br /&gt;Dari pengakuan si Kaspar ini, akibatnya sudah bisa diterka. Masyarakat pecandu Porkas berbondong-bondong mendatangi si Kodor. Dan dalam sekejab, nama si Kodor jadi melambung melebihi orang-orang top di kampungnya. Mungkin juga di kecamatannya.&lt;br /&gt;Orang-orang berjejer menanti omelan si Kodor yang bisa diramesi. Orang-orang masih sabar menunggu keluarnya si Kodor dari dalam rumahnya. Meski sudah satu jam lebih menunggu, namun tanda-tanda ia mau keluar belum juga tampak.&lt;br /&gt;Dan begitu si Kodor keluar, mereka menyiapkan diri untuk menerima kode-kode yang akan tersisip dari omelan si Kodor. Beberapa orang membawa tape recorder segala. Tapi, ternyata mereka dibuat bingung. Rupanya setan yang menempeli si Kodor diganti oleh setan bisu. Hingga si Kodor berlagak persis orang bisu. Dia berbicara dengan bahasa isyarat. Namun demikian, orang-orang yang sudah kecanduan Porkas itu tidak kehabisan akal. Malah gerak-gerik si Kodor yang diramesi. Lha wong namanya gerak-gerik orang gila, tentu saja banyak ragamnya.&lt;br /&gt;Mereka berdebat dan saling adu argumentasi untuk menentukan tebakan yang akurat. Persis ibu-ibu PKK yang mengikuti arisan dan menunggu hasil lotre arisan. Suasana yang setengah ribut itu tiba-tiba diam, mereka bersikap bagai para hamba sahaya menunggu tuannya yang mau keluar. Padahal, itu terjadi karena mereka mendengar si Kodor yang dari tadi bisu tiba-tiba saja tertawa renyah.&lt;br /&gt;“Lha, ini dia setan pengintip Porkas telah mengganti setan gagu yang menempel pada si Kodor,” kata salah seorang memecah kediaman mereka.&lt;br /&gt;“Ya, kita akan ketiban rezeki nomplok,” kata yang lain.&lt;br /&gt;“Ya, kita akan menjadi OKB (orang kaya baru),” kata yang lainnya lagi.&lt;br /&gt;“Ouu, aku akan jadi melamar Sherly,” kata yang lainnya lagi.&lt;br /&gt;“Oho, kampung kita akan gemerlapan.”&lt;br /&gt;“Kalau aku sih untuk beli mobil.”&lt;br /&gt;“Hee, tapi kita jangan lupa untuk pembangunan balai RW.”&lt;br /&gt;“Ah, sudah-sudah! Diam semua! Diam! Kalau ramai terus nanti si Kodor nggak mau mengeluarkan kodenya,” bentak seseorang lain dengan suara yang cukup keras dan wibawa. Kontan suara-suara yang saling tindih tadi tidak berlanjut. Diam. Dan, diam. Cuma ada satu suara, yaitu tawa si Kodor yang semakin melengking ngakak.&lt;br /&gt;Tapi, si Kodor yang ditunggu untuk menyudahi tawanya dan menyusuli dengan kata-kata yang sarat kode masih saja tertawa. Tapi, tawanya kini tidak lagi monoton, melainkan bernada, meliuk-liuk kayak tawa Remy Silado dalam membaca puisi. Barangkali si Kodor ingin membuktikan omongannya minggu kemarin bahwa dia mempunyai hak untuk menggunturkan tawa.&lt;br /&gt;Aneh. Dari pojok kerumunan orang itu ada yang mengikuti tawa Kodor, lalu disusul lainnya, disusul tersu sampai semua orang yang mengerumuni si Kodor mengikuti semua.&lt;br /&gt;Himpunan tawa itu gemuruh membahana, meroket tinggi menembus celah-celah awan. Menggugat raja iblis untuk membocorkan huruf-huruf Porkas yang akan keluar minggu depan.&lt;br /&gt;Gila. Gila. Gila masal terjadi. Tiap jam, tiap menit, dan bahkan tiap detik orang-orang yang gila terus bertambah.&lt;br /&gt;Si Kodor yang menjadi pionernya yang terus-menerus tertawa, tiba-tiba menghentikan tawanya dan berkata lantang, “Siapa, siapa yang mau gila? Ayo! Silakan! Silakan! ”&lt;br /&gt;Rupanya ia menantang kita.&lt;br /&gt;Busyeet!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, Minggu Legi 6 September 1986&lt;br /&gt;Jawa Pos&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-4882452073719488971?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4882452073719488971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4882452073719488971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/busyet.html' title='busyet!'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_busyet.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-4260222379881825573</id><published>2007-08-08T09:18:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T09:40:08.981-07:00</updated><title type='text'>bimbang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/buatlah-coretan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/buatlah-coretan.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adi, kendati masih kelas 2 SMA sudah terkenal jago pacaran. Memang banyak yang menopang dalam hal ini bagi Adi. Postur tubuhnya cukup atletis. Tampangnya boleh dibilang nilai B. Dan lagi lumayan bakatnya dalam study, kendati tak bisa digolongkan genius. Jangan tanya prestasi lainnya. Seolah ia dihadirkan untuk mendatangkan kekaguman bagi teman-temannya. Hebat memang!&lt;br /&gt; Tapi sebenarnya predikat jago pacaran itu hanya orang salah sangka. Adi sendiri biasa-biasa saja. Malah termasuk remaja yang lugu. Apa adanya. Sikapnya yang jauh dari sombong membuat ia gampang bergaul. Dan cewek mana yang tidak bakalan krasan kalau ngobrol atau sekedar makan angin bersamanya, kalau gambaran Adi seperti di atas.&lt;br /&gt; Ah, Adi memang figur top. Top figur. Hampir komplit.&lt;br /&gt; Dia sendiri tidak ingin menyelewengkan anugerah Allah yang berupa wajah tampan dan segudang bakat itu.&lt;br /&gt; Dia ingin wajar saja dalam segalanya. Termasuk dalam masalah pacar. Cukup satu, tidak usah lebih. Dan tak usah mengganggu belajarnya. Apalagi melanggar larangan agama. Tidak. Dia sungguh tahu dosa!&lt;br /&gt; Yang jadi masalah bagi Adi, kebetulan ada dua cewek yang berkenan nyantol di hatinya di antara teman-temannya yang berserakan. Inipun dia ukur dari akhlaknya semata. Keduanya, Atik dan Ririn, sudah sama-sama memberi lampu hijau. Adi tinggal masuk salah satu pintu hati mereka. Sayangnya Adi tak melihat lampu hijau yang menyala redup itu, hingga Adi jadi salah tingkah. Barangkali inilah kekurangan Adi.&lt;br /&gt; Adi membuat dua surat dalam waktu bersamaan untuk kedua gadis itu. Surat rayuan. Dengan harapan salah satu di antara mereka menerimanya dan satunya lagi menolaknya. Adi tak pernah membayangkan kedua mereka akan menerimanya. Maklum dia bukan kategori cowok yang ge-er.&lt;br /&gt; Tiga hari setelah surat itu terkirim Adi tampak sedikit gelisah. Ia sedang menunggu reaksi dari kedua gadis itu dengan harap-harap cemas. Dag dig dug.&lt;br /&gt; Dan kini dengan perasaan yang tetap dag dig dug, bahkan tambah, ia membuka sampul surat dari Atik. Sebelum membacanya ia mengunci pintu kamar terlebih dahulu dan mengambil bantal untuk menekan dadanya yang semakin dag dig dug itu. Kemudian surat ia buka dan ia baca.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Adi yang baik dan kukagumi,&lt;br /&gt;  Tidak kusangka kau yang kuanggap genius dan hebat ternyata kurang teliti dan bahkan sembrono.&lt;br /&gt;  Kau salah memasukkan surat. Surat yang untuk Ririn kau masukkan dalam sampul untukku, hingga maaf, surat Ririn terpaksa kubaca. Dan mungkin kebalikannya surat yang untukku dibaca juga oleh Ririn.&lt;br /&gt;  Lain kali telitilah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh!! Ya, hanya kata-kata ini yang mendesah lirih dari mulut Adi.&lt;br /&gt;Oh….. oh….. oh…&lt;br /&gt;Cinta memang membuat orang pikun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-4260222379881825573?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4260222379881825573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4260222379881825573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/bimbang.html' title='bimbang'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_buatlah-coretan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-4718707091441337541</id><published>2007-08-08T09:17:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T09:41:22.623-07:00</updated><title type='text'>buatlah sekali lagi coretan untukku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/bimbang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/bimbang.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah empat hari Idul Fitri berlalu, masih banyak orang bersilahturahmi, anak-anak kecil masih saja belum mau melepaskan baju barunya. Udin duduk sendirian di ruang tamu, di hadapannya ada sebuah meja dengan ciri khas hari raya. Tiga macam kue dan satu toples kacang di atasnya. Tampaknya sedari tadi Udin tidak ada niatan untuk keluar. Memang hari ini giliran Udin jaga rumah. Keluarganya sedang pergi ke rumah mbahnya Udin. Jelas udin senang menerima giliran ini. Hari raya tahun ini betul-betul telah berhasil mengubur semua kenangan masa silam. Entah sudah berapa genggaman kacang yang habis dimakannya, namun dia masih tenang-tenang saja, tak tampak tanda-tanda mau beranjak dari kursi. Dia berdiri ketika ada tamu memanggilnya. Lalu dia duduk lagi, kiranya tamu itu hanya mengantarkan surat, tidak mau duduk ketika dipersilakan Udin. Dibukanya, ternyata undangan malam halal bihalal. Dibacanya acara demi acara sampai akhirnya pada yang mengundang, ketua dan sekretaris panitia. Kemudian dia menunduk bagai mengingat sesuatu. Dilihat lagi, menunduk lagi. Lalu undangan itu diremas-remas. Di wajahnya kelihatan goresan sedih seperti setengah tahun yang lalu. Undangan yang habis diremas itu dibetulkan lagi, diambilnya bulpen, kemudian nama ketua dan sekretaris panitia diganti dengan namanya sendiri dan nama seorang gadis, Sulistiowati. Kemudian Udin bernostalgia pada masa lalu.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Ketika itu dia sedang menaruh hati pada seorang gadis yang seorganisasi dengannya. Namun perasaannya dipendam saja dalam hati. Sampai akhirnya datang bulan Ramadhan dan ada rapat membahas malam halal bihalal. Saat itulah dia menyusun rencana dengan serapi mungkin. Wati harus kugaet malam ini. Demikian suara hatinya.&lt;br /&gt;Rapat berjalan sebagaimana biasa, pada waktu pembentukan panitia terjadilah apa yang direncanakannya. Teman-temannya memilih dia menjadi ketua dengan suara mutlak atau aklamasi. “Nah, teman-teman ketuanya telah terpilih, sekarang mari kita teruskan memilih sekretaris,” demikian kata pemimpin rapat.&lt;br /&gt;“Karena ketunya laki-laki saya sarankan agar sekretarisnya perempuan, biar sip,” sela Budi dengan suara lantang.&lt;br /&gt;“Kalau begitu baiknya Wati saja, biar ada gunanya dia kursus ngetik,” tambah Mirul dengan mantap.&lt;br /&gt;“Yang lain, apa masih ada calon lain atau secara aklamasi kita terima Sulistiowati sebagai sekretaris yang akan mendampingi Udin?” sambung ketua rapat menawarkan. Kemudian terdengar suara serempak meng-iya-kan. Semua setuju. Setengah jam kemudian susunan panitia telah lengkap.&lt;br /&gt;Hari itu aku pertama duduk berdampingan dengan Wati. Pikiranku tidak pada rencana-rencana halal bihalal, tapi pikirku melayang tak menentu. Kurasakan suatu kebahagiaan yang belum pernah aku jumpai. Kelanjutan rapat itu aku yang memimpin, sehingga jalannya rapat tidak karu-karuan. Yah… selain pikiranku hanya tertuju pada Wati, aku juga baru pertama memimpin rapat. Sebetulnya organisasi kami setiap rapat acak-acakan, tapi tidak sebagaimana yang aku pimpin kali ini.&lt;br /&gt;Begitu rapat bubar aku langsung beli es sama Budi, Mirul dan Hasan. Sambil minum es kami ngobrol kian kemari, sampai akhirnya tentang jalannya rapat.&lt;br /&gt;Mirul :   “Kita telah berhasil.”&lt;br /&gt;Budi :  “Ya, kita telah berperan dengan baik, sehingga teman-teman yang lain tidak ada yang tahu kalau jalannya rapat telah kita atur sebelumnya.”&lt;br /&gt;Udin :   “Aku juga heran, kenapa mereka langsung saja meng-iya-kan, mulut Bari pun jadi tertutup padahal dia biasanya tukang nyanggah dan pemberi saran.”&lt;br /&gt;Hasan :   “Tentu saja karena wajah yang begitu cakep mempunyai kharisma yang besar. Jangankan mulut teman-teman, mulut direktur pun akan tersumbat.”&lt;br /&gt;Budi :   “Din, kerjamu akan mudah, kalau perlu apa-apa suruh Wati yang memerintah, semuanya akan jadi penurut dan beres.”&lt;br /&gt;Aku stop pembicaraan itu sampai di situ, kukeluarkan uang ribuan dan kuberikan pada penjual es. Ternyata masih dikembalikan seratus rupiah.&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya aku selalu sibuk dengan persiapan malam halal bihalal itu. Aku jadi sering bersamanya, dan tak jarang terselip acara pribadi. Aku jadi akrab, senang, bergairah dan semangat.&lt;br /&gt;Sebulan kemudian tibalah saat malam halal bihalal itu. Sukses dan meriah walau sederhana. Tanpa sadar ketika aku menyampaikan prakata panitia aku sampaikan ucapan terima kasih pada Budi cs. yang telah menolongku, untung cepat-cepat aku ralat. Memang menurutku merekalah yang patut menerima ucapan terima kasih dariku pribadi.&lt;br /&gt;Malam halal bihalal itu berlalu dengan meninggalkan kenangan macam-macam pada setiap anggota dan panitia dan aku mempunyai goresan tersendiri. Hari-hari selanjutnya aku tak pernah keluar tanpa Wati dan sebaliknya Wati tak pernah keluar tanpa aku. Tapi sejauh itu aku belum pernah mengatakan cinta padanya, yang jelas kami selalu riang bersama. Hingga datanglah saat naas itu, aku menerima surat darinya, menerangkan dia ke Medan tanpa sempat pamit kepadaku.&lt;br /&gt;Seminggu setelah itu aku dimabuk rindu dan seminggunya lagi aku terheran-heran ketika keluarganya menyusul ke Medan, hal ini juga aku ketahui dari temanku. Yang lebih mengherankan lagi tiada satupun surat yang datang darinya. Juga dari keluarganya. Surat-suratku bagai hilang di padang pasir, tak pernah ada balasan.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Ketika sampai di situ lamunan Budi, dia memandangi lagi undangan itu. Gurat-gurat kesedihan di wajahnya semakin tampak. Dia tersentak ketika mendengar suara sepatu wanita mendekat kepadanya, lalu dipandangnya orang yang mendekat itu dengan tatapan penuh tanya. Bersamaan tatapan matanya pada wajah yang mendekat itu keluar suara dari mulutnya yang hamper-hampir tak terdengar, “Wati!!!” lalu keduanya berjabat tangan. Butir-butir air mata berjatuhan dari keduanya. Seluruh rindunya ditumpahkan dalam getaran jiwa yang tersalur lewat genggaman tangan.&lt;br /&gt;“Udin, maafkan aku telah membiarkanmu dalam tanya yang tiada terjawab.”&lt;br /&gt;“Wati, memang aku selalu mengingatmu, nyatanya Tuhan membatasi rindu kita, kita bertemu lagi.”&lt;br /&gt;“Udin, aku pulang dulu, aku cuma mampir. Aku baru dari Medan dan belum sampai di rumah langsung ke sini.“&lt;br /&gt;“Sebentar Wati, aku baru menerima undangan malam halal bihalal.”&lt;br /&gt;Udin menyerahkan undangan itu pada Wati. Dilihatnya oleh Wati nama panitia yang telah diganti dengan nama Udin dan namanya sendiri. Dia sendiri lalu membuat coretan di balik undangan itu dan menyerahkan kembali undangan itu pada Udin. Lalu bergegas menuju becak. Udin cuma bisa memandang dalam heran sampai becak itu hilang di tikungan jalan.&lt;br /&gt;Seperempat jam kemudian Udin menyusul ke rumah Wati. Sesampai di sana Udin menjumpai kakak Wati yang kelihatan baru datang. Kedapatan sebuah koper di ruang tamu.&lt;br /&gt;“Kak Bambang, Wati mana?”&lt;br /&gt;Kakak Wati kelihatan bingung dan menyilakan Udin duduk di kursi yang sudah setengah tahun tidak dijamah manusia. Tapi Udin tetap berdiri tak sabar.&lt;br /&gt;“Kak Bambang cuma dengan Wati?”&lt;br /&gt;“Sebentar Udin, duduklah! Aku masih lelah.”&lt;br /&gt;Lalu kakak Wati duduk berhadapan dengan Udin. Kelihatan sangat gugup dan tak berani menatap wajah Udin. Keheranan Udin bertambah menjadi-jadi. “Begini Udin, sebelumnya kami sekeluarga minta maaf, lebih dari setengah tahun tak memberi kabar kepadamu dan aku ke sini sendirian tidak bersama Wati.”&lt;br /&gt;“Kak Bambang, Wati baru saja ke rumah, tapi dia keburu pulang, katanya baru pulang dari Medan.”&lt;br /&gt;“Udin, kau sungguhan?”&lt;br /&gt;“Ya, kak Bambang, malahan dia membuat coretan pada undangan ini.” Udin menyerahkan undangan halal bihalal itu pada kak Bambang. Dia mengenal betul bahwa tulisan itu tulisan Wati yang membentuk kalimat, “Udin, kau adalah orang yang pertama dan yang terakhir yang aku cintai.”&lt;br /&gt;“Begini Udin sebetulnya Wati telah meninggal dunia setengah tahun yang lalu. Ketika dia baru saja sampai di Medan dia mendapat kecelakaan. Lalu kami mendapat telegram dan keburu ke sana tanpa sempat memberitahukanmu. Kemudian kami sekeluarga membuat keputusan tak akan memberitahu kepadamu, malah kami berjanji tidak akan kemari lagi, agar kau tetap tidak tahu. Oleh karenanya surat-suratmu tiada yang kami balas, maafkan kami. Tapi sekarang terpaksa, kami di sana mendapat kesulitan ekonomi dan kedatanganku untuk menjual rumah ini.”&lt;br /&gt;Udin mendengar hal ini merasakan seolah-olah dunia ini terbalik dan dia diam seribu bahasa, lalu dengan bibir gemetar permisi pada kakak Wati.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Wati, hari raya yang dulu kita tandai dengan awal keakraban kita dan yang sekarang kau menyatakan cinta kepadaku. Betapa besar cintamu kepadaku, hingga Tuhan mengijinkan kepadamu untuk membuat coretan yang menerangkan cintamu kepadaku. Mestinya gembiraku berlipat ganda, namun sayang mulai saat ini aku dapat kepastian bahwa kau tak akan kembali lagi kepadaku. Kau telah pulang ke rahmatullah dan dalam ketenangan abadi. Dan aku suatu saat pasti menyusulmu.&lt;br /&gt;Udin membaca lagi coretan Wati, “Udin, kau adalah orang yang pertama dan terakhir yang kucintai.”&lt;br /&gt;Wati, kenapa takdir atas kita demikian, kita dipisah oleh suatu kebijaksanaan Tuhan. Kau telah mencintaiku sehidup semati, cintaku juga demikian kepadamu, Wati. Tapi harapanku telah bubar bagai tepung segenggam di lempar ke udara. Kau datang di saat rinduku tak tertahankan, dan kau beri kepastian, kau cinta kepadaku dengan ikhlas, tapi kau beri juga aku kepastian tentang perpisahan kita. Aku dapat membayangkan betapa besarnya cintamu kepadaku, hingga Tuhan memberi ijin kau datang kepadaku untuk membuat coretan, namun sayang coretan itu terlalu pendek. Aku ingin kau membuat kesan dan pesan kepadaku, hingga aku tidak terombang-ambing oleh perasaanku. Wati, buatlah coretan lagi yang lebih panjang, datanglah sekali lagi, setelah itu kembalilah ke alammu yang tenang. Jangan kau tunggu hari raya tahun depan atau menunggu datangnya halal bihalal lagi. Wait, datanglah!&lt;br /&gt;“Udin, aku datang.”&lt;br /&gt;“Wati…”&lt;br /&gt;“Udin, aku akan membuat coretan yang panjang.”&lt;br /&gt;Udin bingung, mengawasi Wati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aneh, kaki Wati menginjak lantai.&lt;br /&gt;“Udin, kau jangan bingung, aku masih hidup, hidup seperti kau. Lihat kakiku bersepatu dan menginjak lantai. Aku tidak berbau kemenyan atau dupa atau kembang.”&lt;br /&gt;“Wati, mimpikah aku?”&lt;br /&gt;“Tidak! Aku telah bersandiwara, dan ternyata sandiwaraku untuk mendekat kepadamu masih berhasil yang aku perankan bersama kak Bambang. Udin, kita adalah actor dan aktris terbaik dalam penilaian dewa Amor. Kita akan datang pada malam halal bihalal bersama-sama.” &lt;br /&gt;Kemudian keduanya berjabatan tangan dalam perasaan masing-masing dan di atas langit semakin cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-4718707091441337541?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4718707091441337541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4718707091441337541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/buatlah-sekali-lagi-coretan-untukku.html' title='buatlah sekali lagi coretan untukku'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_bimbang.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-4280430845273838450</id><published>2007-08-07T08:38:00.000-07:00</published><updated>2007-08-15T09:43:11.335-07:00</updated><title type='text'>baling-baling kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/baling-kehidupan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/baling-kehidupan.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Badrun memperlambat langkahnya. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia mengulang pertimbangan yang baru saja ia putuskan sendiri. Ya sendiri. Ada memang baku tanya, tapi itu terjadi antara hati kecilnya sendiri. Sementara wanita yang ia kuntit di jalan yang lengang itu semakin jauh.&lt;br /&gt;Sosok Badrun kini diuji. Dalam baku tanya tadi ia sudah nekad konsekuensi puncak pun akan ditanggungnya. Ia akan meninggalkan segala nasihat yang pernah ia terima dan ia anggap membelenggu dirinya. Tapi hal ini sebetulnya sudah mulai terjadi sejak dia dua bulan menjadi penghuni Surabaya. Mula-mula ia tidak disiplin dalam sholat, kemudian ia meninggalkan sama sekali, kemudian ia tak pernah menjamah Al-Quran, kemudian ia berkenalan dengan minuman keras, kemudian terus merasuk ke larangan Tuhan yang lain. Hanya satu yang belum pernah ia perbuat yaitu tindak kriminal. Ya Badrun telah berubah. Ia tidak tahan bantingan dan begitu saja hanyut di air keruh. Ia tidak lagi sebagai Badrun yang penuh sopan santun dan tekun beribadah.&lt;br /&gt;Satu langkah lagi Badrun menambah poin ia akan menjadi berandal utuh. Dan kini Badrun akan melaksanakannya. Ya sebentar lagi Badrun akan menjadi utuh. Seratus persen telah berubah.&lt;br /&gt;Tapi sebetulnya Badrun tidak akan menjadi berandal yang utuh. Sebab sampai kini setiap ia berbuat dosa ia selalu dibayang-bayangi oleh fatwa guru mengajinya dan nasihat emaknya. Dan barangkali mereka berdua sekarang sedang berdoa untuk keselamatan Badrun.&lt;br /&gt;Yang aneh rencana nekad Badrun berawal dari keinginannya untuk pulang. Untuk jumpa dan menggembirakan mereka, terutama emaknya. Wajah tua yang selalu tabah dalam menghadapi alur hidupnya yang penuh tanjakan-tanjakan kepedihan dan penderitaan.&lt;br /&gt;“Ah, persetan dengan semua pertimbangan, yang penting aku dapat uang, pulang dan membuat emak gembira. Apa kata orang kalau aku pulang seperti gelandangan. Sedang untuk menundanya aku tak mampu, rinduku sudah menyentak-nyentak.”&lt;br /&gt;Begiru tekad Badrun kembali berputar di benaknya. Maklum sudah dua kali lebaran ia tidak pulang.&lt;br /&gt;Badrun mempercepat langkahnya lagi. Bahkan agak keburu. Begitu jarak Badrun dengan wanita yang dikuntitnya kira-kira tinggal 10 meter lagi ia ulangi membaca situasi dan kondisi di jalan yang lengang itu. Cukup aman. Sepi. Ia lebih bergegas, tetapi tiba-tiba saja darahnya terkesiap. Sekujur tubuhnya gemetar bagai peragawati yang baru tampil perdana terserang demam panggung. Ia berusaha mengatasi, ditariknya napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gemetar. Tapi tak berhasil, malah muncul bayangan ibunya yang menuding-nuding dan berkata, “Kalau kau lakukan kau bukan anakku…”&lt;br /&gt;Badrun menghentikan langkahnya. Sama sekali. Menepi, lalu bersandar di pagar. Ah, diriku memang tak berbekal apa-apa. Katanya menyesali diri.&lt;br /&gt;Biarlah aku pulang pada lebaran seperti pada saat aku berangkat, yang penting aku bisa sungkem dan menumpahkan rinduku pada emak. Untuk apa aku lari dari kenyataan.&lt;br /&gt;Penyesalan itu kini menyergap Badrun, merambati hati putihnya. Deretan dosa yang pernah ia perbuat satu persatu hadir kembali dalam bayangannya sampai yang terakhir pada bulan Ramadhan ini. Ya... ia belum pernah puasa sampai bulan Ramadhan menjelang akhir.&lt;br /&gt;Aku harus segera pulang. Harus! Dan tak akan meninggalkan emak lagi. Kasihan kalau pada sisa-sisa umurnya ia hidup sendirian. Tanganku masih muda dan kuat. Nafkah bisa kucari di seputar desaku.&lt;br /&gt;Badrun melihat lengannya. Yah... tampak masih kokoh. Bahkan lebih kokoh daripada sebelum ia meninggalkan desanya. Maklum ia telah menjadi kuli pelabuhan tiga bulan terakhir ini.&lt;br /&gt;Mata Badrun mengikuti kembali pada wanita yang tadi dikunititnya. Sudah jauh dan hampir sampai di tikungan. “Ah, kau ditakdir Allah selamat. Aku juga. Terima kasih Tuhan...”&lt;br /&gt;Ia meneruskan langkahnya kembali. Searah dengan wanita yang dikuntitnya tadi. Langkahnya tenang dan tak ada getar-getar tegang. Sayub-sayub ia mendengar suara orang tadarus. Kesadaran Badrun kini telah utuh dan ada yang mendadak menggelitik hatinya. Ia ingin nimbrung ke orang-orang yang lagi tadarus, ikut bersama mereka mengalunkan firman-firman Tuhan. Firman yang apabila dibaca akan mendatangkan ketentraman hakiki.&lt;br /&gt;Tiga tahun aku tidak menyentuh Al-Quran. Apakah aku masih bisa mengenal huruf-hurufnya. Oh... demikian laknat aku. Bagaimana aku bisa mendapatkan hidayah kalau pegangan yang harus kugenggam erat malah kutinggalkan. Baik malam ini juga akan kutumpahkan rinduku padamu.&lt;br /&gt;Tapi niat Badrun yang menggebu-gebu untuk nimbrung pada orang yang lagi tadarus itu segera mengendor manakala ia menyadari pakaiannya yang lusuh bak gelandangan. Lalu ia memutuskan untuk mendengar saja. Bukankah mendengarkan Al-Quran yang sedang dibaca akan mendapat pahala sama dengan yang membacanya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba keinginan dan keragu-raguan Badrun menjadi terganggu oleh teriakan orang yang susul menyusul ramai dari arah ujung jalan. Dalam keremangan lampu samar-samar ia melihat dua orang yang sedang lari dan di belakang mereka beberapa orang mengejarnya. Spontanitas Badrun mengatakan pasti terjadi penjambretan.&lt;br /&gt;Badrun menghadang. Karakter aslinya yang suka menolong orang timbul. Dalam hal begini ia memang tak pernah gentar. Dan begitu jarak sergap sudah cukup ia langsung menyergap orang yang terdepan. Tak ayal orang itu terjerembab dengan cukup keras, namun pada saat yang hampir bersamaan ada benda panjang berkelebat ke arah kepalanya. Badrun sempoyongan lalu jatuh. Kejadian berikutnya ia tidak tahu sama sekali.&lt;br /&gt;Beberapa orang segera meringkus orang yang disergap Badrun, beberapa orang lagi menolong Badrun dan sebagian besar mereka mengejar kawanan jambret yang berhasil memukul Badrun. Sisanya acuh tak acuh atas kejadian itu. Mereka cuma menonton. Malah ada yang berkomentar sumbang, “Salah sendiri menolong orang nggak memperhitungkan keselamatan sendiri…”&lt;br /&gt;Ketika siuman Badrun merasakan kepalanya sangat pening dan perutnya terasa mual. Samar-samar ia menjumpai sekelilingnya tembok bercat putih dan peralatan medis saling silang.&lt;br /&gt;Ia belum mampu mengingat kejadian sebelumnya dan ketika pening di kepalanya semakin bertambah ia mengatupkan matanya. Kemudian ia tertidur. Ah, tidak, ia pingsan lagi. Kejadian begini terulang beberapa kali.&lt;br /&gt;Pagi ini ia sadar kembali. Matanya mulai mampu menangkap tembok yang bercat putih, lalu mengenali peralatan medis di seputarnya. Selang infus yang masuk lewat lubang hidungnya ia pegang. Perlahan ia menoleh tatkala ada tangan yang memegang tangannya. Kiranya seorang suster yang khawatir ia akan mencabut selang yang masuk hidungnya. Sang suster hanya membalas dengan senyum ramah. Badrun hanya samar-samar menangkap sosok itu. Kemudian ia meraba kepalanya yang dirasa pening dan menemui balutan tebal.&lt;br /&gt;“Suster, apa yang terjadi pada diriku?” tanya Badrun dengan suara lemah.&lt;br /&gt;“Tenanglah, jangan banyak bicara…” jawab suster tetap ramah.&lt;br /&gt;Badrun menurut. Ia diam. Tapi pikirannya mencoba meraba apa yang terjadi pada dirinya. Ia tak menemukan apa-apa. Hanya sebersit rindu melintas di benaknya.&lt;br /&gt;“Saudara, jangan memikirkan apa-apa. Ketenangan Saudara akan membantu kesembuhan Saudara…” kata suster setelah melihat Badrun seperti sedang berpikir.&lt;br /&gt;Badrun mencoba menuruti perintah suster untuk mengosongkan otaknya. Tapi tiba-tiba ia menemukan sesuatu. Bayangan ibunya tergambar jelas. Ya… sebersit rindu itu untuk emaknya. Lama-kelamaan bayangan emaknya semakin tampak kuat menjadikan ia tak mampu mengosongkan otaknya. Kini bayangan itu ditimpali oleh ingatannya yang lain. Ya ia ingat kalau lebaran ini ia ingin pulang. Ingin menumpahkan rindu pada emak dan kampung halamannya.&lt;br /&gt;Ia menoleh pada suster yang setia menjaganya itu. Pandangannya bertatap. Ia menangkap rasa iba di sorot mata suster itu. &lt;br /&gt;     “Suster, apakah saya bisa lebaran di kampung?” tanya Badrun dengan nada pesimis.&lt;br /&gt;Suster itu hanya diam. Tak mampu ia menjawab, “Ah, kasihan kau, kau tak tahu kalau kau tak sadarkan diri selama satu bulan lebih...” kata-kata itupun hanya terlontar dalam hati.&lt;br /&gt;“Badrun, lebaran kurang sebelas bulan lagi!” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 22 Juni 1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-4280430845273838450?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4280430845273838450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/4280430845273838450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/baling-baling-kehidupan.html' title='baling-baling kehidupan'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pyungshera%20blog/th_baling-kehidupan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5942538206697780373.post-2895537736038457495</id><published>2007-08-07T08:26:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T05:00:16.706-07:00</updated><title type='text'>akhir sebuah cerpen</title><content type='html'>Kapal ferry “Joko Tole” mulai meninggalkan dermaga Tanjung Perak. Herman memilih tempat duduk menghadap ke samping kanan. Tas punggung yang berisi pakaian dan tustel ia letakkan di sisi kiri dan sekaligus ia jadikan untuk sandaran tangan.&lt;br /&gt;Sementara angin membelai jalang rambut para penumpang dan membenturkan ombak ke lambung kapal, mata Herman melihat bangkai kapal dalam posisi miring di kejauhan. Sejenak ia ingat nasib kapal Tempo Mas II. Tapi ingatan itu segera bubar, ketika matanya menatap gadis yang berdiri di tepi dek. Gadis itu sedang asyik menikmati ombak laut. Sepintas Herman ragu. Kayak Marissa Haque? Ia telusuri dengan teliti gadis itu, barulah ia yakin kalau gadis itu bukan Marissa. Memang mirip, tapi postur tubuhnya lebih kecil sedikit.&lt;br /&gt;Rasa usil Herman timbul. Ia mengambil tustelnya, lalu jeprat-jepret empat kali pada gadis itu. Sungguh suatu obyek yang artistik, gadis cakep dalam posisi setengah miring dengan rambut sebahu dipermainkan angin, di latar belakangi alunan ombak dan bangkai kapal di kejauhan. Tapi sialnya pada kali yang keempat itu yang dijadikan obyek mengetahui kalau Herman mengambil gambarnya.&lt;br /&gt;“Hei, ijin dulu dong, kalau mau ambil gambar orang lain…” begitu tegur gadis itu. Herman kelabakan tak menjawab. Beberapa orang jadi mengawasinya.&lt;br /&gt;“Memang nggak ada obyek lain ya?” lanjut gadis itu.&lt;br /&gt;“Kurang menarik…” jawab Herman ogah-ogahan, lalu mendekat pada gadis itu. “Sebetulnya aku tertarik dengan bangkai kapal itu, tapi jaraknya terlalu jauh. Aku tidak membawa telelens…” Herman menunjuk pada bangkai kapal yang dimaksud dan diikuti oleh pandangan gadis itu.&lt;br /&gt;Beberapa saat Herman dan gadis itu memandang bangkai kapal dengan pikiran masing-masing membayangkan mula-mula tenggelamnya kapal tersebut. Tapi pandangan mereka segera tertutup oleh ferry yang datang dari dermaga Kamal ke Tanjung Perak, beberapa detik.&lt;br /&gt;Herman kembali menoleh ke gadis itu dan kebetulan sang gadis pun menoleh juga pada Herman.&lt;br /&gt;“Kau sendiri?” tanya Herman.&lt;br /&gt;“Ya, sebagaimana kau lihat…”&lt;br /&gt;“Mau ke mana?”&lt;br /&gt;“Ke Madura…”&lt;br /&gt;“Maksudku… Madura mana?”&lt;br /&gt;“Memangnya Madura ada berapa?”&lt;br /&gt;Herman diam, tidak tanya lagi. Ngedongkol, tapi senang juga karena ada respon.&lt;br /&gt;“Boleh aku kenal?” tanya Herman setelah dirasa agak kaku.&lt;br /&gt;“Panggillah aku Nuning. Dan kau siapa?” jawab dan Tanya gadis itu tanpa menyodorkan tangannya.&lt;br /&gt;“Herman…”&lt;br /&gt;Sebentar kemudian mereka jadi akrab. Ngobrol terus dan saling tanya. Ternyata Nuning bertujuan ke Sumenep dan memang rumahnya di Sumenep. Herman juga terlanjur mengatakan bahwa tujuannya Sumenep, yang semestinya ia bermaksud ke rumah pamannya di Sampang.&lt;br /&gt;Ketika “Joko Tole” yang mereka tumpangi merapat di dermaga Kamal, jam tangan Herman menunjukkan pukul 11.00. Mereka turun dan Herman membantu membawakan tas besar Nuning, sedang tas milik Herman dibawakan Nuning. Lalu mereka pindah naik colt jurusan Sumenep.&lt;br /&gt;Herman tiba-tiba saja merasakan perjalanan ini sangat menyenangkan. Sama sekali ia tak menyesali keterlanjurannya mengatakan sama-sama ke Sumenep. Sebagai kompensasi memang boleh juga perjalanan ini. Bukankah baru saja ia putus dengan Tuti.&lt;br /&gt;Herman tambah senang ketika Nuning ternyata dapat menceritakan adat istiadat orang Madura dengan baik dan segala perayaan tradisional, baik yang sekarang masih dilaksanakan atau yang sama sekali telah ditinggalkan. Lebih-lebih masalah karapan sapi yang menarik.&lt;br /&gt;“Nuning, kau anak daerah yang baik. Profil seorang gadis yang sempurna…”&lt;br /&gt;“Dan kau adalah turis yang bloon…”&lt;br /&gt;“Yah, memfoto seseorang tanpa ijin lebih dulu…”&lt;br /&gt;“Tidak cuma itu. Masak proses pembuatan garam kau tanyakan. Kenapa tidak sekalian cara menanam tembakau dan menangkap ikan?”&lt;br /&gt;“Maaf kalau aku terlalu ceriwis. Tapi terus terang baru pertama ini aku ke Madura, dan lagi segala yang kutanyakan aku memang tidak tahu,” bela Herman sedikit terpojok, tapi segera ia melanjutkan, “Okelah, sekarang kau yang bertanya tentang daerahku!”&lt;br /&gt;“Nah, begitu baru adil...”&lt;br /&gt;Belum sempat Nuning bertanya colt yang mereka tumpangi berhenti. Ada tiga orang penumpang yang turun. Tapi bersamaan itu pula lima orang mau naik. Herman berharap salah seorang dari mereka duduk di belakang, biar dirinya bisa lebih rapat lagi dengan Nuning. Dan apa yang diharapkan oleh Herman menjadi kenyataan. Ah, dasar nasib lagi mujur. Begitu desahnya.&lt;br /&gt;Colt berjalan kembali. Tancap gas lagi.&lt;br /&gt;“Ayo, tanyalah!” pinta Herman.&lt;br /&gt;“Aku memang ingin tanya masalah kotamu, bagaimana asal mulanya kok bernama Malang?”&lt;br /&gt;“Oh, itu ceritanya panjang. Kali lain akan kuceritakan lewat surat. Sungguh, aku janji. Kini tanyalah masalah lain…”&lt;br /&gt;“Kita baru sampai di Bangkalan, Sumenep masih kurang sembilan puluh kilo lagi…”&lt;br /&gt;“Tapi, kuharap kau tanya yang lain…”&lt;br /&gt;“Baiklah, kualihkan. Kenapa becak Malang potongannya pendek dan tempat duduknya sempit?”&lt;br /&gt;Lagi-lagi Herman dibuat gelagapan oleh pertanyaan Nuning. Dirasa Nuning menyindir dirinya yang duduk terlalu rapat dengannya. Akhirnya Herman menjawab sekenanya. Ia terangkan tempat duduk becak Malang dibuat sempit biar tampak romantis apabila yang naik sedang pacaran. Dan dibuat pendek, kalau yang naik pakai kebaya biar tidak terlalu sulit.&lt;br /&gt;Senang juga Nuning mendengar jawaban Herman. Kendati ngawur, tapi berbau humor dan mengena. Akhirnya Nuning tak jadi melanjutkan pertanyaan, pembicaraan beralih pada hal-hal yang bersifat humor dan teka-teki yang mengundang tawa.&lt;br /&gt;Colt memasuki kota Sampang. Herman ingat, bahwa dirinya mestinya turun di sini. Tapi apa boleh dikata sudah terlanjur ngomong turun di Sumenep dan juga terlanjur dirinya terpaut pada Nuning.&lt;br /&gt;“Ada yang turun?” tanya kernet. Ternyata seluruh penumpang diam saja, dan sopir pun tetap tancap gas.&lt;br /&gt;Colt terus melaju melewati Pamekasan, dan sampai pula di perbatasan Pamekasan-Sumenep. Herman mulai pikir-pikir. Setelah turun nanti mau ke mana aku. Apakah langsung kembali atau putar-putar dulu di Sumenep. Ah, kalau saja Nuning menyilakan aku singgah dulu di rumahnya, pasti tak akan kutolak. Begitu otaknya pusing-pusing tak menemui titik jawab. Sementara itu pula Nuning tak mau mengusiknya. Herman yang sedang berpikir dikira terlalu lelah, hingga mereka tampak membisu.&lt;br /&gt;“Herman, kau turun mana?” tanya Nuning setelah colt masuk kota Sumenep.&lt;br /&gt;“Terminal…”&lt;br /&gt;“Aku turun di perempatan depan. Kalau ada waktu silakan main-main ke rumahku, jalan Kartini, depannya ada kios jamu Air Mancur...”&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan ada. Aku senang berkenalan denganmu…”&lt;br /&gt;“Kiri!” teriak Nuning. Kemudian ia turun. Herman mengawasi sampai colt berangkat lagi. Tiba-tiba saja ia merasakan kekonyolannya, bahwa dirinya bloon seperti yang dikata Nuning tadi. Ia ingat kalau pamannya mengharapkan kehadirannya sebelum jam 14.00. Dan kini jam tangannya telah menunjukkan pukul 15.00.&lt;br /&gt;Tiba di terminal Herman turun. Beberapa tukang becak menawarkan jasa untuk mengantarnya. Herman hanya menggelengkan kepala dan bingung.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Nah, cerpen yang sedang kutulis sampai di situ. Ideku macet, tak bisa meneruskan. Bagaimana pendapatmu?” tanya Tono pada Roni yang dari tadi mendengar ceritanya. Dan Roni tampak mengerutkan dahi tidak langsung menjawab.&lt;br /&gt;“Umpama Herman dibuat ketemu temannya di Sumenep, lalu disuruh mampir ke rumahnya dan Herman setuju. Kemudian ternyata temannya itu adalah kakak dari Nuning, bagaimana?” mendengar gagasan Tono ini Roni cuma manggut-manggut.&lt;br /&gt;“Ayo, bagaimana menurutmu?” desak Tono.&lt;br /&gt;“Terlalu banyak cerpen yang alurnya didukung faktor kebetulan. Tulisanmu akan tampak monoton, masak tokoh Herman senang dan jaya terus?” begitu sanggah Roni.&lt;br /&gt;“Menurutmu…?”&lt;br /&gt;“Terus terang aku jengkel melihat tokoh Herman. Gampang terpengaruh dan melenceng pendiriannya. Kau tahu berapa jarak antara Sampang-Sumenep?”&lt;br /&gt;“Terus bagaimana?”&lt;br /&gt;“Buat saja Herman akhirnya mendapat kecelakaan di Sumenep. Ini klop sebagai ganjaran orang yang suka melenceng…”&lt;br /&gt;“Kau kok jadi sentimen sama tokoh Herman?”&lt;br /&gt;“Aku memang tidak simpati dengannya…”&lt;br /&gt; “Ini kan fiktif, kenapa kau jadi cengeng?”&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah, terserah kau yang menulis. Pokoknya kalau pendapatku jangan dibuat happy ending...” setelah berkata begitu Roni bergegas meninggalkan Tono yang masih diliputi keheranan melihat sikapnya.&lt;br /&gt;Tono mau beranjak dari tempat duduknya. Namun tiba-tiba matanya melihat sebuah dompet di kursi yang tadi diduduki Roni. Ia pungut dompet itu, lali timbul niat untuk membuka dan meneliti isinya. Ia temukan uang ribuan sebanyak tiga lembar dan selembar foto gadis cakep setengah badan ukuran empat kali enam. Ia ambil foto itu dari tempatnya, lalu ia amati sejenak, kemudian ia balik. Dan ia jumpai tulisan yang cukup jelas di balik foto itu.&lt;br /&gt;“Nuning, Jalan Kartini 43A Sumenep”&lt;br /&gt;Tono mematung penuh keheranan dan baru mengerti akan sikap Roni. Oh, aku telah menyakiti hati sahabatku, keluh Tono sembari memasukkan foto itu ke asalnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Esoknya sebelum jam pelajaran dimulai mereka ketemu di kelas.&lt;br /&gt;“Bagaimana, Ton?” Tanya Roni.&lt;br /&gt;“Kuakhiri dengan memasukkan cerpen yang belum selesai itu ke tong sampah, setelah terlebih dulu kurobek-robek menjadi kepingan-kepingan kecil…”&lt;br /&gt;Roni terperangah. Mematung.&lt;br /&gt;“Maaf sama sekali aku tak sengaja...” tambah Tono sembari memberikan dompet Roni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 20 September 1983&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5942538206697780373-2895537736038457495?l=pyungshera.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2895537736038457495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5942538206697780373/posts/default/2895537736038457495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pyungshera.blogspot.com/2007/08/akhir-sebuah-cerpen.html' title='akhir sebuah cerpen'/><author><name>Pyung Shera (Senior)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09541243529253074549</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://i69.photobucket.com/albums/i69/fabelkaca/pictures%20fs/fv-cangkir.jpg'/></author></entry></feed>
